Inilah, 7 Mukjizat Sedekah yang Belum Kamu Ketahui

Inilah, 7 Mukjizat Sedekah yang Belum Kamu Ketahui
Mukjizat Sedekah Yusuf Mansur – Sedekah merupakan salah satu cara kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Karena apa yang kita miliki adalah pemberian-Nya. Jangan pernah kita menyombongkan diri dunia ini, sesungguhnya orang yang sombong tidak akan pernah bisa mencium baunya surga.

Perintah sedekah terdapat dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

“Tidak ada kebaikan pada kenbanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali dari bisikan-biskan orang yang menyuruh manusia memberi sedekah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar” (Q.S An-Nissa: 114)

Kita bersedekah tidak semata-mata memberikan harta yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan, akan tetapi sedekah sendiri memiliki manfaat yang sangat luar biasa untuk diri kita sendiri.

Berikut adalah manfaat dari bersedekah :

1. Allah SWT Akan Melipat Gandakan Harta Orang yang Besedekah

Mukjizat Bersedekah Menambah Kekayaan
Mungkin secara logika, jika kita bersedekah harta kita akan berkurang. Tapi justru sebaliknya, harta kita malah akan bertambah. Kok bisa ? Jelas bisa, karena ini adalah janjinya Allah SWT.

Allah SWT tidak akan pernah mengingkari janjinya. Jadi, apakah kamu enggan untuk bersedekah ? Berapapun harta yang kamu miliki, maka sedekahkanlah selagi bisa.

Kebanyakan orang memiliki mindset yang salah, mau bersedekah tapi tunggu kaya. Kalau Allah SWT panggil sebelum kaya gimana ?

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, pada setiap tangkainya terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendakinya dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah: 261)

2. Sedekah Dapat Menghapuskan Dosa

Mukjiazat Sedekah Menghapus Dosa
Perlu digaris bawahi, sedekah memang dapat menghapus dosa. Tapi bukan berarti boleh meninggalkan perintah Allah SWT yang lainnya. Selain itu harus disertai dengan taubat dan amalan yang baik.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api”(HR. At-Tirmidzi)

Setiap manusia pasti memiliki dosa. Oleh karena itu kita harus senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa yang pernah kita lakukan. Walaupun dosa kita sebanyak buih yang ada dilautan, jika kita bertaubat dengan ikhlas maka Insha Allah akan diampuni oleh Allah SWT.

3. Sedekah Merupakan Amalan Jariyah yang Tidak Akan Putus


Keutamaan dan Manfaat Sedekah

Rasulullah SAW bersabda : “Jika manusia itu mati maka terputus semua amalannya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh yang mendoakannya.” (HR. Tirmidzi)

Dari hadist tersebut dapat kita ambil hikmah, bahwa jika kita bersedekah jariyah pahala yang kita dapat tidak akan putus walaupun kita sudah meninggal. Maka dari itu perbanyaklah bersedekah sebagai investasi akhirat kita nanti.

4. Sedekah Dapat ​Membuka Pintu Rezeki

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan disana ada dua malaikat turun, salah satunya berkata : “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan malaikat yang lainnya berkata : “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan hartanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap rezeki yang kita dapat, jangan lupa untuk disedekahkan beberapa persen. Karena itu adalah haknya orang lain. Jika kita tidak memberikan hak itu, maka harta yang kita miliki tidak barokah.

5. Sedekah Dapat Menyembuhkan Penyakit

Salah satu keutamaan sedekah adalah dapat menyembuhkan penyakit. Karena dengan bersedekah kita dapat membersihkan hati dan pikiran. Dan secara psikologis dapat pula membantu penyembuhan penyakit kita.

Kok bisa ? Karena itu adalah rahmat dari Allah SWT. Makanya kita harus tetap bersyukur minimal mengucapkan “Alhamdulillah” setelah melakukan sesuatu.

Rasulullah SAW bersabda : “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan bersedekah dan siapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. At-Thabrani)


6. Sedekah Dapat Memperpanjang Umur


Manfaat Bersedekah Memperpanjang Umur
Dengan sedekah hidup kita terasa tentram dan bahagia. Bahagia bisa melihat orang lain senang dengan apa yang kita berikan. Semakin dekat dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya sedekah orang muslim dapat menambah umurnya, dapat menunda kematian yang su’ul khotimah (akhir yang jelek), Allah akan menghilangkan sifat sombong, kefakiran, dan sifat berbangga kepada diri sendiri.” (HR. At-Thabrani)

Umur tidak ada yang tau, jika kamu telah membaca keutamaan sedekah ini maka segeralah untuk bersedekah. Karena sedekah merupakan naungan kita di hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda : “Naungan bagi seorang muslim pada hari akhir adalah sedekahnya.” (HR. Akhmad)

7. Sedekah Dapat Menjauhkan Kita dari Api Neraka


Mukjizat Bersedekah

Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu, orang-orang yang berinfaq, baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)

Jadi ayat itu sangatlah jelas, bahwa kita bersedekah tidak harus diwaktu lapang saja. Akan tetapi di waktu sempit pun kita juga harus bersedekah.Sedekah mempunya banyak manfaat, akan tetapi jarang sekali yang mau bersedekah. Apa karena takut miskin ? sedekah tidak membuat kamu miskin malah sebaliknya.

Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak dapat diukur dengan uang. Buat apa uang banyak akan tetapi keluarga berantakan, tidak pernah mendirikan sholat, pergaulan anak kacau karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan, hati pun tidak tentram.

Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan dan saling berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Sampaikanlah walaupun cuman satu ayat.

Atau kamu bisa share artikel ini agar dapat bermanfaat untuk orang lain. Mari menebar bibit kebaikan untuk di panen diakhirat kelak.

Sahabat Qais dan Riwayat Makan Sahur

Sahabat Qais dan Riwayat Makan Sahur

Ketika Rasulullah Muhammad SAW dan para pengikutnya baru tiba dan berdiam di Madinah, Tuhan belum menurunkan perintah tentang kewajiban menunaikan ibadah puasa di sepanjang Ramadan. Hingga kemudian dalam dua putaran kalender Hijriah berikutnya, amar itu turun. Meski begitu, Nabi dan para sahabat tak lantas asing dengan istilah puasa. Mereka sudah terbiasa menahan makan dan minum dengan mengikuti ketentuan agama-agama tauhid sebelumnya. 

Tahun pertama ibadah puasa diwajibkan, Ramadan jatuh di bulan April yang menyengat. Suatu hari seorang sahabat bernama Qais ibn Shirmah tampak lunglai menjelang waktu berbuka. Setibanya ia di pintu rumah, Qais menanyakan kepada istrinya perihal penganan apa yang dapat disantap untuk menutup puasa hari yang dirasanya cukup berat itu.

“Maafkan aku, suamiku. Tak ada satu makanan pun yang dapat dihidangkan hari ini. Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mencarikannya untukmu,” jawab istri Qais.

Para sahabat memang terlatih dalam berpuasa. Hanya saja kala itu belum ada ketentuan pasti terkait anjuran dan kapan eloknya santap sahur dilaksanakan. Di siang hari, Qais pekerja berat. Namun karena kecintaannya terhadap Allah dan Rasul-Nya, ia tunaikan segenap kewajiban itu tanpa mengeluh.

Malam sudah larut. Qais tertidur lelap sekembalinya sang istri mencari makanan. 

“Kasihan engkau, wahai suamiku,” bisik sang istri, ia mengurungkan diri untuk membangunkan Qais.

Tiba-tiba malam terlempar menjadi fajar. Setelah salat Subuh, Qais kembali bekerja tanpa sempat memakan secuil apapun sedari satu hari sebelumnya. Hingga di tengah hari kemudian, terdengar kabar bahwa Qais jatuh pingsan, lemah tak berdaya.

Apa yang menimpa Qais sampai jua ke telinga Rasulullah. Nabi bermenung, kemudian Allah SWT menurunkan penjelasan dalam QS. Al-Baqarah ayat 2:

“Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.”

Juga Rasul pun bersabda, “Pembeda antara puasa kita (muslim) dengan puasa ahli kitab (agama terdahulu) adalah makan sahur.”

Mendapat kabar baik yang disampaikan Rasulullah, para sahabat merasa lega dan gembira. Di masing-masing benaknya yakin, anjuran santap sahur itu semakin menjelaskan bahwa Islam adalah sebenar-benarnya agama keselamatan.

Sumber: Disadur dari hadits yang diriwayatkan al-Barra ibn Azib dalam Sahih Bukhari

Sahabat Qais dan Riwayat Makan Sahur
Sahabat Qais dan Riwayat Makan Sahur

Sejarah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Sejarah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Kisah atau sejarah qurban berawal dari persitiwa Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya Nabi Ismail. Kemudian disyiarkan oleh Nabi terkahir Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk menyembelih qurban di hari raya Haji atau Idul Adha. Beginilah sejarah qurban dimulai dari kisah Nabi Ibrahim sa dan nabi Ismail sa.

Telah dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim tidak memiliki anak hingga di masa tuanya, lalu beliau berdoa kepada Allah.

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ash-Shafaat [37] : 100)

Kemudian Allah memberikan kepadanya kabar gembira akan lahirnya seorang anak yang sabar. Dialah Ismail, yang dilahirkan oleh Hajar. Menurut para ahli sejarah, Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Wallahu a’lam.

Nabi Ibrahim kemudian membawa Hajar dan Ismail, yang waktu masih bayi dan menyusu pada ibunya, ke Makkah. Pada saat itu di Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka disana beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma serta bejana kulit yang berisi air.

Setelah itu Nabi Ibrahim  berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata,
“Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?”

Pertanyaan itu diucapkan berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Hajar berkata kepadanya: “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”

“Ya.” Jawab Nabi Ibrahim

“Kalau begitu kami tidak disia-siakan.” Dan setelah itu Hajar pun kembali.
Ibrahim pun berangkat sehingga ketika telah jauh sampai di Tsamiyah, beliau pun menghadapkan wajahnya ke Baitullah dan berdoa:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS Ibrahim [14] : 37)

Dan Hajar pun menyusui Ismail dan minum dari air yang tersedia. Sehingga ketika air yang ada dalam bejana sudah habis, maka ia dan puteranya pun merasa haus. Lalu Hajar melihat puteranya merengek-rengek. Kemudian ia pergi dan tidak tega melihat anaknya tersebut. Maka ia mendapatkan Shafa merupakan bukit yang terdekat dengannya. Lalu ia berdiri di atas bukit itu dan menghadap lembah sembari melihat-lihat adakah orang di sana, tetapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana.

Setelah itu ia turum kembali dari Shafa dengan susah payah sehingga sampai di lembah. Lalu ia mendatangi bukit Marwah lalu berdiri disana seraya melihat-lihat adakah orang disana. Namun ia tidak mendapatkan seorang pun disana. Ia lakukan itu – berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah – sebanyak tujuh kali.

Setelah mendekati Marwah ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata, “Diam!” Maksudnya untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun mendengarnya.

“Engkau telah memperdengarkan. Adakah engkau dapat menolong?”

Tiba-tiba ia mendapati Malaikat di dekat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya sehingga muncullah air.

Selanjutnya Ibunda Ismail membendung air dengan tangannya dan menciduknya dan air bertambah deras.

Nabi Muhammad bersabda:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam – atau Beliau berkata: ‘seandainya dia tidak menciduk airnya- niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Kemudian ibunda Ismail minum dari air itu dan menyusui anaknya.

Ismail tumbuh menjadi besar dan belajar Bahasa Arab di kalangan Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari, ayahnya, Nabi Ibrahim datang menjumpainya. Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ibrahim datang menjumpai anaknya untuk menyampaikan perintah Allah agar menyembelihnya. Bisakah kalian bayangkan teman-teman? Setelah menunggu bertahun-tahun, Nabi Ibrahim baru dikaruniai anak di usia tuanya. Lalu beliau diperintahkan untuk meninggalkan anak dan isterinya di suatu tempat asing yang jauh darinya dan tidak berpenghuni. Meskipun sangat besar kecintaan beliau kepada keluarganya, namun beliau seorang yang teguh dan taat terhadap perintah Allah. Tidak sedikitpun beliau bergeming, bahkan bersegera ketika Allah memerintahkannya.

Nabi Ismail pun menjawab:

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliu berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.(QS Maryam [19] : 54)

Allah melanjutkan kisahnya di dalam Al-Qur’an:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS Ash-Shafaat [37] : 103)

Nabi Ibrahim lalu membaringkan anaknya di atas pelipisnya (pada bagian wajahnya) dan bersiap melakukan penyembelihan dan Ismail pun siap menaati perintah ayahnya.

Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 104:107)

Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah untuk menyembelih anaknya tercinta, dan Nabi Ibrahim dan Ismail  pun menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu. Lalu Allah menggantikan dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang besar berwarna putih, bermata bagus, bertanduk serta diikat dengan rumput samurah. Wallahu a’lam.

Demikianlah sejarah Ibadah qurban dari Nabi Ibrahim dan Ismail yang kemudian menjadi ibadah sunnah yang utama bagi umat Islam di hari Raya

Baca juga: Qurban adalah Sunnah Muakkad untuk dilaksanakan

sumber: saidnazulfiqar.files.wordpress.com/2008/04/kisah-qurban-yang-menakjubkan.pdf

Hidup Sebagai Ujian

Hidup Sebagai Ujian

HIDUP manusia di pentas dunia ini sebagai ujian dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar manusia bisa meraih nilai bagus di akhir hidupnya. Allah menurunkan petunjuk berupa al-Quran dan al-Hadis dengan perantaraan malaikat Jibril. Jika manusia berpegang kepada keduanya, insya Allah ia akan berhasil dalam masa ujiannya. Sebaliknya manusia yang meninggalkan petunjuk-petunjuk yang ada di dalamnya, dipastikan akan mengalami kegagalan.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Hanya kepada kamilah kamu dikembalikan.(QS. Al-Anbiya: 35).

Dalam hidup kita adalah masa percobaan di atas bumi ini. Kebersihan hati dan keimanan kita diuji dengan berbagai macam: ada yang diuji dengan bencana, dan ada yang dengan nasib baik dalam hidup ini. Kalau kita menguji watak kita, kita akan melalui masa percobaan dengan sukses jika dalam hal apa pun orang harus kembali kepada Allah, dan kemudian hidup kita akan dinilai dengan setepat-tepatnya.

Allah berfirman mengenai balasan orang yang meninggalkan agama dan tidak lulus dalam menjalankan ujian di dunia ini:

“ Barang siapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu ia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka, meraka kekal di dalamnya.(QS. al-Baqarah: 217).

Setiap jiwa pasti merasakan maut, dan akan ditunaikan pahala kalian pada hari kiamat. Barang siapa yang diselamatkan dari neraka dan dimasukkan ke surga, sungguh ia beruntung. Tidaklah kehidupan dunia melainkan harta benda yang memberdayakan.(QS. Ali Imran:185).

Ruh itu takkan mati, tetapi kematian jasad akan memberi rasa mati terhadap ruh bilamana ruh sudah terpisah dari jasad. Ruh itu kemudian menyadari bahwa hidup ini tidak lain adalah suatu masa percobaan, dan tampak adanya ketidaksamaan kelak saat akan diperlakukan pada hari kemudian.

Penting diingat bahwa biasanya manusia akan merasakan ujian saat sesuatu yang menjadi miliknya hilang. Misalnya: orangtua kehilangan anaknya, rumah atau tokonya kebakar, hartanya diambil orang, dan lain sebagainya. Pada saat kondisi seperti inilah biasanya ia diingatkan untuk bersikap sabar dan tawakal. Keimanannya sedang di uji oleh suatu nasib buruk yang menimpanya. Jika imannya kuat, ia akan bisa menerima bencana ini dengan tetap berada dalam jalur agama. Tetap beriman dan menyembah Allah Swt.

Akan tetapi, sebenarnya ujian itu juga berlaku bagi orang yang hidupnya dalam keadaan normal. Orang yang kaya diuji dengan kekayaannya, mampukah ia menunaikan zakat dan sedekah dengan hartanya itu. Orang yang memiliki jabatan, mampukah ia menjalankan amanatnya itu dengan baik. Orang yang berilmu, apakah ia menggunakan ilmunya itu untuk kemaslahatan umat dan tidak merungikan orang lain. Orang tua diuji oleh anak-anaknya, bisakah mereka menuntun anak-anaknya menjadi anak yang saleh dan bermanfaat bagi dirinya dan orang lain dan seterusnya.

Setiap kita, dalam keadaan apa pun, sedang dalam ujian Allah Swt, baik atau buruk hasil yang kita terima nanti di akhirat dengan memperoleh imbalan. Akan tetapi, kita harus ingat bahwa Allah maha pengampun dan maha penolong. Kasih sayang-Nya amat besar kepada hamba-hambanya. Karena itu, lebih baik di dunia ini kita mengetahui bahwa kita telah gagal dalam ujian. Dan kita coba memperbaikinya ke arah yang lebih baik. Kita harus yakin, selama hayat masih di kandung badan, Allah bersedia menolong kita kejalan yang benar.*/Muhammad Zul Arifin (dari buku Rindu Kematian Cara Meraih yang Indah, dengan penulis: Ustadz Muhammad Arifin Ilham)

Rep: Admin Hidcom

Editor: Syaiful Irwan

Hidup Sebagai Ujian
Hidup Sebagai Ujian

7 Pembuka Pintu Rejeki

7 Pembuka Pintu Rejeki
Salah satu ujian yang dirasakan berat oleh sebagian manusia adalah ujian berupa kekurangan harta. Banyak yang gagal dalam ujian ini, sehingga mereka terjerumus ke dalam kenistaan dengan melakukan hal tercela. Banyak juga yang mengelu ketika Allah membatasi rejekinya. Mereka seolah-olah lupa bahwa Allah merupakan Maha Pemberi Rejeki yang selalu melimpahkan rejeki kepada hambaNya. Seperti firman Allah dalam Qur’an Surah Hud

Allah berfirman “Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya(Qur’an Surah Hud:6) 

Lalu apa yang harus dilakukan bila Allah menguji dengan membatasi rejeki? Berikut tujuh langkah yang harus dilakukan agar Allah kembali membukakan pintu rejeki.

1. Berusaha dan Bekerja

Sudah merupakan sunatullah sebagai seorang manusia yang ingin mendapatkan limpahan rejeki dari Allah harus berusaha dengan sebaik-baiknya. Seperti firman Allah dalam Surah Jumu’ah:

Allah telah berfirman “kalau telah ditunaikan sholat jum’at maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia(Qur’an Surah Jumu’ah:10)

2. Bertakwa

Allah sangat mencintai hambaNya yang bertakwa. Orang yang bertakwa tidak akan pernah merasa susah karena Allahlah yang menjadi pelindung dan juga penolongnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ath Thalaq:

“……….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Qur’an Surah Ath Thalaq: 2)

3. Tawakal

Sebagai seorang hamba tentu sifat tawakal sangat diperlukan sebagai bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah. Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ Akhamul Qur’an mengatakan “barangsiapa menyerahkan urusannya kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi apa yang dia inginkan”. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Ath Thalaq

dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi [keperluan] nya(Qur’an Surah Ath Thalaq:3)

4. Syukur

Rasa syukur merupakan sifat yang disukai oleh Allah. Hakikat dari syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan Allah dan menggunakan nikmat tersebut untuk beribadah kepadaNya. Allah berfirman dalam surah Ibrahim:

Allah berfirman “kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh Kami akan menambah untuk kalian [nikmatKu] dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzabKu sangat keras (Qur’an Surah Ibrahim:7)

5. Sering Berinfaq

Jika seseorang ingin dilapangkan rejekinya, maka perbanyaklah berbagi seperti sedekah, infaq.

Allah yang Maha Memberi Rejeki berfirman “dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya(Qur’an Surah Saba:39)

6. Menyambung Tali Silahturahmi

Menyambung tali silahturahmi sangat di anjurkan oleh Nabi Muhamad Shallallahu Alaihi Wa Sallam seperti yang terdapat dalam hadisy Bukhari Muslim.

barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silahturahmi(Muttafaq Alaihi / Riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Doa

Doa merupakan salah satu senjata seorang muslim untuk segala keperluan. Dengan berdoa Insya Allah seseorang akan mendapatkan apa yang diinginkan selama itu berupa hal kebaikan. Terkadang apa yang diberikan oleh Allah melebihi apa yang diminta oleh hambaNya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menuntun kita agar berdoa ketika kita menghadapi kesulitan rejeki, “ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik, dan amalan yang diterima(Riwayat Ibnu Majah)

Keutamaan Hari Jumat : Hari Penuh Berkah dan Bersejarah

Keutamaan Hari Jumat : Hari Penuh Berkah dan Bersejarah
Keutamaan Hari Jumat : Hari Penuh Berkah dan Bersejarah
Keutamaan Hari Jumat : Hari Penuh Berkah dan Bersejarah

Keutamaan Hari Jumat. Hari Penuh Berkah dan Bersejarah dalam Islam.

Jumat adalah hari keenam dalam satu pekan. Kata Jumat diambil dari Bahasa Arab, Jumu’ah  (الجمعة)yang berarti beramai-ramai, diambil dari tata cara ibadah kaum Muslim yang dilakukan pada hari ini. Jumu’ah memiliki akar sama dengan Jama’ yang berarti banyak dan juga Jima’ yang artinya bergabung(Wikipedia)

Nama-nama hari dalam bahasa Indonesia diadopsi nama-nama bilangan dari bahasa Arab: 

  1. Wahid (وَاحِدٌ) – Ahad/Minggu
  2. Itsnain (اثْنَانِيْ) – Senin)
  3. Tsalasah (ثَلَاثَةُ) – Selasa
  4. Ar’ba’ah (أَرْبَعَةُ) – Rabu
  5. Khomsah (خَمْسَةُ) – Kamis
  6. Jumu’ah ( الجمعة) – Jumat
  7. Sab’ah (سَبْعَةُ) – Sabtu

Khusus hari keenam, tidak mengambil dari nama Sittah (سِتَّةُ ) atau Enam. Ini karena hari keenam dalam Islam memiliki keutamaan, salah satunya di hari keenam ini umat Islam melaksanakan shalat Jumat, sebuah shalat yang berbeda dengan shalat-shalat lainnya.

Shalat jumat harus dilaksanakan waktu dzhuhur, secara bersama-sama (berjamaah), terdiri dari dua rakaat, dan diawali dengan khotbah Jumat.

Keutamaan Hari Jumat

Rasulullah Saw menegaskan, “Sebaik-baik hari yang pada hari itu matahari terbit adalah Hari Jumat (HR Muslim). Berikut ini keutamaan hari Jumat berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw.

1. Hari Raya Umat Islam

Abu Hurairah meriwayatkan, Rasulullah bersabda: “Allah telah memalingkan orang-orang sebelum kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya mereka, oleh karena itu hari raya orang Yahudi adalah hari Sabtu, dan hari raya orang Nasrani adalah hari Ahad, kemudian Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk menjadikan hari Jumat sebagai hari raya, sehingga Allah menjadikan hari raya secara berurutan, yaitu hari Jumat, Sabtu, dan Ahad. Dan di hari kiamat mereka pun akan mengikuti kita seperti urutan tersebut, walaupun di dunia kita adalah penghuni yang terakhir, namun di hari kiamat nanti kita adalah urutan terdepan yang akan diputuskan perkaranya sebelum seluruh makhluk.” [HR. Muslim]  

2. Hari Khusus Melaksanakan Shalat Jumat

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَىٰ ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ 

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jumat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” [QS: Al-Jumu’ah:9]  

اَلْجُمْعَةُ حَقُّ وَاجِبٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ فِ جَمَاعَةٍ إِلاَّ عَلَى أَرْبَعَةٍ : عَبْدٍ مَمْلُوْكٍ أَوِمْرَأَةٍ أَوْصَبِيٍّ أَوْمَرِيْضٍ 
 

“Shalat jumat itu wajib atas tiap orang muslim berjamaah kecuali empat orang : Hamba sahaya, atau wanita, atau anak-anak (yang belum baligh) atau orang sakit.” (HR. Abu Dawud dan Alhakim) 

3. Hari Nabi Adam a.s. Diciptakan dan Terjadinya Kiamat
  
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ,, خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ فِيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ اْلجُمْعَةِ, فِيْهِ خُلِقَ آدَمُ عَلَيْهِ السَّلَامُ, وَفِيْهِ أُدْخِلَ اْلَجنَّةَ, وَفِيْهِ أُخْرِجَ مِنْهَا وَلَا تَقُوْمَ السَّاعَةُ إِلَّا فِي يَوْمِ اْلجُمْعَةِ 

“Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw. Bersabda : “Sebaik-baik hari yang pada hari itu matahari terbit adalah hari jumat, pada hari itu Adam diciptakan, pada hari itu ia dimasukkan ke jannah(surga) dan pada hari itu ia dikeluarkan dari jannah dan tidak akan terjadi hari kiamat kecuali pada hari jumat.” (HR. Muslim dan Tirmidzi).

4. Hari Waktu Khusus Doa Dikabulkan

وَعَنْ اَبِيْ مُوْسَى اَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ فِيْ سَاعَةِ الْجُمْعَةِ,, هِيَ مَابَيْنَ اَنْ يَجْلِسَ اْلإِمَامُ-يَعْنِيْ عَلَى الْمِنْبَرِ-اِلٰى اَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ,, 
 
Dan dari Abu Musa, sesungguhnya ia pernah mendengar Nabi saw. Bersabda tentang waktu (mustajab di) hari jumat yang dimaksud : yaitu antara Imam duduk—di atas mimbar sampai selesai salat. (HR. Muslim dan Abu Dawud) 

“Sesungguhnya pada hari jumat itu ada satu saat, yang tidak ada seseorang yang memohon sesuatu kepada Allah pada saat itu melainkan Allah pasti akan memberi kepadanya.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi) .

“Sesungguhnya pada hari jumat itu ada satu saat yang tidak bertepatan seorang muslim yang sedang memohon kebaikan kepada Allah azza wa jalla melainkan pada saat itu Allah pasti akan memberinya. Saat itu sesudah ashar.” (HR. Ahmad)

5. Hari Penghapusan Dosa
 

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah Saw bersabda: 

مَنْ تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْجُمُعَةَ فَاسْتَمَعَ وَأَنْصَتَ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ وَزِيَادَةُ ثَلَاثَةِ أَيَّامٍ وَمَنْ مَسَّ الْحَصَى فَقَدْ لَغَا 

“Barangsiapa berwudlu’, lalu memperbagus (menyempurnakan) wudlunya, kemudian mendatangi shalat Jum’at dan dilanjutkan mendengarkan dan memperhatikan khutbah, maka dia akan diberikan ampunan atas dosa-dosa yang dilakukan pada hari itu sampai dengan hari Jum’at berikutnya dan ditambah tiga hari sesudahnya. Barangsiapa bermain-main krikil, maka sia-sialah Jum’atnya.” (HR. Muslim)

6. Pahala Sedekah Dilipatgandakan 
  
الصَّدَقَةُ تُضَاعَفُ يَوْمَ الْجُمْعَةِ 

“Sedekah itu dilipat gandakan pahalanya pada hari jumat (yakni bila sedekah itu pada hari jumat maka pahala berlipat ganda dari lain-lain hari.” (HR. Abi Syaibah).

BacaKeutamaan Sedekah Hari Jumat

Salah satu amalan sunah hari Jumat adalah memperbanyak sholawat.

“Sesungguhnya hari yang paling utama bagi kalian adalah hari Jumat, maka perbanyaklah sholawat kepadaku di dalamnya, karena sholawat kalian akan ditunjukkan kepadaku, para sahabat berkata: ‘Bagaimana ditunjukkan kepadamu sedangkan engkau telah menjadi tanah?’ Nabi bersabda: ‘Sesungguhnya Allah mengharamkan bumi untuk memakan jasad para Nabi.” (Shohih. HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, An-Nasa’i).

Demikian keutamaan hari Jumat yang penuh berkah (Jumat Mubarok). Wallahu a’lam bish-shawabi. (www.risalahislam.com).*

Sumber: Shahihain, Na’lul Authar, Riyadus Shalihin

Konsep Kesehatan Dalam Islam

Konsep Kesehatan Dalam Islam

Islam sebagai agama yang sempurna dan lengkap. Telah menetapkan prinsip-prinsip dalam penjagaan keseimbangan tubuh manusia. Diantara cara Islam menjaga kesehatan dengan menjaga kebersihan dan melaksanakan syariat wudlu dan mandi secara rutin bagi setiap muslim.

Konsep Kesehatan Dalam Islam
Konsep Kesehatan Dalam Islam

Sehat adalah kondisi fisik di mana semua fungsi berada dalam keadaan sehat. Menjadi sembuh sesudah sakit adalah anugerah terbaik dari Allah kepada manusia. Adalah tak mung­kin untuk bertindak benar dan memberi perhatian yang layak kepada ketaatan kepada Tuhan jika tubuh tidak sehat.

Tidak ada sesuatu yang begitu berharga seperti kesehatan. Karenanya, hamba Allah hendaklah bersyukur atas kesehatan yang dimiltkinya dan tidak bersikap kufur. Nabi saw. bersabda, “Ada dua anugerah yang karenanya banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan yang baik dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Abu Darda berkata, “Ya Rasulullah, jika saya sembuh da­ri sakit saya dan bersyukur karenanya, apakah itu lebih baik daripada saya sakit dan menanggungnya dengan sabar?” Nabi saw menjawab, “Sesungguhnya Rasul mencintai kesehatan sama seperti engkau juga menyenanginya.”

Diriwayatkan oleh  at-Tirmidzi bahwa Rasulullah saw bersabda: ‘Barangsiapa bangun di pagi hari dengan badan schat dan jiwa sehat pula, dan rezekinya dijamin, maka dia seperti orang yang memiliki dunia seluruhnya.”            

Di antara ucapan-ucapan bijaksana Nabi Dawud as ada­lah sebagai berikut, “Kesehatan adalah kerajaan yang tersembunyi.” Juga. “Kesedihan sesaat membuat orang Jcbih tua satu tahun.” Juga, “Kesehatan adalah mahkota di kepala orang-orang yang schat, yang hanya bisa dilihac oleh orang-orang yang sakit.” Dan juga, “Kesehatan adalah harta karun yang tak terlihat.”

Konsep Islam Dalam Menjaga Kesehatan

 Anjuran Menjaga Kesehatan

Sudah menjadi semacam kesepakatan, bahwa menjaga agar tetap sehat dan tidak terkena penyakit adalah lebih baik daripada mengobati, untuk itu sejak dini diupayakan agar orang tetap sehat. Menjaga kesehatan sewaktu sehat adalah lebih baik daripada meminum obat saat sakit. Dalam kaidah ushuliyyat dinyatakan:

Dari Ibn ‘Abbas, ia berkata, aku pernah datang menghadap Rasulullah SAW, saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku, Nabi menjawab: Mintalah kepada Allah ampunan dan kesehatan, kemudian aku menghadap lagipada kesempatan yang lain saya bertanya: Ya Rasulullah ajarkan kepadaku sesuatu doa yang akan akan baca dalam doaku. Nabi menjawab: “Wahai Abbas, wahai paman Rasulullah saw mintalah kesehatan kepada Allah, di dunia dan akhirat.” (HR Ahmad, al-Tumudzi, dan al-Bazzar)

Berbagai upaya yang mesti dilakukan agar orang tetap sehat menurut para pakar kesehatan, antara lain, dengan mengonsumsi gizi yang yang cukup, olahraga cukup, jiwa tenang, serta menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang dapat menjadikannya terjangkit penyakit. Hal-hal tersebut semuanya ada dalam ajaran Islam, bersumber dari hadits-hadits shahih maupun ayat al-Quran.

Nilai Sehat dalam Ajaran Islam

Dengan merujuk konsep sehat yang dewasa ini dipaharm. berdasarkan rumusan WHO yaitu: Health is a state of complete physical, mental and social-being, not merely the absence q; disease on infirmity (Sehat adalah suatu keadaan j^sm rohaniah, dan sosia] yang baik, tidak hanyatidak bt”.*)-esiyal cacat). Dadang Ha\v?ri melaporkan, bahwa s^aK ^hunsehingga rnonjadi -eliat

Menurut penelitian ‘Ali Mu’nis, dokter spesialis internal Fakultas Kedokteran Universitas ‘Ain Syams Cairo, menunjukan bahwa ilmu kedokteran modern menemukan kecocokan terhadap yang disyariatkan Nabi dalam praktek pcngobatan yang berhubungan dengan spesialisasinya.

Sebagaiman disepakati oleh para ulama bahwa di balik pengsyariatan segala sesuatu termasuk ibadah dalam Islam terdapat hikrnah dan manfaat phisik (badaniah) dan psikis (kejiwaan). Pada saat orang-orang Islam menunaikan kewajiban-kewajiban keagamannya, berbagai penyakit lahir dan batin terjaga.

Kesehatan Jasmani

Ajaran Islam sangat menekankan kesehatan jasmani. Agar tetap sehat, hal yang perlu diperhatikan dan dijaga, menurut sementara ulama, disebutkan, ada sepuluh hal, yaitu: dalam hal makan, minum, gerak, diam, tidur, terjaga, hubungan seksual, keinginan-keinginan nafsu, keadaan kejiwaan, dan mengatur anggota badan.

Pertama; Mengatur Pola Makan dan Minum

Dalam ilmu kesehatan atau gizi disebutkan, makanan adalah unsur terpenting untuk menjaga kesehatan. Kalangan ahli kedokteran Islam menyebutkan, makan yang halalan dan thayyiban. Al-Quran berpesan agar manusia memperhatikan yang dimakannya, seperti ditegaskan dalam ayat: “maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya”.(QS. ‘Abasa 80 : 24 ) 

Dalam 27 kali pembicaraan tentang perintah makan, al-Quran selalu menekankan dua sifat, yang halal dan thayyib, di antaranya dalam (Q., s. al-Baqarat (2)1168; al-Maidat (s):88; al-Anfal (8):&9; al-Nahl (16) : 1 14),

Kedua; Keseimbangan Beraktivitas dan Istirahat

Perhatian Islam terhadap masalah kesehatan dimulai sejak bayi, di mana Islam menekankan bagi ibu agar menyusui anaknya, di samping merupakan fitrah juga mengandung nilai kesehatan. Banyak ayat dalam al-Quran menganjurkan hal tersebut.

Al-Quran melarang melakukan sesuatu yang dapat merusak badan. Para pakar di bidang medis memberikan contoh seperti merokok. Alasannya, termasuk dalam larangan membinasakan diri dan mubadzir dan akibatyang ditimbulkan, bau, mengganggu orang lain dan lingkungan.

Islam juga memberikan hak badan, sesuai dengan fungsi dan daya tahannya, sesuai anjuran Nabi: Bahwa badanmu mempunyai hak

Islam menekankan keteraturan mengatur ritme hidup dengan cara tidur cukup, istirahat cukup, di samping hak-haknya kepada Tuhan melalui ibadah. Islam memberi tuntunan agar mengatur waktu untuk istirahat bagi jasmani. Keteraturan tidur dan berjaga diatur secara proporsional, masing-masing anggota tubuh memiliki hak yang mesti dipenuhi.

Di sisi lain, Islam melarang membebani badan melebihi batas kemampuannya, seperti melakukan begadang sepanjang malam, melaparkan perut berkepanjangan sekalipun maksudnya untuk beribadah, seperti tampak pada tekad sekelompok Sahabat Nabi yang ingin terus menerus shalat malam dengan tidak tidur, sebagian hendak berpuasa terus menerus sepanjang tahun, dan yang lain tidak mau ‘menggauli’ istrinya, sebagaimana disebutkan dalam hadits:

“Nabi pernah berkata kepadaku: Hai hamba Allah, bukankah aku memberitakan bahwa kamu puasa di sz’am? hari dan qiyamul laildimalam hari, maka aku katakan, benarya Rasulullah, Nabi menjawab: Jangan lalukan itu, berpuasa dan berbukalah, bangun malam dan tidurlah, sebab, pada badanmu ada hak dan pada lambungmujuga ada hak” (HR Bukhari dan Muslim).

Ketiga; Olahraga sebagai Upaya Menjaga Kesehatan

Aktivitas terpenting untuk menjaga kesehatan dalam ilmu kesehatan adalah melalui kegiatan berolahraga. Kata olahraga atau sport (bahasa Inggris) berasal dari bahasa Latin Disportorea atau deportore, dalam bahasa Itali disebut ‘deporte’ yang berarti penyenangan, pemeliharaan atau menghibur untuk bergembira. Olahraga atau sport dirumuskan sebagai kesibukan manusia untuk menggembirakan diri sambil memelihara jasmaniah.

Tujuan utama olahraga adalah untuk mempertinggi kesehatan yang positif, daya tahan, tenaga otot, keseimbangan emosional, efisiensi dari fungsi-rungsi alat tubuh, dan daya ekspresif serta daya kreatif. Dengan melakukan olahraga secara bertahap, teratur, dan cukup akan meningkatkan dan memperbaiki kesegaran jasmani, menguatkan dan menyehatkan tubuh. Dengan kesegaran jasmani seseorang akan mampu beraktivitas dengan baik.

Dalam pandangan ulama fikih, olahraga (Bahasa Arab: al-Riyadhat) termasuk bidang ijtihadiyat. Secara umum hokum melakukannya adalah mubah, bahkan bisa bernilai ibadah, jika diniati ibadah atau agar mampu melakukannya melakukan ibadah dengan sempurna dan pelaksanaannyatidakbertentangan dengan norma Islami.

Sumber ajaran Islam tidak mengatur secara rinci masalah yang berhubungan dengan berolahraga, karena termasuk masalah ‘duniawi’ atau ijtihadiyat, maka bentuk, teknik, dan peraturannya diserahkan sepenuhnya kepada manusia atau ahlinya. Islam hanya memberikan prinsip dan landasan umum yang harus dipatuhi dalam kegiatan berolahraga.

Nash al-Quran yang dijadikan sebagai pedoman perlunya berolahraga, dalam konteks perintah jihad agar mempersiapkan kekuatan untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh, yaitu ayat:

“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu najkahkanpadajalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS.Al-Anfal :6o):

Nabi menafsirkan kata kekuatan (al-Quwwah) yang dimaksud dalam ayat ini adalah memanah. Nabi pernah menyampaikannya dari atas mimbar disebutkan 3 kali, sebagaimana dinyatakan dalam satu hadits:

Nabi berkata: “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sang gupi” Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, Ingatlah kekuatan itu adalah memanah, (HR Muslim, al-Turmudzi, Abu Dawud, Ibn Majah, Ahmad, dan al-Darimi) 

Keempat; Anjuran Menjaga Kebersihan

Ajaran Islam sangat memperhatikan masalah kebersihan yang merupakan salah satu aspek penting dalam ilmu kedokteran. Dalam terminologi Islam, masalah yang berhubungan dengan kebersihan disebut dengan al-Thaharat. Dari sisi pandang kebersihan dan kesehatan, al-thaharat merupakan salah satu bentuk upaya preventif, berguna untuk menghindari penyebaran berbagai jenis kuman dan bakteri.

Imam al-Suyuthi, ‘Abd al-Hamid al-Qudhat, dan ulama yang lain menyatakan, dalam Islam menjaga kesucian dan kebersihan termasuk bagian ibadah sebagai bentuk qurbat, bagian dari ta’abbudi, merupakan kewajiban, sebagai kunci ibadah, Nabi bersabda: “Dari ‘Ali ra., dari Nabi saw, beliau berkata: “Kunci shalat adalah bersuci” (HR Ibnu Majah, al-Turmudzi, Ahmad, dan al-Darimi)

Berbagai ritual Islam mengharuskan seseorang melakukan thaharat dari najis, mutanajjis, dan hadats. Demikian pentingnya kedudukan menjaga kesucian dalam Islam, sehingga dalam buku-buku fikih dan sebagian besar buku hadits selalu dimulai dengan mengupas masalah thaharat, dan dapat dinyatakan bahwa ‘fikih pertama yang dipelajari umat Islam adalah masalah kesucian’.

‘Abd al-Mun’im Qandil dalam bukunya al-Tadaivi bi al-Quran seperti halnya kebanyakan ulama membagi thaharat menjadi dua, yaitu lahiriah dan rohani. Kesucian lahiriah meliputi kebersihan badan, pakaian, tempat tinggal, jalan dan segala sesuatu yang dipergunakan manusia dalam urusan kehidupan. Sedangkan kesucian rohani meliputi kebersihan hati, jiwa, akidah, akhlak, dan pikiran.

Terakhir, semoga pemaparan di atas semakin menambah pengetahuan kita tentang korelasi antara Islam dan kesehatan dan menguatkan azam kita untuk menekuni pengobatan yang telah diajarkan oleh Nabi agung kita Muhammad saw, amin….

PENGUSAHA KAYA YANG DERMAWAN “USTMAN BIN AFFAN”

PENGUSAHA KAYA YANG DERMAWAN "USTMAN BIN AFFAN"
Banyak  sekali  pengusaha  yang  mengaku sebagai  pengusaha  Muslim.  Tetapi  ketika gagal dalam bisnisnya, mereka menjustifikasi kegagalan itu dengan alasan bahwa dunia ini hanya hiasan semata, dunia hanya sementara, uang tidak dibawa mati, dan alasan lainnya. Masjid pun menjadi sekadar tempat “persembunyian” ketika mereka gagal memenuhi value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah). Bahkan secara masif telah terjadi pemahaman yang keliru tentang uang dan harta.
PENGUSAHA KAYA YANG DERMAWAN "USTMAN BIN AFFAN"
PENGUSAHA KAYA YANG DERMAWAN “USTMAN BIN AFFAN”
 

Pemahaman seperti ini terjadi karena kebanyakan doktrin yang  kita terima sejak kecil bersifat negatif. Contoh doktrin negatif tersebut adalah uang itu kotor, orang kaya itu sombong, uang merusak persahabatan dan persaudaraan, serta  kata-kata  yang  paling  favorit:  uang  adalah  akar masalah. Dengan kondisi pemahaman seperti ini, wajar saja  banyak  di  antara  saudara  kita—kaum  Muslimin—mengesampingkan value  of  prosperity ini, dan hanya nyaman  ketika  mereka  bersentuhan  dengan  nilai kemanusiaan (Al Qimah Al  Insaniyyah), nilai etik (Al Qimah Al Akhlaqiyyah), dan terutama nilai spiritual (Al Qimah Al Ruhiyyah).

Padahal jika kita menganalisa hukum syara’—yang memerintah kita melakukan perbuatan tertentu—kita akan menemukan  bahwa  harus ada keseimbangan  dalam mengusahakan  keempat  nilai-nilai  di  atas.  Islam  tidak mengajarkan kita fokus hanya pada nilai ruhiyyah dan melupakan nilai-nilai yang lain, demikian juga sebaliknya. Masalahnya bukan kita tidak boleh fokus ke nilai ruhiyyah, tetapi kita juga harus ingat ada nilai-nilai lain yang juga harus kita usahakan dalam hidup, termasuk value of prosperity (Al Qimah Al Madiyyah).

Value  of  prosperity  adalah  sesuatu  yang  kita usahakan berhubungan dengan materi. Misalnya, uang, tabungan, rumah, kendaraan, dan hal yang berbentuk benda atau materi.  Allah  telah  memerintahkan  kita  untuk memenuhi  value  of  prosperity.  Sebagai  contoh,  ketika Allah  memerintahkan  jual  beli,  bekerja,  ataupun membentuk syirkah (kerja sama usaha, seperti syirkah mudharabah, syirkah abdan, dll) sebenarnya bertujuan merealisasikan value of prosperityAl Qimah Al Madiyyah ini erat kaitannya dengan ketiga nilai yang lain. Misalnya dengan uang, kita bisa pergi haji, membayar zakat, bersedekah, membantu orang yang dalam kesusahan, memberikan pendidikan yang baik kepada anak kita, dan banyak amal shalih lain yang bisa dilakukan dengan uang.

Jika uang beredar di tangan orang orang yang shalih maka  tidak  mungkin  mereka  membuat  bisnis  yang melanggar syara’ seperti judi online, bisnis esek-esek, dugem, dan aktivitas bisnis lainnya yang dimurkai oleh Allah. Uang dimanfatkan di jalan Allah. Mari kita flash back ke 1.400 tahun yang lalu, ketika dakwah Rasul didukung oleh para pengusaha seperti Abu Bakar, Umar, Usman, Abdurrahman bin Auf, banyak yang sudah mereka lakukan dengan harta mereka untuk tegaknya Islam di muka bumi ini. Para sahabat Rasul yang juga pengusaha ini telah menorehkan  tinta  emas  dalam  sejarah  kegemilangan Islam

Kali ini, kami akan membahas sosok sahabat Ustman bin Affan. Sahabat Ustman bin Affan adalah salah satu sosok nyata yang menyeimbangkan antara value of prosperity dan kesederhanaan. Ustman Bin Affan adalah pengusaha besar di zaman Rasulullah. Meskipun kaya raya, beliau hidup dengan sederhana dan sangat dermawan sehingga beliau dijuluki sebagai Bapak Zuhud.

Suatu ketika pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra, kaum Muslimin dilanda kemarau dahsyat. Mereka mendatangi Khalifah Abu Bakar dan berkata, “Wahai khalifah Rasulullah, langit tidak menurunkan hujan dan bumi kering tidak menumbuhkan tanaman, dan orang meramalkan datangnya bencana, maka apa yang harus kita lakukan ?”

Abu Bakar ra menjawab: “Pergilah dan sabarlah. Aku berharap sebelum tiba malam hari Allah akan meringankan kesulitan kalian.

Pada petang harinya di Syam ada sebuah kafilah dengan 1.000 unta mengangkut gandum, minyak, dan kismis. Unta itu lalu berhenti di depan rumah Ustman, lalu mereka menurunkan muatannya. Tidak lama kemudian pedagang datang menemui Ustman, si pedagang kaya, dengan maksud ingin membeli barang itu.

Lalu Ustman berkata kepada mereka: “Dengan segala senang hati. Berapa banyak keuntungan yang akan kalian berikan ?”

Mereka menjawab: “Dua kali lipat.”

Ustman menjawab: “Wah sayang, sudah ada penawaran lebih.”

Pedagang itu kemudian menawarkan empat sampai lima kali lipat, tetapi Ustman menolak dengan alasan sudah ada penawar yang akan memberi lebih banyak. Pedagang menjadi bingung lalu berkata lagi pada Ustman: “Wahai Ustman, di Madinah tidak ada pedagang selain kami, dan tidak ada yang mendahului kami dalam penawaran. Siapa yang berani memberi lebih ?”

Ustman menjawab: ”Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?”

Mereka serentak menjawab: “Tidak!”

Ustman berkata lagi: “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah sedekah karena Allah untuk fakir miskin daripada kaum muslimin.”

Petang hari itu juga Ustman r.a membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama.

Itulah salah satu kedermawanan Ustman Bin Affan, merupakan keistimewaan yang dimilikinya selain sebagai Khulafaur Rasyidin, dan beliau juga termasuk salah seorang dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga. Ustman bin Affan merupakan khalifah ketiga setelah wafatnya Umar bin Khattab. Bangsawan dan konglomerat Makkah yang dijamin masuk surga oleh Rasulullah SAW karena perjuangan dan ketaqwaannya. Seorang pribadi shalih yang jujur, lembut, dan pemalu. Jasa beliau untuk  menstandarkan teks Al Quran memberi sumbangsih besar dalam penyebaran Islam ke seluruh penjuru dunia. Data kekayaan beliau:

  • Assetnya bernilai 151.000 dinar plus 1000 dirham
  • Mewariskan property sepanjang ‘Aris dan Khaibar
  • Memiliki beberapa sumur oasis senilai 200.000 dinar atau 240 Miliar IDR

Namun di akhir masa kekhalifahan dan hidupnya, harta yang dimiliki Utsman r.a hanya tersisa dua ekor unta saja. Semuanya dinafkahkan untuk kesejahteraan umat. Bahkan beliau pun tidak mau menerima tunjangan (gaji) dari baitul maal. Subhanallah, inilah karakter khas generasi didikkan langsung Rasulullah SAW.

(adm)
sumber referensi : mediaumat.com , portalinvestasi.com

SEJARAH VALENTINE DAY DAN HUKUM MERAYAKANNYA DALAM ISLAM

SEJARAH VALENTINE DAY DAN HUKUM MERAYAKANNYA DALAM ISLAM

Sejarah Valentine Days.

Menurut data dari Ensiklopedi Katolik, nama Valentinus diduga bisa merujuk pada tiga martir atau santo (orang suci) yang berbeda.

Hubungan antara ketiga martir ini dengan hari raya kasih sayang (valentine) tidak jelas. Bahkan Paus Gelasius I, pada tahun 496, menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada yang diketahui mengenai martir-martir ini namun hari 14 Februari ditetapkan sebagai hari raya peringatan santo Valentinus. Ada yang mengatakan bahwa Paus Gelasius I sengaja menetapkan hal ini untuk mengungguli hari raya Lupercalia yang dirayakan pada tanggal 15 Februari.

Santo atau Orang Suci yang di maksud yaitu :

  • Pastur di Roma
  • Uskup Interamna (modern Terni)
  • Martir di provinsi Romawi Afrika.

Sisa-sisa kerangka yang digali dari makam Santo Hyppolytus, diidentifikasikan sebagai jenazah St. Valentinus. Kemudian ditaruh dalam sebuah peti dari emas dan dikirim ke gereja Whitefriar Street Carmelite Church di Dublin, Irlandia. Jenazah ini telah diberikan kepada mereka oleh Paus Gregorius XVI pada tahun 1836. Banyak wisatawan sekarang yang berziarah ke gereja ini pada hari Valentine (14 Februari), di mana peti dari emas diarak dalam sebuah prosesi dan dibawa ke sebuah altar tinggi. Pada hari itu dilakukan sebuah misa yang khusus diadakan dan dipersembahkan kepada para muda-mudi dan mereka yang sedang menjalin hubungan cinta.

Hari raya Valentine Days ini dihapus dari kalender gerejawi pada tahun 1969 sebagai bagian dari sebuah usaha yang lebih luas untuk menghapus santo-santo yang asal-muasalnya tidak j

SEJARAH VALENTINE DAY DAN HUKUM MERAYAKANNYA DALAM ISLAM
SEJARAH VALENTINE DAY DAN HUKUM MERAYAKANNYA DALAM ISLAM

elas, meragukan dan hanya berbasis pada legenda saja. Namun pesta ini masih dirayakan pada paroki-paroki tertentu.

Hukum Merayakan Valentine Dalam Islam

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah melarang untuk mengikuti tata cara peribadatan selain Islam, artinya, ” Barangsiapa meniru suatu kaum, maka ia termasuk dari kaum tersebut ” (HR. At-Tirmidzi) .

Ibnu Qayyim al-Jauziyah berkata, ” Memberikan ucapan selamat terhadap acara ritual orang kafir yang khusus bagi mereka, telah disepakati bahwa perbuatan tersebut HARAM “.

Mengapa ? karena berarti ia telah memberi selamat atas perbuatan mereka yang menyekutukan Allah subhanahu wata’ala. Bahkan perbuatan tersebut lebih besar dosanya di sisi Allah subhanahu wata’ala dan lebih dimurkai dari pada memberi selamat atas perbuatan minum khamar atau membunuh.

Syaikh Muhammad al-Utsaimin ketika ditanya tentang Valentine’s Day mengatakan, ” Merayakan Hari Valentine itu tidak boleh ”, karena alasan berikut :

Pertama : Ia merupakan hari raya bid’ah yang tidak ada dasar hukumnya di dalam syari’at Islam.

Kedua : Ia dapat menyebabkan hati sibuk dengan perkara-perkara rendahan seperti ini yang sangat bertentangan dengan petunjuk para salaf shalih (pendahulu kita) -semoga Allah meridhai mereka-.

Contoh kasus : ada seorang gadis mengatakan bahwa ia tidak mengikuti keyakinan mereka, hanya saja hari Valentine tersebut secara khusus memberikan makna cinta dan suka citanya kepada orang-orang yang memperingatinya.

Saudaraku!! Ini adalah suatu kelalaian, mengadakan pesta pada hari tersebut bukanlah sesuatu yang sepele, tapi lebih mencerminkan pengadopsian nilai-nilai Barat yang tidak memandang batasan normatif dalam pergaulan antara pria dan wanita sehingga saat ini kita lihat struktur sosial mereka menjadi porak-poranda. Hendaknya setiap muslim merasa bangga dengan agamanya, tidak menjadi orang yang tidak mempunyai pegangan dan ikut-ikutan. Semoga Allah subhanahu wata’ala melindungi kaum muslimin dari segala fitnah (ujian hidup), yang tampak ataupun yang tersembunyi dan semoga meliputi kita semua dengan bimbingan-Nya.

Di dalam ayat lainnya, artinya, ” Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari Akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya.” (Al-Mujadilah: 22).

Jadi, kesimpulan dari hukum Perayaan Valentine adalah sebagai berikut :

Seorang muslim dilarang untuk meniru-niru kebiasan orang-orang di luar Islam, apalagi jika yang ditiru adalah sesuatu yang berkaitan dengan keyakinan, pemikiran dan adat kebiasaan mereka.

Bahwa mengucapkan selamat terhadap acara kekufuran adalah lebih besar dosanya dari pada mengucapkan selamat kepada kemaksiatan seperti meminum minuman keras dan sebagainya.

Haram hukumnya umat Islam ikut merayakan Hari Raya orang-orang di luar Islam.

Valentine’s Day adalah Hari Raya di luar Islam untuk memperingati pendeta St. Valentinyang dihukum mati karena menentang Kaisar yang melarang pernikahan di kalangan pemuda. Oleh karena itu tidak boleh ummat Islam memperingati hari Valentine’s tersebut.

Sumber :

INGAT ALLAH HATI MU AKAN TENANG

INGAT ALLAH HATI MU AKAN TENANG
INGAT ALLAH HATI MU AKAN TENANG
INGAT ALLAH HATI MU AKAN TENANG

Ingatlah Allah Hati Mu Akan Tenang.

“Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang”

Kejujuran itu kakasih Allah. Keterusterangan merupakan sabun pencuci hati. Pengalaman itu bukti. Dan seseorang pemandu jalan tak akan membohongi rombongannya. Tidak ada satu pekerjaan yang lebih melegakan hati dan lebih agung pahalanya, selain berdzikir kepada Allah.

{Karena itu, inagtlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu.} (QS. Al-Baqarah: 152)

Berdzikir kepada Allah adalah surga Allah di bumi-Nya. Maka, siapa yang tak pernah memasukinya, ia tidak dapat memasuki surga-Nya di akhirat kelak. Berdzikir kepada Allah merupakan penyelamat jiwa dari pelbagi kerisauan, kegundahan, kekesalan dan goncangan. Dan dzikir merupakan jalan pintas paling mudah untuk meraih kemenangan dan kebahagiaan hakiki. Unutk melihat feadah dan manfaat dzikir, coba perhatikan kembali beberapa pesan wahyu Ilahi. Dan cobalah mengamalkannya pada hari-hari Anda, niscaya Anda akan mendapatkan kesembuhan.

Dengan berdzikir kepada Allah, awan ketakutan, kegalauan, kecemasan dan kesedihan akan sirna. Bahka, dengan berdzikir kepada-Nya segunung tumpukan beban kehidupan dan permasalahan hidup akan runtuh dengan sendirinya.

Tidak mengherankan bila orang-orang yang selalu mengingat Allah senantiasa bahagia dan tentram hidupnya. Itulah yang memang seharusnya terjadi. Adapun yang sangat mengherankan alah bagaimana orang-orang yang lalai dari dzikir kepada Allah itu justru menyembah berhala-berhala dunia. Padalah,  

{(Berhala-berhala) itu mati tidak hidup dan berhala-berhala itu tidak mengetahui bilakah penyembahan-penyembahnya akan dibangkitkan.} (QS. An-Nahl: 21)

Wahai orang yang mengeluh karena sulit tidur, yang menangis karena sakit, yang bersedih karena sebuah tragedi, dan yang berduka karena suatu musibah, sebutlah nama-Nya yang kudus! Betapapun,

{Apakah kamu mengetahui ada seorang yang sama dengan Dia (yang patut disembah)?} (QS.Maryam: 65)

Semakin banyak Anda mengingat Allah, pikiran Anda akan semakin terbuka, hati Anda semakin tentram, jiwa Anda semakin bahagia, dan nurani Anda semakin damai sentausa. Itu, karena dalam mengingat Allah terkandung nilai-nilai ketawakalan kepada-Nya, keyakinan penuh kepada-Nya, ketergantungan diri hanya kepada-Nya, kepasrahan kepada-Nya, berbaik sangka kepada-Nya, dan pengharapan kebahagiaan dari-Nya. Dia senantiasa mengaulkan jika dimohon. Rendahkan dan tundukkan diri Anda ke hadapan-Nya, lalu sebutlah secara berulang-ulang nama-Nya yang indah dan penuh berkah itu dengan lidah Anda sebagai pengejawantahan dari ketuhidan, pujian, doa, permohonan dan permintaan ampunan Anda kepada-Nya.

Dengan begitu, niscaya Anda – berkat kekuatan dan pertolongan dari-Nya-akan mendapatkan kebahagiaan, ketentraman, ketenangan, cahaya penerang dan kegembiraan. Dan,

{Karena itu Allah menberikan kepada mereka pahala di dunia, dan pahala yang baik di akhirat.} (QS. Ali ‘Imran: 148)