(021) 546343778

Sejarah Kraton Yogyakarta

JELAJAH
Sejarah Kraton Yogyakarta

Sejarah Kraton Yogyakarta

keraton ini berada di pusat kota melintang di antara aliaran sungai winongo dan code. dirancang sultan Hamengku Buwono I segera usai perjanjian gianti 17 Februari 1755. belum setahun oktober 1756 pembanguan istana, ibukota dan bentang utama usai. keraton ini pernah berperan penting sebagai pusat kerajaan mataram. ketika belanda membonceng sekutu untuk menjajah lagi, 4 januari 1946 atas jaminan sri sultan HB IX, ibu kota RI di pindahkan ke Yogyakarta.

gunung merapi elemen penting komologi keraton,letusan diikuti gempa 1925 menghancurkan beberapa penting bagian keraton. di masa Sri sultan HB VII, pemugaran berlangsung 6 tahun hampir 8 dekade kemudian, gempa bantul 2006 merobohkan bangsal trajumas. saat ini tiga perempat area keraton trebuka untuk umum ada dua pilihan pintu masuk: gerbang pagelaran atau komplek sri manganti. kmai pilih gerbang di selatan alun-alun utara setelah membeli tiket masuk melalui sisi barat. Bangsal besar pagelaran,tempat di gelar acara besar keraton,juga ruang pajang baju adat kerabat keraton. kami naiki tangga ke shithinggil (Tanah Tinggi) singgasana penobatan raja.

kami keluar lewat pintu yang sama ketika kami masuk menuju kompleks Sri Manganti di sisi selatan pagelaran jan cukup pada oleh deretan bus pariwisata juga lapak kenangan. di meja pembelian tiket, saya meminta jasa pemandu wisata.paruh baya  Bangsal Sri Manganti di sisi kanan,tempat pentas seni pertunjukan bagi pengunjung-sendratari, wayang orang, macapat (tembang puisi Jawa), wayang golek. Di seberangnya, Bangsal Trajumas tempat Gamelan Kiai Guntur Madu (asal Demak berusia 5OO tahun) dan Kiai Naga Wilaga (Yogyakarta, 25O tahun). Pada Grebeg Maulud (perayaaan HUT Nabi Muhammaad SAW) tiap tahun, sepasanggamelan ini dimainkan di
Masjid Agung atau Gedhe Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Selepas gerbang utama Gerbang Danapratapa, meski matahari terik, terasa sejuk karena di banyak sudut tumbuh pohon sawo kecik dan jambu bol. Taman terawat baik.

Sejarah Kraton Yogyakarta

Ada .beberapa bagian yang hanya bisa dilihat dari kejauhan. Antara lain, Gedhong Jene, yang khusus Sri Sultan HB X sediakan bagr tamu kenegaraan; Gedhong Purworetno, ruang kerja Sultan sebagai Raja Yogyakarta, sedangkan sebagai Gubernur Provinsi DIY di Kompleks Kepatihan Jalan Malioboro. Yang juga hanya bisa dilihat dari kejauhan, Bangsal Kencana dan Bangsal Manis untuk jamuan kenegaraan. Hirarkie kerajaan dapat dilihat di Bangsal Kencana, joglo tiga lantai. Yang teratas, bagi Sultan dan tamu setingkat pimpinan kerajaan atau pemerintahan; kedua, untuk pangeran dan puteri-adik lelaki dan perempuan Sultan; terbawah, untuk abdi dalem bergelar tertinggi Kanjeng Raden Tumenggung (IGT). Abdi dalem tanpa gelar hanya sebatas luar bangsal.

Kaputren, tempat tinggal putri Sultan hanya dapat dilihat dari kejauhan, mengingat Sri Sultan HB X memiliki dua putri yang masih tinggal di sana. Tapi Bangsal Kasatrian untuk latihan tari tiap Minggu terbuka bagi umum.
Kami senangbisa melihat Iebih dekat sebagian besar bangunan dalam keraton sebagai museum benda bersejarah Keraton, didominasi peralatan makan hadiah negara kerabat, seperti Prancis, Belgia, Belanda, Italia, Jepang, China, Malaysia. “Pada peristiwa khusus, koleksi ini masih digunakan dalam jamuan makan,” jelas Endang Pur, pemandu.  Ada koleksi kursi Sri Sultan HB VII dan permaisuri. Dari ukurannya, bisa dibayangkan sosok Sultan tinggi besar.
Koleksi batik motif khas kerajaan cukup menarik berkat penyandingan dokumentasi foto ketika kain batik dikenakan pada peristiwa khusus seperti pernikahan putra-putri, supitan/ khitan, nujuh bulan kehamilan permaisuri atau putri, tedhak sitin (upacara bayi pertama kali rtrenginjak tanah).Sejarah Kraton Yogyakarta

Di ruang koleksi lukisar, beberapa karya maestro Raden Saleh tersimpan, salah satunya lukisan potret diri Sri Sultan HB VI. Sayangnya tak cukup terawat baik-terlebih di daerah tropis berkelembaban tinggi, tak ber-AC. Siang itu, lampu neon tak menyala. Andai saja tiap lukisan dilengkapi lampu sorot, wajah-wajah itu bisa kami nikmati. Agaknya wajar jika selama ini kami belum pernah mengrrnjungi Keraton secara “serius.” Tak aneh pengunjung “tersesat” karena tiada brosur informatif profil atau caption tentang koleksi di tiap bagian bangunan atau benda bersejarah teramat banyak itu. Informasi ritual juga sebetulnya menarik diketahui. Misalnya tiap hari pukul 11.00 WIB beberapa abdi dalem wanita mengantarkan teh dan kopi dari Gedhong Patehan (Tempat Penyajian Teh) ke Keraton Kilen kediaman Sultan, tertutup bagi umum. Di empat bagian bangunan keraton, kami mendapatkan secara zlengkap paparan informasi, dokumentasi, memorabilia Sri Sultan HB IX. Ada pakaianpakaian pakaian kerajaan, supitan, sepalbola dan berkuda, seragam Pandu; kursi, meja kerja; lencala tanda jasa, kehormatan dan dokumentasi foto, kliping koran, sertifikat kelulusan studi di Negeri Belanda, hingga surat keputusan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional setelah beliau wafat.

terima kasih semoga bermanfaat Sejarah Kraton Yogyakarta!!!!!