(021) 546343778

Pemuda, Buktikan Karyamu Pada Ibu Pertiwi

INSPIRASI
sumber IDN Times

Namanya menggaung diantara penduduk Makkah. Gadis-gadis di Makkah kabarnya begitu mengidolakan sosoknya. Muda, tampan, dari keluarga mulia. Lihatlah pakaiannya, begitu rapih dan harum. Wanginya bisa dicium dari jarak sekian dan sekian.

Anak muda ini kelak akan dikenang sebagai pahlawan Islam. Akhir hayatnya terbujur dengan gelar syahid. Ia wafat hanya ditemani dengan selembar kain. Jika kain yang digunakan untuk menutup jasadnya di angkat menutup kepala, kakinya terlihat. Jika kain itu ditarik ke bagian kaki, maka kepalanya terlihat.

Rasulullah SAW yang mulia itu menangisi betul pemuda yang digelar Duta Pertama dalam Islam itu. Sembari bersedih, Rasulullah bersabda, “Ketika di Makkah dulu, tak seorang pun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapi rambutnya daripadanya. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah.”

Ialah sahabat Nabi Mus’ab bin Umair RA. Ia adalah pemuda gagah yang diliputi segala fasilitas dan kemewahan. Namun, begitu Islam datang, kemewahan yang menghalanginya berjalan bersama Rasulullah SAW rela ia tinggalkan.

Pemuda adalah pelopor perubahan. Rasulullah SAW paham akan itu. Maka Beliau SAW mengutus sosok Mus’ab sebagai duta pertama untuk berdakwah ke Madinah. Tugas yang amat berat. Mus’ab harus berdakwah kepada kaum yang masih belum menerima Islam dan berpecah belah antara suku Aus dan Khazraj. Namun, tak butuh waktu lama bagi Mus’ab untuk ‘menyiapkan’ kota Madinah dan penduduknya menjadi kota yang dinaungi cahaya Islam dan siap menerima Rasulullah SAW dalam hijrahnya.

Mus’ab sejatinya adalah sang revolusioner. Ia bisa mengubah keadaan sebuah masyarakat yang terpecah belah dan belum memeluk Islam menjadi rumah kedua Rasulullah SAW dan tempat mulia bernama Madinah.

Anak-anak muda memang selalu mengisi panggung zaman dengan kekuatan mengubahnya yang menakjubkan. Lihatlah kini di bumi Indonesia. Kita akan dapati deretan anak-anak muda yang berjuang berpeluh hingga Allah SWT menganugerahkan kemerdekaan yang gemilang pada 17 Agustus 1945.

Kemerdekaan yang kita rasakan nikmatnya kini adalah buah perjuangan anak-anak muda pada zamannya. Sadar akan ribuan suku, bahasa dan etnik membuat pemuda-pemuda Indonesia rela menyingkirkan sejenak perbedaan untuk merumuskan persatuan. Semangat anak-anak muda itu tercermin dalam Kongres Pemuda 28 Oktober 1928 yang melahirkan Sumpah Pemuda. Pada forum yang sama, pertama kali pula musikus muda berusia 25 tahun bernama Wage Rudolf Supratman memperdengarkan lagu Indonesia Raya ciptaannya.

Waktu terus beranjak dan tetap melibatkan anak-anak muda. Saat memproklamirkan kemerdekaan, usia Soekarno saat masih masih terhitung muda sebagai politisi dan negarawan, 44 tahun. Sementara, Mohammad Hatta berusia satu tahun lebih muda dari Bung Karno. Bangsa ini merdeka dan membangun kemerdekaannya dengan dibangun oleh anak-anak muda.

Era revolusi, era pembangunan anak-anak muda terus memimpin perubahan. Pada 1998, lagi-lagi anak-anam muda menampilkan takdirnya sebagai penjaga bangsa ini. Dimotori anak-anak mahasiswa, era Reformasi lahir dan terbentang hingga kini.

Di era milenial, anak-anak muda terus berkarya mengharumkan nama bangsa. Rio Haryanto menjadi orang Indonesia pertama yang berada di balik kemudi jet darat F1. Rio selain berprestasi adalah sosok yang amat religius. Ia rajin shalat tahajud dan ayat kursi menjadi ayat Alquran favoritnya. Bahkan, Rio memiliki kebiasan unik yakni selalu menempelkan ayat kursi di kemudi mobil balapnya.

Lalu ada nama Gamal Albinsaid yang baru berusia 25 tahun saat mendirikan Klinik Asuransi Sampah. Gerakannya menginspirasi. Orang-orang cukup berobat di kliniknya dengan menukarkan sampah. Karyanya sudah diakui dengan ganjaran penghargaan Sustainable Living Young Entrepreneurs Awards yang diserahkan langsung Putra Mahkota Kerajaan Inggris, Pangeran Charles di Istana Buckhingham pada tahun 2014.

Setiap era menunggu anak-anak mudanya untuk terus berkarya dan menginspirasi. Apapun halangannya, anak-anak muda selalu bisa mengatasinya dan menjadikannya pelecut prestasi. Sayati mengerti betul betapa pembinaan terhadap anak-anak muda sangat diperlukan. Dengan pembinaan di Asrama Yatim Sayati dan menyusul Pesantren Tahfidz, Sayati berharap anak-anak muda ini menjadi anak muda yang gagah seperti Mus’ab bin Umair RA atau layaknyak Gamal Albinsaid yang peduli masyarakat menengah bawah.
Ayo anak-anak muda Indonesia, kamu bisa!