Kisah Mengharukan Petani dan Putri Angkatnya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Petani China ini membesarkan anak yang ditemukannya di tumpukan jerami
Kisah Mengharukan Petani dan Putri Angkatnya
Deng Xuefeng dalam pertunjukkan Impian Jadi Kenyataan.

– Seorang gadis cantik bernama Deng Xuefeng melangkah ke atas panggung pertunjukan “Impian Jadi Kenyataan” lengkap dengan kostum untuk tarian Jinghong. Tarian Xuefeng yang disiarkan di televisi China itu mungkin biasa saja.

Mahasiswi kedokteran tingkat keempat itu memang tidak pernah belajar menari, hanya untuk acara itu yang dia harap dapat membuka jalan bagi kesembuhan ayahnya, yang menderita asma selama bertahun-tahun.

“Walaupun kami menari, tapi yang menarik perhatianku bukan tarianmu, tapi matamu. Kalian lihat matanya begitu bersinar-sinar?” kata pembawa acara, yang disebut sebagai Guru Popo. Kedua mata Xuefeng memancarkan kasih, yang muncul dari pengalaman hidupnya.

Gadis 23 tahun itu mengatakan datang dengan satu impian, yaitu ayahnya mendapat kesempatan memeriksakan kesehatan. “Ayahku waktu kecil pernah menderita asma, dia tidak pernah memeriksakan penyakitnya. Hanya pergi ke toko obat, lalu beli obat sendiri. Kadang tidak cocok,” ucapnnya.

Menurut Xuefeng yang punya wajah cantik itu, ayahnya pernah menyarankan agar dia menempuh pendidikan guru agar hidupnya terjamin. “Sejak kecil saya lihat ayah menderita, maka saya putuskan pilih kedokteran,” tuturnya.

Guru Popo memuji Xuefeng karena memilih menjadi dokter, menyebut gadis itu akan menjadi kebanggaan ayahnya. Namun Xuefeng segera membalas, bahwa justru ayahnya yang menjadi kebanggaan dirinya, teladan hidupnya.

“Anak perempuan sayang ayah itu wajar, apakah kamu tidak sayang ibu?” tanya Guru Popo. Penonton dalam acara itu tampak tak sanggup menghentikan tetes air mata, saat mengetahui lebih lengkap kisah hidup Xuefeng dan ayahnya.

Dia ditemukan 23 tahun lalu di tumpukan jerami oleh Deng yang kini berusia 60 tahun. Hanya dibungkus selembar kain tipis, di tengah malam yang dingin saat musim salju. Deng pun memberinya nama Xuefeng, yang artinya burung hong di musim dingin.

Xuefeng juga menepis penilaian Guru Popo bahwa hidupnya sangat menyedihkan. “Saya rasa saya beruntung. Kalau saya berada di keluarga mereka, saya tidak akan bahagia seperti sekarang. Walau miskin, tapi keluargaku bertiga masih bisa melewati hidup bahagia bersama-sama,” ucapnya.

Ikuti kisah selengkapnya dengan menonton video berikut ini:

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!