Kisah 2 janda hidup miskin & kadang puasa tapi sekolahkan anak yatim

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Kisah 2 janda hidup miskin & kadang puasa tapi sekolahkan anak yatim

Kehidupan yang dijalani Astima (70), janda yang tinggal di Banjar Ketapang, Desa Pengambengan, Kabupaten Jembrana, di Bali, ini sungguh luar biasa. Di tengah kondisinya yang lumpuh, dia tinggal bersama anaknya yang juga janda. Hebatnya lagi, di tengah-tengah mereka ada seorang bocah berumur 5 tahun anak asuhnya yang yatim piatu.

Sejak lima tahun lalu, janda miskin ini tinggal di gubuk depan menara suar pelabuhan perikanan Pengambengan. Kelumpuhan yang dialami wanita tua ini sudah berjalan belasan tahun sejak suaminya meninggal 20 tahun lalu.

Kondisi tempat tidurnya pun sangat tidak layak. Hanya beralas kasur tipis yang sudah usang tanpa sprai dan bau. Demikian halnya lantai kamar yang awalnya dari semen sudah terkelupas dan berganti dengan tanah.

Dinding rumahnya setengah menggunakan bata merah, namun telah terkikis angin dan hujan. Sementara setengahnya lagi terbuat dari bilik yang sudah compang-camping.

Dalam rumah yang sangat sederhana dan tidak layak huni itu, Astima tinggal bersama Niswati (50), anak perempuannya yang juga seorang janda. Bahkan Astima juga mengajak tinggal Isma Sakina (5), anak tetangganya yang sudah yatim piatu karena kedua orang tuannya meninggal.

Untuk makan, keluarga kecil dan sangat memprihatinkan ini hanya seadanya saja. Bahkan tak jarang mereka berpuasa lantaran tidak memiliki beras untuk dimasak.

Selama ini yang menopang kebutuhan sehari-hari hanya Niswati sebagai buruh serabutan. Penghasilannya tidak menentu. Kadang dia pulang membawa uang hanya cukup untuk beli beras satu kilo, kadang dia harus pulang dengan tangan hampa.

“Saya di pantai bantu-bantu nelayan sandarkan perahu, kadang membetulkan jaring. Terpenting saya dapat upah untuk bisa makan,” ujar Niswati, Kamis (12/3) di Jembrana Bali.

Hebatnya wanita ini, di tengah penderitaannya bersama ibunya yang tak tergolek lemas. Namun tetap berjuang untuk menyekolahkan anak yatim piatu yang diasuhnya sejak 2 tahun lalu.

“Yang saya pikirkan sekarang hanyalah masa depan Isma Sakina (anak angkat). Karena sudah waktunya dia sekolah,” ucapnya lirih.

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!