(021) 546343778

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

JELAJAH
AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI Tak jauh dari danau penyangga kehidupan masyarakat Banten Lama ini, kami juga masih bisa menemui bangunan fisik pengindelan abang dan pengindelan putih. Keduanya berada dalam satu garis lurus, dengan Tasik Ardi dan Istana Surosowan. Seperti diungkap Obay, di bawah ladang persawahan terdapat pipa terakota yang menghubungkan kedua itu. Kedua pengindelan berfungsi sebagai kontrol pengaliran dan pembersihan air sebelum dipasok ke kolam keraton.

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

Pengindelan abang digunakan untuk menyaring air yang masih keruh dari Tasik Ardi. Kemungkinan besar masih mengandung lumpur. Dan atau bendungan pertama akan menyaringnya dulu. Sedang pengindelan putih menjadi penyaring tahap kedua,” tambah Mulangkara. “sampai di Istana Surosowan, dikumpulkan dalam pengindelan emas, air sudah bisa digunakan untuk sarana mandi, cuci dan minum.” Obay juga memberi penjelasan senada penuturan Mulangkara, sembari menambahkan bahwa air yang mengalir dari danau Tasik Ardi atau water reservoir tadi tidakan tercampur dengan air kanal yang menjadi sarana transportasi- karena memiliki jalur terpisah.

Bila keberadaan air tawar pada telaga dan kanal masih meninggalkan jejak di kota baten, Lama, pelabuhan Karang Hantu juga menyisakan sepenggal cerita- Gubernur Belanda Jan Pieterzoon Coen-sebagaimana diungkap dalam buku Mengenal Peninggalan Sejarah & Purbakala Rota Banten Lama oleh Uka Tjandrasasmita, Hasan M. Ambary dan Halwany Michrob, terbitan Direktorat Perlindungan dan Pembinaan Peninggalan Sejarah dan Purbakala membuat catatan menyoal 6 perahu China yang membawa barang dagangan senilai 3000.000 real. Sebuah petunjuk bahwa bandar laut ini dikenal di mancanegara serta diminati para saudagar luar negeri.

Masih dari buku yang sama, dituturkan bahwa Tome Pires. pakar obat-obatan dari Portugal yang berkelana ke Asia Tenggara kurun 1512 1515, bertandang ke Banten pada tahun 1513. Ia menyebut bandar laut Karang Hantu merupakan pelabuhan nomor dua dari kerajaan Sunda, setelah pelabuhan terbesar di Batavia yang bernama Sunda Kelapa.

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

Sayang, di masa sekarang pelabuhan Karang Hantu menjadi sebuah bandar laut nyaris terlupakan. Hal mengenaskan ini bukan persoalan milik Banten Lama semata. Penulis menyaksikan hal serupa di Hoi An, sebuah kota penyandang predikat Kota Warisan Dunia UNESCO di Vietnam (baca Nationcl Geographic Trayeler vol l, to 7, 2009  oleh penulis sama). Di masa silam, bandar laut Hoi An memiliki reputasi internasional. Lalu ‘tenggelam’ beberapa abad kemudian, akibat pendangkalan muara sungai. Karang hantu memiliki nasib serupa. “Dari kelas dunia menjadi pelabuhan interinsulair saja komentar Obay. “Padahal nama pelabuhan Banten Lama tercatat dalam Jalur Sutra (the Silknoa}. Sebuah fakta yang membanggakan, tambah Obay’

Salah satu bukti bahwa massa air dalam ini adalah lautan-juga berperan atas kehidupan sosial masyarakat Banten
Lama, menurut Obay adalah temuan pemukiman di sekitar Keraton Surosowan. Yaitu Kampung Koja atau Pekojan, Kampung Arab, Persia; India serta kawasan Mesjid Pacinan Tinggi dan Kampung Pamarican yang dihuni etnis Tionghoa. “Kedatangan cikal-bakal para penghuni kampung-kampung multi etnis

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

Banten Lama itu berawal dari kapal-kapal saudagar mancanegara yang bersandar di bandar laut Karang Hantu.” Soal pendangkalan bandar laut juga disebutkan Mulangkara, yang masih bisa mengingat; tahun 1980 ia menyaksikan kapal cukup besar lego jangkar di sini. Sedang Uchi, pria Sunda yang telah bermukim 3O tahun dekat pelabuhan Karang Hantu juga berpendapat serupa.

“Kali di depan ini sekarang dinamai Kali Buntu, karena mengalami pendangkalan. Bila surut mudah membuat perahu kandas- Memang sudah beberapa kali dikeruk untuk membuang lumpur di dasar sungai, tapi sering menjadi dangkal kembali,” tukas lelaki yang bekerja menjadi pegawai usaha sarang burung walet bagi kebutuhan ekspor.

Sebagai komparasi, Uchi menuturkan bahwa sekitar tahun 1978, perahu atau kapal dimensi cukup besar masih bisa melaju sampai Karang Hantu. “Tongkang pengangkut kayu dari Kalimantan bisa berhenti di ujung muara,” ujar lelaki yang memiliki menantu pria Bugis dan Bajoyang terkenal sebagai bangsa pelaut.

‘Dan rasanya, dulu jumlah penduduk yang menjadi nelayan lebih banyak dari sekarang. Karena akses ke laut menggunakan perahu lebih mudah. Kinibanyak nelayan alih profesi. Termasuk menjadi pengumpul sarang walet.”

Pendangkalan akibat terjadinya proses sedimentasi tidak hanya terjadi pada pelabuhan tua Karang Hantu. Benteng Speelwijk (1585) terlihat makin jauh dari pesisir. “Mungkin sekarang jaraknya 250 m dari pantai,” sebut Mulangkara. “Dulu letaknya sangat dekat ke tepi. laut, karena berfungsi sebagai bangunan pertahanan dan penjagaan pantai.”

Seperti reruntuhan Keraton Surosowan, Benteng Speelwijk-dibangun Belanda juga dilengkapi dengan parit-parit bantuan; Tentu saja. pengadaan kanal ini berbeda dari keberadaan kanal-kanal milik istanaistana di Banten Lama, yang menjadi media transportasi. Parit-pairit Benteng Speelwijk berguna untuk mengantisipasi berbagai serangan musuh.

Persamaan antara Benteng Speelwijk dan Istana Surosowan terletak pada pemakaian karang dipotong persegi menyerupai bata untuk memperkokoh dinding luar. “Selain faktor kekuatan bangunan, ini sebuah cara beradaptasi terhadap lingkungan. Dengan memakai karang, air laut tidak akan meresap pada dinding yang menghasilkan proses penggaraman,” papar Obay. “Bila menggunakan tembok biasa, resapan air laut bisa naik antara 1 sampai 1,5 m.”

Menilik dokumentasi fisik Banten Lama dan melacak jejak air tawar serta air laut yang melewati kanal-kanal serta bandar lautnya, terbersit impian untuk menjadikan kawasan ini sebagai destinasi wisata setara Hoi An di Vietnam. Materi tergolong sangat lengkap, termasuk situs  pemakaman para ulama dan kaum bangsawan di tepi aliran sungai-pembukti jalur air sebagai prasarana transportasi penting di masa itu.

Obay dan Mulangkara serta segenap kawan-kawan mereka pasti juga punya mimpi serupa- Mengangankan jejak-jejak historis tidak pudar di tlotah Banten Lama. Sebagai modal awal, masyarakat setempat telah berkesadaran. “Ketika dilakukan penanganan pertama atas Istana Surosowan sekitar tahun1967, mereka turun bahu-membahu bersama Kodam Siliwangi,” kisah Obay. “Bila mendengar apa yang dimiliki di rumah tergolong barang temuan situs, pasti dikembalikan kemuseum. Contohnya ambang pintu dari batu yang berubah fungsi menjadi lumpang atau penumbuk padi.” Kesadaran senada, mestinya juga dimiliki oleh para pejalan. Seperti menengok situs-situs ini agar tak terlupakan, juga turut menjaga kelestariannya. AIR YANG MENGALIR DARI TASIKARDI

 

ayooo berwisata ke banten di sana banyak peninggalan zaman dahulu….!!!!!

TERIMA KASIH!!!!!