(021) 5312 6107

Apa jadinya jika “mendadak” hamil, tanpa diduga dan minus Persiapan?

LIFESTYLE

tips menghadapi kesundulan – Hamil Kesundulan, lstiqomah Matjjik (35), Internal Communication perusahaan minyak.
Tidak mungkin hamil, pikir saya, ketika beberapa hari terlambat datang bulan. Saya punya alasan untuk meragukan kehamilan, yaitu karena saya masih menyusui Sam Ahsan Ogitomo (2 tahun 6 bulan), yang waktu itu baru saja merayakan ulang tahun pertama. Saya dengar, memberi ASI merupakan salah satu alat kontrasepsi.

Selain itu, saya dan suami, Sogi Indra Dhuaja (33), selalu menggunakan alat pengaman setiap kali berhubungan seks. Tapi, tunggu dulu… Ups! Jangan-jangan kami pernah lupa pakai? Dengan perasaan dag-dig-dug, saya memutuskan untuk memastikan apakah saya hamil atau tidak?

Saya dan Sogi kaget bukan main sewaktu melihat dua garis di testpack. Terbayang Sam yang sedang belajar berjalan dan bicara, yang masih membutuhkan perhatian. Dia juga masih bersemangat minum ASI, meski sudah ditambah makanan pendamping. Kasihan sekali jika dia harus lepas ASI karena saya hamil. Kasihan dia jika nanti kurang perhatian. Secara fisik,
saya siap saja untuk hamil. Saya, kan, punya keturunan subur.

tips menghadapi kesundulan

Saya mendatangi dokter kandungan untuk memastikan saya tetap bisa memberi ASI pada Sam. Menurut dokter. tidak masalah menyusui kala hamil. Syaratnya, saya tidak pernah keguguran, tidak pernah melahirkan prematur dan ketika menyusui tidak menimbulkan kontraksi. Saya senang bisa tetap membuat Sam happy. Bahkan menjelang beberapa jam ke rumah sakit, saya masih menyusui Sam.

Saya mengabarkan kehamilan ini ke rekan keria dengan perasaan tidak enak karena (lagilagi) akan membebani dia tugas ke luar daerah. Perusahaan minyak dan gas dari Amerika Serikat, tempat saya bekerja sebagai internal communication, menetapkan kebijakan ibu hamil tidak boleh berkunjung dinas ke site tambang di perairan Natuna dan pedalaman Lampung. Itu artinya, kolega saya yang musti menggantikan tugas saya ke daerah. Medan menuju site memang berat dan membutuhkan waktu berjam-jam untuk mencapainya. Tempat kami menginap di sana pun berupa camp.

Repot tapi seru, itulah yang saya alami ketika perut semakin membesar dan Sam semakin aktif. Jika saya berada di rumah, saya mengejar-ngejar Sam yang sedang senang bergerak, lari ke sana ke mari, mulai naik-turun tangga. Kadang-kadang dia juga saya gendong. Lumayanlah, olahraga ringan. Sementara saya juga tetap bekerja. Alhamdulillah, hamil yang kedua ini lancar. Mungkin karena saya sudah lebih berpengalaman.

Ada kesamaan antara Sam dengan adiknya, Mindy Fathina Isawa (kini 8 bulan). Keduanya betah berada di perut, hingga perlu diinduksi karena tidak kunjung nongol. Saya beruntung suami membantu mengasuh Sam saat saya di rumah sakit. Sekarang saya meniadi ibu paling bahagia. Sepulang kerja saya senang karena ada dua makhluk kecil yang merindukan saya. Mindy merengek-rengek manja minta perhatian. Sementara kakaknya membuntuti ke mana pun saya pergi. Segera saya cuci tangan, bersih-bersih dan ganti baju. SeteIah itu saya memberi ASI buat Mindy. Belum selesai menyusuinya, Sam bergabung di kamar dan ikut menyusu. Sebelum makan malam, saya sempatkan bermain dengan keduanya. Rasanya memiliki dua anak sudah cukup menyenangkan. Sekarang saya sungguh-sungguh menggunakan kontrasepsi!

Majalah Anakku


error: Content is protected !!