(021) 5312 6107

Seorang Tunanetra dan Kerupuk Dagangannya

Uncategorized

10

Jika Bapak/ Ibu berkunjung ke Kawasan Tebet, Jakarta Selatan, maka di pagi ke siang hari Bapak/ Ibu akan mungkin dengan mudah menemukan ada beberapa tunatetra yang menjelajahi jalan di sana sambil menjajakan dagangan kerupuk mereka. Kerupuk yang dijual tersebut ada berbagai macam dengan harga antara 8.000-20.000 rupiah.

Dengan menggunakan tongkat, tunanetra, baik laki-laki maupun perempuan, tersebut berjalan menyusuri jalan-jalan besar Tebet yang penuh dengan lalu lalang kendaraan. Jalanan Tebet bukanlah jalanan yang sepi, ditambah lagi dengan banyaknya bajaj yang beroperasi di sini. Jalan ini bisa membahayakan bagi siapa saja yang tidak hati-hati. Sempat beberapa kali saya membeli krupuk-krupuk mereka. Dan ada yang membuat saya takjub dari mereka. Apa itu? Kejujuran dan kepercayaan.
Bagi banyak orang, uang sebesar 100 atau bahkan 1.000 rupiah bukanlah suatu yang besar. Namun bagi orang seperti mereka uang tersebut merupakan suatu yang berarti.
‘Jadi totalnya berapa Pak?’ tanya saya
’28 ribu dek!’ begitu jawabnya
‘Ini uangnya Pak. 50.000 ya. Diperiksa dulu ya Pak’ pinta saya
‘Gak usah dek, saya percaya kok!’
Yang saya tau, biasanya tunanetra mengecek pecahan uang dengan meraba angka uang tersebut. Saya lantas bertanya lebih lanjut, bagaimana jika si Bapak ini ditipu oleh orang kalau ternyata pembeli tersebut tidak jujur. Namun mungkin mata hati Bapak ini jauh bisa melihat dibandingkan dengan mata fisik yang dimilikinya. Tidak ada sedikitpun rasa negatif dan buruk sangka darinya. Zaman sekarang, tidak bisa dipungkiri bahwa keberadaan orang jujur semakin jarang. Si Bapak juga bisa saja dengan mudah menemui orang-orang seperti ini.
Pelajaran kedua adalah tentang kerja keras. Bahwa keterbatasan yang mereka miliki tidak membatasi mereka untuk bekerja. Banyak kita temui orang yang justru segar bugar ternyata malah meminta-minta. Agama mengejarkan kita untuk tidak berpa