cara orang jaman dulu melahirkan : cerita siti chuntari

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

cara orang jaman dulu melahirkan : cerita siti chuntari

Siti Chuntari (70)
ibu 3 anak, nenek 7 cucu dan 11 cicit

Betapa tabunya saat itu untuk menyebut vagina…

Sampai menjelang melahirkan, sayatidaktahu lewat mana bayi akan keluar, dan ketika bertanya pada ibu, ia malah berbisik, “Nantijuga kamu tahu dari mana.” saya pun hanya bisa menunggu dengan cemas. Baru ketika si sulung Defi lahir -tahun 1963- saya tahu kalau bayi dengan berat 2,7 kg itu keluar dari vagina. Persalinan terjadl di rumah orangtua di Semarang. Kebetulan rumah bidan berada di belakang rumah kami. Rasa sakit menjelang melahirkan membuat saya tidak tahan dan melempari semua bantal ke lantai. Suami saya, Munandar Sastrodipu ro, yang tinggal d i Jakarta, baru datang 3 hari kemudian.

Saya memberi ASI selama setahun lebih…

Seperti kebiasaan masyarakat kala itu, bayi juga diberi beberapa tetes madu. Di usia 8 bulan saya memberi Defi nasi lembek yang dikepal-kepal. lmunisasi yang diberikan adalah untuk mencegah cacar yang kala itu mewabah. Saya menikah di usia muda… Baru usia 18 tahun, lulus SMA. Beberapa bulan setelah menikah di Semarang, saya diboyong suami yang bekerja di Departemen pertanian ke Jakarta. Kami mengontrak rumah diarea Blok S, Kebayoran Baru. Jakarta masih sepi. Transportasi hanya bemo, oplet persegi dari kayu dan helicak. Ke mana-mana saya berani sendiri, sebab aman. Saya hamil tiga tahun setelah menikah. Karena sama sekali tidak punya informasi, awalnya saya kira hanya sakit karena badan pegal-pegal, pusing dan mual-mual. Kakak yang seorang bidan, kemudian memeriksa dan menyatakan saya hamil. Sewaktu melihat ada anak membawa belimbing besar yang masih menempel ditangkainya, saya langsung kepengen. Suami pun mencari belimbing sampai ke Glodok. Namun saya tidak menyentuh belimbing yang ia beli karenatidak lagi nempel di tangkai nya. Oh itu yang namanya ngidam! Kehamilan saya diperiksa oleh kakak secara rutin. Saya pantang makan nanas dan durian karena katanya berbahaya bagi janin.

Seusai melahirkan, kedua kaki diikat seminggu agar tidak banyak bergerak…

Katanya agar letak vagina tidak melenceng. Selama3 bulan saya memakai bengkung sepanjang 8 meter dan perut dibalur rapat agar kerut-kerut hilang. Rambut saya yang panjang harus dikeramas tiap hari untuk memperlancar ASl. Selama masa nifas, saya dilarang makan makanan berkuah, pedas dan bersantan. Jika makan daging tempe atau tahu harus dibakar. Untuksnacksaya makan kacang panjang atau kacangtanah rebus. Pagi hari minum wejahan, beragam pucuk tanaman yang dised u h air panas. Setiap sore mengunyah ketumbar yang disangrai dan biang kunyit. Semua pantangan dan anjuran itu ternyata berkhasiat. ASl tidak amis, tubuh bayi dan tubuh saya pun beraroma segar. Empat puluh hari setelah melahirkan saya diurut. Bayi di dadah atau dipijat karena dianggap lelah telah menempuh ‘perjalanan’ jauh dari rahim menuju dunia. Bayi juga harus rapi memakai gurita dan dibedong.

Majalah Ayahbunda

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!