Ibu Renta Ini Jalan Belasan Kilometer Demi Anak yang Tunanetra

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Bagi Kasiyah, tidak ada yang lebih berharga selain hidup Tuminah.
Ibu Renta Ini Jalan Belasan Kilometer Demi Anak yang Tunanetra
Kasiyah (75 tahun) warga Tuban, Jawa Timur, yang sehari-hari menjajakan gulali dengan berjalan hingga belasan kilometer dari kampungnya ke kota.

Seorang perempuan berusia 75 tahun di Tuban, Jawa Timur, setiap hari berjalan hingga belasan kilometer untuk menyambung hidup. Dia sejak pagi sudah ke luar rumah dan berjalan menuju kota untuk menjajakan gulali buatannya.

Kasiyah, perempuan renta itu, telah 40 tahun menjalani profesi menjual gulali dengan berjalan dari kampungnya di Desa Kembangbilo, Kecamatan Kota, menuju kota kabupaten. Dia tak pernah menyerah bertahan hidup dan merawat anak angkatnya yang tunanetra sejak lahir.

Setiap pagi sebelum matahari bersinar sempurna, Kasiyah telah bangun dari tidurnya. Tanpa banyak bicara, dia lekas-lekas menuju dapur untuk membuat gulali.

Setelah gulali matang, Kasiyah segera bersiap menjajakan daganganya. Bermodal semangat, dia menggendong gulali sambil berjalan kaki hingga 15 kilometer menyusuri jalanan kota Tuban. Sengatan terik matahari dan guyuran hujan sudah sangat akrab menemani Kasiyah.

Rasa lelah sedikit terbayar kala sejumlah anak menghentikan langkahnya. Mereka adalah penikmat gulali buatan Kasiyah. Mereka bergantian menyodorkan uang untuk membeli gulali.

Menjelang sore, Kasiyah memutuskan kembali pulang. Gulali dagangannya habis terjual sehingga bisa membawa pulang uang Rp40 ribu. Namun kondisi itu tidak setiap hari terjadi. Kadang dia hanya mendapatkan uang Rp10.000 dengan gulali masih banyak tersisa di gendongan.

Uang hasil jualan itu kemudian digunakan untuk membeli bahan-bahan membuat gulali. Kalau ada sisa, Kasiyah akan berbelanja untuk keperluan memasak sehari-hari.

Tubuhnya yang telah renta dan sedikit bungkuk dipaksa untuk bekerja mandiri. Kasiyah tidak pernah meminta bantuan orang lain maupun mengeluh atas kondisinya. Bahkan, meski sakit, dia terus berusaha sendiri mencukupi kebutuhan hidupnya.

Kasiyah pernah empat kali menikah. Pernikahan pertama berakhir dengan perceraian, sedangkan tiga suami lain meninggal dunia. Sayangnya perjalanan panjang rumah tangga Kasiyah tidak mendapat karunia anak.

Di usia senja, Kasiyah sempat merasa hidup kesepian. Kebetulan seorang tetangga melahirkan bayi perempuan cacat mata. Kasiyah mengadopsi bayi itu agar bisa menemaninya pada masa tua.

Hingga kini, Kasiyah hanya hidup bersama Tuminah, anak angkatnya yang berusia 27 tahun. Mereka tinggal di sebuah rumah bambu seluas empat kali empat meter. Mandi dan memelihara ternak pun dilakukan di dalam rumah berhias lubang itu.

Bagi Kasiyah, tidak ada yang lebih berharga selain hidup Tuminah. Dia berharap ada yang mau merawat Tuminah jika nanti dia sudah tak mampu lagi bekerja lagi.

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!