(021) 546343778

Rina Gunawan: Anak Yatim Seperti Anak Sendiri

Asrama
sumber gambar: liputan6.com

Anak yatim memang kehilangan figur orang tua kandung. Namun, bukan berarti mereka tak berhak mendapatkan kasih sayang selayaknya anak-anak lain. Kebahagian yang dirasakan anak-anak dalam sebuah keluarga juga berhak dirasakan oleh anak-anak yatim. Salah satu caranya adalah memberikan kedekatan bukan hanya secara materi tetapi juga kedekatan batin.

Pengalaman pendekatan secara batin dengan anak-anak yatim ini dirasakan betul oleh sosok Rina Gunawan. Artis yang kini menggeluti bidang wedding organizer ini sudah lama memiliki kedekatan dengan anak yatim. Rina berujar, pendekatan terhadap anak yatim sejatinya yang paling dibutuhkan. Sebab, sedari kecil mereka kehilangan sosok orang tua.

Tentu selain bantuan materi yang anak yatim butuhkan, Rina menyebut kedekatan batiniah juga menjadi kebutuhan anak-anak yatim. Rina yang pernah menjalin kerjasama dengan Sahabat Yatim Indonesia ini mengaku dalam keluarganya selalu ada aktivitas rutin untuk menyantuni anak yatim. “Alhamdulillah, kalau ada acara kita undang. Di dekat rumah juga ada beberapa pondok. Kita sempatkan bertemu dan bermain. Walau sebentar itu sangat terasa,” ujar istri dari aktor Teddy Syah ini.

Rina menyebut dirinya tak sekadar mengadakan acara santunan. Namun, juga memiliki dua anak yatim yang ia jadikan anak asuh sejak kecil. Rina mengaku kini, anak asuhnya tersebut sudah dewasa dan mandiri. “Dari SD kita angkat sampai kuliah. Alhamdulillah sekarang sudah punya uang sendiri sudah bekerja sendiri,” tutur Rina bahagia.

Rina mengaku tidak menyangka, anak-anak asuh yang ia angkat beberapa tahun yang lalu kini sudah bisa menggapai cita-citanya masing-masing. Rina menyebut kedekatannya dengan anak asuhnya sudah seperti halnya kedekatan seorang ibu dan anak kandungnya.

“Saya juga ngga nyangka mereka pada kerja sesuai dengan cita-citanya masing-masing, ada yang jadi guru ada yang jadi peternak. Alhamdulillah saya juga ngga nyangka kasih sayang yang itu kita berikan. Saya anggap mereka anak saya sendiri,” ungkap dia.

Awalnya, Rina berkisah ia berniat menjadi orang tua asuh terhadap anak yatim. Saat berada dalam sebuah acara, ia meminta tolong agar dicarikan anak yatim untuk diangkat sebagai anak asuh. Kemudian ia mendapatkan anak kembar yang ia asuh hingga beranjak dewasa dan mandiri.

Salah satu pola pendekatan yang Rina terapkan dengan anak asuhnya adalah mengobrol. Meski secara fisik tidak bisa rutin bertemu, Rina memanfaatkan telepon untuk selalu berinteraksi dengan dua anak asuhnya. Jika ada kesempatan bertemu, Rina menggunakannya untuk mengobrol.

Di sisi lain, Rina mengaku kagum dengan perjuangan lembaga-lembaga pengasuh anak yatim seperti Sahabat Yatim Indonesia dan lembaga sejenis. Sebab, dengan keberadaan lembaga tersebut, anak-anak yatim bisa terbantu baik dalam kebutuhan materi, kasih sayang maupun pendidikan. “Saya sangat mengapresiasi lembaga dan orang-orang yang terjun ke dunia yatim ini. Mereka mendidik dan memberikan kasih sayang yang luar biasa,” kata Rina.

Anak yatim juga anak-anak seperti biasa. Rina mengakui karakter anak-anak yatim begitu kompleks. Diperlukan kesabaran dari para pengasuh untuk mendidik anak-anak yang terpisah dari orang tua kandungnya. “Saya selalu mendokan bukan hanya untuk anak yatim tetapi juga untuk para pengasuh dan lembaga,” papar Rina.

Rina secara khusus juga memiliki kekaguman terhadap program Sahabat Yatim Indonesia. Ia menyebut Sahabat Yatim Indonesia berusaha menjadikan anak-anak yatim agar menjadi mandiri. Sehingga bukan hanya pendekatan materi yang dilakukan tetapi juga pemberian keterampilan bagi anak yatim.

Ia beberapa kali mendapat kesempatan untuk melihat langsung program di asrama Sahabat Yatim Indonesia. Selain itu, Rina juga menerima Sahabat Yatim Indonesia untuk belajar soal mengelola sebuah event dengan berkunjung ke kantornya.

“Itu yang saya salut dengan Sahabat Yatim Indonesia, memberikan bekal kepada anak. Sehingga nantinya ia menjadi bermanfaat bagi masyarakat dengan keahliannya,” papar Rina.

Menjelang Ramadhan, bulan yang pernuh berkah, Rina mengaku memiliki rencana yang sudah ia persiapkan dengan sang buah hati. Rina mengaku tidak ingin melewatkan begitu saja bulan yang kebaikan akan dilipatgandakan tersebut. Ia sudah merancang program Ramadhan bersama anak agar lebih baik. “Ada khatam Alquran dan juga memberikan buka puasa kepada anak-anak yatim jadi program kita,” sebut Rina.

Ia merencanakan akan berkeliling bersama keluarganya untuk bisa memberikan makanan berbuka bagi anak-anak yatim. Rina mengapresiasi berbagai pihak yang mengundang anak-anak yatim dalam berbagai acara di bulan Ramadhan. Namun, terkadang seseorang masih terlalu fokus terhadap apa yang mereka berikan kepada anak yatim.

Rina mengungkapkan alangkah lebih indahnya, selain mengundang juga melakukan interaksi dengan anak-anak yatim. Lewat interaksi, seseorang bisa tahu apa saja kesulitan yang dirasakan oleh anak-anak yang sudah berpisah dengan orang tua kandungnya itu. “Saat ketemu ngobrol dari hati ke hati, setiap anak pasti memiliki masalah yang berbeda-beda. Dengan interaki kita jadi tahu apa kebutuhan yang dirasakan oleh anak,” pungkas Rina.