(021) 546343778

Suka Duka Menjadi Sosok Ibu Asrama Tangguh

Asrama
WhatsApp Image 2017-06-07 at 19.45.30

Umi, biasa anak-anak asrama Sahabat Yatim Sepinggan ini memanggilnya. Umi Nur Jannah, wanita kelahiran Solo, 8 Desember 1967 ini tak menyangka akan mengurus anak yatim di Sepinggan, Balikpapan. Membersamai Sahabat Yatim dari 2009, Umi Nur Jannah pernah menjadi kepala asrama di Bekasi selama tiga bulan.

Sebelum mengabdi di Sahabat Yatim, Umi adalah pekerja keras. Bayangkan, ia dan suami harus menghidupi delapan anak-anaknya. Berbagai cara dilakukan, mulai dari berdagang pakaian, kue, dan lain-lain di samping aktivitasnya di dunia sosial.

Umi memang sudah mengenal dunia sosial sejak lama, mulai dari menjadi ketua majelis taklim di Tajur, menjadi anggota ibu-ibu PKK dan kegiatan sosial lainnya. Sampai akhirnya Umi ditugaskan ke Sepinggan tahun 2013 oleh pendiri Sahabat Yatim Bapak Kumara.

“Pertama ditugaskan memang berat. Tapi alhamdulillah sekarang sudah betah dan nyaman di sini,”ujar Umi.

Memang bukan perkara mudah meninggalkan anak-anaknya untuk mengurus anak yatim di Sepinggan. Umi harus meninggalkan mereka sejak tahun 2013 hingga sekarang. Tapi, menurut Umi, komunikasi tetap terjaga dengan banyaknya media mulai dari telepon hingga video call.

“Saya bawa dua anak saya yang SMK dan yang paling kecil kelas empat SD ke Sepinggan,”ungkap Umi.

Menjadi ibu asuh untuk anak yatim adalah keberkahan bagi seorang umi Nur Jannah.Keberkahan yang menurutnya tak bisa dihitung materi sekalipun. Siapa menyangka Allah memudahkan ia menyekolahkan ke delapan anaknya. Tiga orang anaknya mendapatkan beasiswa kuliah beserta uang sakunya.

“Masya Allah, berkah sekali mengurus anak yatim ini,”kata dia.

Di Sepinggan sendiri terdapat 13 anak yatim mukim dan 200 anak non mukim. Selain bersekolah umum, di asrama, anak-anak juga difasilitasi guru les umum, bahasa inggris dan guru mengaji. Di Ramadhan kali ini juga anak-anak diwajibkan untuk mengkhatamkan AlQuran.

“Kalau nggak khatam, nggak saya izinin pulang kampung,”ujarnya seraya tertawa.

Terbukti ancaman yang baik ini cukup jitu. Beberapa anak bahkan khatam Alquran hanya dalam waktu dua hari. Umi memang menanamkan kedisiplinan kepada anak-anak asrama. Terkadang, ia memberi ketegasan jika ada anak yang malas belajar, malas piket bahkan malas makan.

“Kadang saya marahi, kalau mereka malas belajar, malas piket, terlebih kalau malas makan. Tapi kan marah ini tanda sayang, seperti anak sendiri. Kalau didiamkan mereka mau jadi apa?,”ungkap Umi.

Umi berharap, anak-anak asuh nantinya menjadi anak yang sukses yang juga soleh. Yang terpenting adalah menjadi anak yang berakhlak baik. Karena dengan akhlak yang baik, Allah akan memudahkan langkah-langkah mereka.

“Saya juga selalu menanamkan agar mereka selalu disiplin, tanggung jawab, dan jujur,”ujar Umi.

Umi akan pulang kampung menemui sanak saudara setelah beberapa tahun tidak pulang. Umi pun ingin bertemu dengan ayahnya yang sudah lama terkena stroke. “Nanti lebaran pulang, ingin menyenangkan hati orang tua yang sudah lama tidak bertemu cucu,”ujarnya.