(021) 546343778

Penggali Kubur Ini Akhirnya Naik Haji

INSPIRASI
SERBA SERBI Dullah Syamsi Penggali Kubur dok Metroasahan

Dullah Syamsi bukanlah pengusaha kaya yang bisa berangkat haji beberapa kali. Dullah, warga Kabupaten Asahan, Sumatra Utara ini hanya berprofesi sebagai penggali kubur.

Ya profesi yang amat sederhana namun amat dibutuhkan masyarakat. Masyarakat mungkin masih menganggap profesi penggali kubur adalah profesi yang rendah. Kerjanya pun bisa jadi tidak setiap hari. Namun, dedikasi yang besar demi melayani masyarakat ditunjukkan Dullah Syamsi.

Ia rela menjalani profesi yang dibutuhkan masyarakat itu dengan tekun selama puluhan tahun. Tentu saja sebagai penggali kubur tidak ada gaji tetap lebih-lebih tunjangan seperti halnya Pegawai Negeri Sipil (PNS). Menjadi penggali kubur adalah sebuah panggilan kemanusiaan.

Kerja keras dan pengabdian Dullah ternyata berbuah manis. Hasil kerja kerasnya sebagai penggali kubur selama hampir 28 tahun telah membawanya bersama istri ke Tanah Suci untuk menunaikan ibadah haji.

Saat menunaikan ibadah haji tahun 2017 ini, usia Dullah sudah menginjak 78 tahun. Sementara istrinya, Tuminah sudah beranjak 68 tahun. Kedua pasangan ini bekerja keras dengan profesi yang amat sederhana untuk bisa menunaikan ibadah haji.

Selain berprofesi sebagai penggali kubut, Dullah kerap diminta bantuan warga sekitar untuk memperbaiki atap yang bocor, mengurus kebun dan mengerjakan beberapa pekerjaan rumah. Ia tak memasang tarif dari pekerjaannya membantu para tetangga. Justru tetangga yang sukarela memberikan imbalan atas hasil kerja kerasnya.

Dullah mengaku uang hasil menggali kubur dan pemberian warga atas pekerjaannya ia bagi dua. Separuh ia gunakan untuk makan sehari-hari bersama keluarga. Sementara separuh lain ia tabung dengan niat sebagai biaya naik haji.

Begitu juga dengan istrinya, Tuminah. Profesinya hanyalah pedagang kue. Tekad yang kuat dimiliki oleh sepasang suami istri ini. Sebagian penghasilan dari berdagang kue, Tuminah sisakan untuk menambah tabungan haji suaminya.

“Kalau nggak salah, saya mulai menabung sejak 1993, sedikit demi sedikit. Alhamdulillah istri saya juga ikut mendukung. Walaupun entah kapan berangkatnya ke tanah suci, yang penting niatnya karena Allah,” jelas Dullah di Asrama Haji Medan beberapa waktu lalu.

Bapak enam anak ini juga menuturkan, di usia senjanya niatnya tersebut dihijabah Allah, setelah uangnya cukup untuk mendaftarkan kursi haji yang dimimpikannya sejak lama lagsung berangkat bersama istrinya.

“Sebenarnya saya tidak tahu gimana bisa terkumpul itu uang, ini atas izin Allah SWT, sehingga kami bisa punya cukup uang untuk mendaftar haji,” ucap Dullah.

Perjuangan Dullah sebagai penggali kubur adalah sebuah panggilan nurani. Dan Allah SWT memberikan balasan yang manis atas usaha dan kerja keras yang ikhlas dari Dullah dan istrinya.

Menjadi tamu Allah SWT ke Baitullah bukan tentang apa profesi seseorang. Tetapi soal niat yang kuat dan ikhlas serta kesiapan untuk menjadi tamu agung mendapat jamuan pahala yang besar di sisi Allah SWT.

sumber: Kemenag, Metroasahan.com