(021) 546343778

Hikmah Berkurban

INSPIRASI
qurban

Ibadah kurban adalah pernyataan kesediaan diri untuk menyerahkan sesuatu yang paling berharga dan paling kita cintai kepada Allah SWT. Jika menilik sejarah kurban, ibadah ini sudah dipraktikkan sejak zaman Nabi Adam AS. Qabil dan Habil, kedua anak Adam, diperintahkan untuk berqurban sebagai syarat menikahi saudara kembar Qabil yang bernama Iklima, sementara saudara Habil bernama Labuda.

Allah memerintahkan Nabi Adam AS untuk menguji kedua anaknya dalam memberikan persembahan terbaik dari apa yang mereka upayakan. Lalu Allah menerima kurban Habil dan menolak kurban Habil.

Lalu waktu beralih, ketika Allah SWT menguji sang kekasih, Ibrahim, pada hal yang dinanti-nanti. Pada bayi merah yang tangisnya gagah. Ialah Ismail yang dinanti selama puluhan tahun. Ismail harus disembelih dan diyatimkan, di lembah tandus yang kekeringan.

Saat Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anak yang menggembirakan hatinya, jiwanya sesak, berbaur-baur tanggung jawab sebagai ayah dan ketaatannya sebagai hamba Allah. Hajar dan Ismail pun diuji sampai batas tertinggi agar keajaiban datang. Lagi-lagi, Ibrahim harus menutup mata saat Allah menguji cintanya dalam penyembelihan Ismail, namun kebugaran mental Ismail justru meneguhkan keyakinan Ibrahim. “Wahai ayahanda, lakukanlah apa yang telah diperintahkan oleh Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati diriku termasuk orang yang sabar.” (QS ash-Shaffat [37]: 102).

Dari Ismail yang diyatimkan, ia menjelma menjadi kurban ketika Ibrahim dinyatakan lulus dalam ujian setelah betul-betul berusaha menggorok urat leher anaknya. Layaknya Ibrahim, kita pun sedang diuji Allah SWT, apakah rela mengorbankan sesuatu yang paling berharga dihidup kita untuk diserahkan kepada Allah? Menurut Profesor Nasaruddin Umar, boleh jadi “Ismail” kita berbentuk kedudukan, deposito, surat berharga, jabatan, kendaraan mewah, rumah mewah, dan lainnya.

Sudikah kita jika Allah sewaktu-waktu meminta kita untuk mengorbankan harta atau benda kesayangan kita agar kita lebih menyayangi Rabb kita? Allah memang tidak meminta kita untuk mengurbankan anak-anak kita atau dalam bentuk harta yang besar. Allah hanya meminta kita berkurban hanya seekor binatang, entah itu kambing atau sapi, tentu sesuai kemampuan kita.

Betapa tamaknya kita sebagai hamba Allah jika kita tidak mau berkurban hanya seekor binatang. Sementara kekayaan di mana-mana. Rumah, jabatan, dan gemilau kekayaan lainnya. Menjelang Idul Adha, sejatinya kita sedang diuji oleh Allah. Mungkin kurban artinya kecil untuk kita, tapi sangat besar untuk mereka yang membutuhkan.

Untuk mematuhi perintah Allah seberat apapun itu, memang diperlukan keimanan, kesabaran dan keikhlasan. Ketegaran iman Ibrahim AS dan keikhlasan hati Ismail dalam menerima ujian dari Allah untuk berkurban menunjukkan bahwa ibadah kurban salah satu aktualisasi rasa syukur kita terhadap nikmat dan karunia Allah yang melimpah ruah. Melimpahnya nikmat Allah ini mengisyaratkan bahwa sebagai muslim yang mampu berkurban tentu merasa malu dan merugi jika tidak mensyukuri nikmat dengan berkurban.

Dalam bahasa Arab, kurban berarti dekat, yang secara populer diartikan sebagai persembahan seorang hamba kepada Allah. Hukumnya wajib bagi orang yang memiliki kemampuan dan tidak wajib bagi mereka yang tidak mampu. “Barang siapa yang mampu berkurban, tetapi tidak menyelenggarakan ibadah kurban, hendaklah mereka tidak mendatangi masjidku,” kata Rasulullah.

Hadis ini menunjukkan, berkurban idealnya menjadi budaya berkesalehan sosial yang memberikan implikasi positif dan konstruktif bagi pekurban maupun penerima daging kurban. Larangan Nabi SAW untuk tidak mendekati tempat shalat (masjid, mushalla) kepada Muslim yang mampu berkurban tetapi enggan berkurban mengandung pelajaran bahwa ibadah ritual, seperti shalat, tidak bermakna dan berfungsi transformatif jika tidak dibarengi dengan ibadah sosial seperti kurban.

Sebagai teladan perubahan, sejak tahun kedua Hijriah hingga akhir hayatnya, Rosulullah pun melakukan kurban. Saat haji Wada di Mina, Rasul SAW menyembelih 100 ekor unta. Sebanyak 70 ekor disembelih oleh Rasul, dan 30 ekor disembelih oleh Ali bin Abu Thalib. Keseluruhan hewan kurban tersebut disembelih setelah shalat Idul Adha dilaksanakan.

Berkurban artinya, mentransformasi diri dari penjajahan hawa nafsu, sifa-sifat binatang yang negatif menjadi kepribadian muslim yang lebih bertakwa. Ibadah kurban harus dimaknai juga sebagai proses edukasi yang mencerdaskan dan mencerahkan masa depan umat manusia. Agar kurban tak hanya menjadi ritual dan formalitas semata, teladan dari pemimpin bangsa dalam mengorbankan segala kepentingan pribadi termasuk partainya, menuju pengorbanan yang tulus tanpa adanya pencitraan dmi masyarakat yang maju dan adil sejahtera.

Tags Berita: #