(021) 546343778

Kisah Anak Yatim yang Bahagia Dapat Daging Kurban

Anak Mukim
l

Kurban tak hanya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan antara manusia dan Allah SWT. Ibadah ini juga menjadi masa untuk membangun kebersamaan bagi seluruh umat manusia.

Seluruh umat Islam berkumpul dalam merayakan Idhul Adha. Mereka melakukan ibadah salat Id bersama, menyembelih dan membagi hewan kurban bersama. Tak hanya orang miskin, para tetangga saling berkunjung satu sama lain untuk berbagi kegembiraan.Bila semangat untuk berkurban telah merasuk dalam jiwa setiap umat Islam, tidak akan ada kaum Muslim yang hanya mengutamakan kepentingan pribadi dan golongan. Sikap yang dikedepankan adalah memberi dan berkorban.

Hal ini pula yang dimaknai oleh anak-anak asrama Sahabat Yatim. Saidah Hasanah (13 tahun) dari asrama Sahabat Yatim Samarinda selalu bersyukur dapat berbagi dan menjalin kebersamaan bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya.

“Ketika merayakan Idul Adha di rumah sangat menyenangkan karena bisa bertemu dan berkumpul bersama keluarga, shalat ied bersama dan makan-makan,”kata Saida yang masih duduk di bangku kelas dua SMP 16 Samarinda ini.

Terlebih lagi, kemeriahan pun terjadi jika merayakan Idul Adha di asrama. Selain bisa melihat secara langsung pemotongan kambing dan sapi, dirinya dapat lebih banyak kurban. Selain itu, ia dan sahabat di asrama Sahabat Yatim turut serta membagikan kurban ke anak-anak dhuafa di sekitar asrama.

“Selain mendapat bagian kurban, senangnya lagi bisa berbagi ke anak non mukim,”kata Saida.

Sementara Indah Sukmayati (14 tahun), anak asrama yang masih duduk di SMA 14 Samarinda ini memaknai kurban dengan sebuah pengorbanan. Menurutnya, Idul Kurban itu bermakna hari pengorbanan. Yakni mengorbankan sesuatu yang kita sayangi untuk Allah SWT.

“Kita rela mengorbankan harta untuk dibelikan sapi, maknanya kita memang harus rela berkurban walaupun bagi kita itu sesuatu yang sangat berharga,”kata Indah.

Ia juga berbagi pengalaman Idul Adha selama ini baik di rumah maupun di asrama. Selama merayakan Idul Adha di rumah, ia senang karena bisa berkumpul bersama keluarga. Terlebih lagi mendapatkan daging hewan kurban.

“Kami senang dapat daging karena saya dan keluarga memang jarang-jarang makan daging karena harganya yang lumayan mahal,”kata dia.

Meski senang mendapatkan daging, ia dan keluarga bingung untuk mengolah daging kurban tersebut. Jika dibuat sate, diperlukan bahan-bahan tambahan yang harus dibeli dan tentunya mengeluarkan uang. Jika dibuat bakso, lokasi penggilingan cukup jauh dari rumah.

“Akhirnya daging kurban diolah sama Mama dicampur sama kelapa dijadikan serundeng,”kata Indah. Menurutnya, cara masak tersebut akan menghemat biaya sehingga keluarganya tidak mengeluarkan uang tambahan saat memasak.

Adapun jika merayakan idul Adha di asrama juga sangat menyenangkan karena ramai. Ia dan sahabat anak yatim lainnya bersama-sama pergi ke masjid terdekat, menyaksikan penyembelihan hewan kurban. Dan yang paling terkenang adalah saat mengolah daging kurban bersama-sama menjadi bakso.

“Saat mengolah daging menjadi bakso itu sangat menyenangkan mulai dari menggiling daging ke pasar sampai merebus pentol bakso,”kata Indah.

Ia berharap, di Idul Adha tahun ini, semakin banyak donatur yang mempercayakan kurbannya di sayati. Pasalnya, daging kurban tak hanya akan dinikmati anak-anak asrama, tetapi juga anak-anak non mukim di sekitar asrama dapat merasakan daging kurban.

“Saya berharap untuk idul adha tahun ini banyak yang mempercayakan kurban di asrama Sayati agar anak asrama dan non mukim dapat merasakan daging qurban tanpa mengeluarkan biaya tambahan karena biasanya asrama mendistribusikan daging qurban dalam bentuk bakso,”kata dia.