(021) 5312 6107

Bulyying dan Pengaruhnya pada Remaja

Parenting

pengertian bullying
Jika anak Anda telah membuat alasan untuk bolos sekolah akhir-akhir ini, sebelum menyalahkan dirinya, maka pahami barangajali dia adalah salah satu dari ratusan ribu anak-anak sekolah di Indonesia yang bolos sekolah sengaja untuk menghindari diintimidasi oleh sesama kawan siswanya.
Masalah bullying di sekolah jauh lebih serius daripada yang kita bayangkan. Sementara bentuk fisik bullying cukup umum di sekolah, psikologis dan emosional bentuk yang sangat umum di sekolah maupun di tempat kerja. Beberapa statistik mengejutkan pada bullying yang diberikan di bawah ini akan memberitahu Anda bagaimana rentan Anda atau anak Anda adalah untuk ini bentuk pelecehan.
Apa sih pengertian bullying ? Akhir-akhir ini sering terdengar istilah bullying. Sebenarnya bullying sudah terjadi sejak dahulu kala. Salah satu jenis bullying yang kasat mata adalah ‘malak’. Bullying adalah suatu tekanan atau intimidasi dari satu atau serombongan anak/remaja yang dominan terhadap satu atau serombongan anak/remaja yang lebih lemah. Mapras Identik dengan
Yang paling mudah untuk kita saksikan adalah kejadian dalam acara mapras/ penerimaan murid baru. Para kakak kelas biasanya berlomba galak dan keras terhadap adik-adik kelasnya. Dengan dalih ingin melatih mental dan ketahan diri para adik kelas, kakak-kakak kelas acapkali membentak dan memerintah para juniornya untuk melakukan hal yang aneh-aneh.
Anak-anak yang lebih muda dan merupakan adik-adik kelas ini terpaksa menjadi patuh dan takut pada para seniornya jika ingin selamat serta diterima dilingkungan sekolah.
Bullying ada dimana-mana
Kebiasaan mapras atau plonco ini seringkali terbawa hingga ke jenjang usia dewasa. Pengertian bullying tidak berhenti pada konteks dunia sekolah saja, dapat pula terbawa ke dalam budaya kantor/ perusahaan dan bahkan barangkali juga dalam bidang pemerintahan.
Banyak orang muda dan junior yang dianggap masih ‘ijo’ dan tidak tahu apa-apa. Para senior selalu menganggap dirinya lebih berumur, berpengalaman dan juga lebih banyak makan asam garam dibanding mereka yang lebih muda usia. Pengaruh Bullying pada Anak Remaja
Dampak bullying pada anak-anak remaja bisa berubah sangat tidak menyenangkan, karena kebanyakan anak tidak bisa menangani hal ini fenomena sendiri. Jika Anda bertanya setiap psikolog tentang tanda-tanda fisik bullying, deskripsi yang akan diletakkan sebelum Anda pasti akan sama.
Seorang korban bullying secara sosial menarik diri dan penyendiri. Jika Anda melihat anak anak bermain selama masa istirahat sekolah, maka korban bullying biasanya terlihat di sudut. Menolak untuk berpartisipasi dalam hal apa pun, yang membuat mereka datang ke dalam kontak dengan sejumlah besar orang.
Jika korban adalah seorang siswa sekolah tinggi, maka ia akan terlibat dalam sesuatu yang serba sepi seperti membaca, menggambar atau menulis. Para korban akan bertindak seperti bunglon dan akan mencoba apa pun yang mungkin, agar tidak mendapatkan perhatian.
Seringkali atribut ini bermuara pada hilangnya kepercayaan dan hilangnya harga diri. Ada efek negatif sebagai korban menjadi anti sosial, dan cenderung berada di bawah ketakutan dan stres. Stres ini disebabkan sebagai akibat dari ketakutan disakiti dan dihina berkali-kali di depan orang. Sebagai korban sosial ditarik soft skill mereka tidak benar-benar tajam, dan sebagai akibat dari stres lingkungan secara keseluruhan, nilai sering mulai menurun.
Korban seringkali dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu orang-orang yang mengadopsi internalisasi. Para korban menjadi anti sosial dan membenci segala jenis kontak manusia. Yang kedua menggambarkan hampir gejala yang sama, tetapi ada sisi liar ke orang-orang yang terjangkit, yakni eksternalisasi. Para korban kekerasan akan punya tujuan menghancurkan si pengganggu bahkan jadi pembunuh si penganggu. Karakter Orang Muda
Keadaan semacam ini sesungguhnya sangat merugikan bagi perkembangan karakter manusia dan menghalangi bertumbuhnya rasa percaya diri kalangan orang muda. Stigma yang menyamakan manusia dengan kelapa, seakan akan semakin tua semakin bersantan tampaknya perlu dikaji ulang.
Secara logika manusia yang bertumbuh tinggi besar dan menua dari segi fisik. Belum tentu diimbangi dengan pertumbuhan karakter dan kecerdasan yang seimbang. Banyak orang tua yang masih kolot, merasa dirinya paling tahu, paling pintar dan acapkali memaksakan kehendak. Namun tak sedikit pula orang-orang muda yang sabar, bijak, kreatif dan pandai menempatkan diri.
Disini pengertian bullying makin meluas, tidak hanya sebatas dalam makna harafiah saja namun juga mencakup dampaknya bagi masa depan generasi muda. Khususnya anak- anak dan remaja. Menanamkan rasa percaya diri, spontanitas dan keterbukaan sejak dini adalah modal utama untuk membasmi perilaku bullying.
Jika sejak dini anak anak dan remaja telah memiliki ketahanan mental dan landasan kuat untuk pengembangan karakter, diharapkan pada masa dewasa mereka akan sungguh-sungguh menjadi orang yang bijak dan bukan sekedar mengaku bijak karena dimakan usia. Waspada Bullying Sejak Usia Dini
Bullying perlu diwaspadai sejak dini khususnya oleh para orang tua. Mereka sebaiknya memperhatikan perkembangan jiwa anak-anaknya dengan sungguh-sungguh. Perilaku yang kasar, suka memaksa, berteriak, mengancam dan meremehkan orang lain dapat menjurus untuk menjadi pelaku bullying
Lambat laun anak-anak dengan karakter semacam itu akan mencoba mengintimidasi anak-anak lain khususnya mereka yang lebih muda atau lebih lemah. Perilaku yang terlalu sensitif, penakut, rentan, mudah tertekan dan pendiam juga merupakan sasaran empuk untuk menjadi korban bullying
Tidak mudah memang untuk meletakkan landasan yang tepat bagi anak-anak dan remaja agar mereka dapat menumbuhkan karakter terbaik yang dapat muncul dari dalam diri mereka. Namun yang pasti hendaknya sejak dini para orang tua mengarahkan anak-anaknya untuk berlaku sopan, menahan diri, mengemukakan pendapat secara terbuka dan mampu memberikan alasan yang masuk diakal.
Jika logika atau nalar anak-anak mengenai hal yang baik dan buruk sudah berjalan dengan sempurna sejak awal, mudah-mudahan mereka akan terlepas dari cengkraman bullying baik sebagai pelaku maupun korban. Kenali Tanda Remaja Korban Bullying
Sebagaimana pengertian bullying di atas, Korban bullying cenderung cemas, pasif, sensitif, anak secara fisik lemah yang merasa mereka layak depresi. Perasaan kalah itu mengikuti korban dari kelas 6-9 sampai usia 23 dan terus merasa bahwa, sebagai orang dewasa, mereka rentan terhadap depresi dan miskin harga diri.
Maka dari itu Orang tua harus waspada terhadap tanda-tanda bullying mungkin, karena anak-anak dapat menyembunyikan masalah dan tidak mau berbicara tentang ditindas karena mereka takut bully akan menghukum mereka. Anak-anak mungkin menjadi korban ketika mereka:
Apakah enggan untuk pergi ke sekolah,
Tiba-tiba melakukan perilaku buruk di kelas,
Tidak mengajak teman sekelas rumah untuk bermain,
Apakah murung dan memiliki ekspresi tiba-tiba marah, atau
Meminta uang jajan lebih banyak karena dia di palak kawannya.
Tapi jangan samapi langkah-langkah Orang tua untuk membantu anak dapat dituduh overprotective, begitu banyak orangtua bertanya-tanya untuk apa mereka harus membiarkan anak-anak mengatasi masalah ini sendiri. Tetapi para ahli mengatakan bahwa anak-anak yang diintimidasi mengalami kesulitan berurusan dengan penyalahgunaan itu sendiri dan perlu bimbingan orang dewasa.
Ketika seorang anak mengeluh tentang pengganggu, orang tua harus:
Serius mendengarkan,
Bermain peran dengan anak pada solusi untuk situasi berbahaya, memberikan mereka harga diri dengan jalan memperkuat fisik mereka.
Membuat catatan atau jurnal dari penyalahgunaan,
Diskusikan dengan guru atau staf sekolah,
Melibatkan anak dalam kegiatan eksul yang menyenangkan intinya membuat alternatif dunia yang menyenangkan baginya.
Memantau efektivitas rencana ini.
Untuk mencegah anak-anak menjadi korban kronis para pengganggu, orang tua harus mendorong anak-anak menemukan ‘harga diri dan menemukan cara untuk membantu anak menghindari situasi untuk menjadi tumbal.


error: Content is protected !!