BERITA FOTO: Anak-anak Korban Perang Suriah Hidupnya Telantar, Tidur di Hutan dan Jalanan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Lima tahun sudah perang sipil di Suriah terjadi.

Jutaan pengungsi mencari tempat teraman untuk kelangsungan hidup keluarga mereka.

Tak hanya rumah, mereka juga meninggalkan teman-teman dan kerabat dekat mereka.

Yang paling menderita akibat perang berkepanjangan ini, tak lain dan tidak bukan adalah anak-anak; bagaimana kondisi kesehatan mereka, bagaimana pendidikan mereka, dan di manakah anak-anak ini tidur saat perang terjadi?

Fotografer Magnus Wennan, yang berkeliling Eropa dan Timur Tengah mendokumentasikan anak-anak korban perang, memberikan jawabannya.

Shehd (7)

Shehd merupakan sosok yang ceria. Ia sangat menyukai menggambar. Dari pemantauan ibunya, ia sangat menyukai menggambar senapan. β€œIa melihatnya (senapan) sepanjang waktu,” kata ibunya.

Semenjak mengungsi, kegemaran Shehd melukis mendadak hilang. Menurut ibunya, mengungsi membuat anaknya tumbuh terlalu cepat. Kini mereka tinggal di perbatasan Hungaria. Mereka mengambil makan dari pohon-pohon di sekitarnya. Mereka bilang, jika tahu betapa melaratnya mengungsi, mereka akan tetap tinggal di Suriah.

Ahmed (6)

Ayah Ahmed tewas di kota asal mereka, Deir ez-Zor, Suriah bagian utara. Sekarang ia diurus oleh pamannya dan tengah berusaha keluar dari Hungaria tanpa harus mendaftar pada pihak otoritas.

Ahmed membawa tasnya yang berat sendirian, tak memperdulikan usianya yang masih sangat muda. β€œIa adalah anak yang berani, sesekali menangis ketika malam hari,” ujar pamannya.

Dua bersaudara ini hidup dan tinggal di jalanan Beirut bersama ayah mereka. Cara hidup ini telah mereka tempuh hampir satu tahun lamanya. Ketika tidur, mereka saling memeluk satu dengan yang lainnya untuk mencari kehangatan.

Keluarga ini berasal dari Damaskus, dan melarikan diri ke Beirut setelah sebuah granat membunuh ibu dan saudara lelaki mereka.

Abdullah (5)

Abdullah bisa tertidur di sebuah kasur kotor di luar stasiun kereta api di Belgrade, Serbia.

Ia terlihat masih shock jika mengingat pembunuh saudara perempuannya, Daraa. Kondisi Abdullah kini tidak dalam kondisi baik, tapi ibunya tak punya uang untuk pengobatannya.

Amir (20 bulan)

Amir, sekarang berusia 20 bulan, belum berbicara sepatah kata pun. Ibunya percaya bahwa ia mungkin telah mengalami trauma sejak dalam kandungan.

Mereka kini tinggal di sebuah tenda plastik di sebuah kamp pengungsian di Zehle, Lebanon. Meskipun tak berbicara, ibunya mengaku, Amir banyak tertawa.

Mereka, anak-anak itu adalah sedikit saja dari jutaan anak-anak korban perang, yang jangankan memikirkan masa depan, mencari tempat tidur saja sulit. Apa pun alasannya, perang tidak bisa dibenarkan!

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!