Demi Biayai Adik-adiknya, Gadis Yatim Piatu Rela Menambang Batu

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Sungguh berat perjuangan hidup seorang gadis belia, Arniman Zai (16).

Dengan tangan kecilnya, dia memec ah, mengumpulkan, mengangkat batu-batu kecil dari Sungai Oyo, yang berada di Desa Tuwuna, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat, Sumatera Utara, guna menghidupi adik-adiknya.

Arniman bersama para tetangganya di setiap hari menghabiskan waktu seharian di antara bebatuan yang berada di dasar sungai Oyo. Dia merupakan anak sulung dari pasangan Toloni Zai dan Niati Zebua.

β€œSaya sudah tidak memiliki kedua orang lagi karena keduanya sudah meninggal, dan saya yang paling besar, harus bisa menghidupi adik-adik,” katanya, Sabtu (22/11/2014).

Sungai Oyo merupakan salah satu sungai terpanjang dan terbesar di Kepulauan Nias. Sungai ini telah menjadi sumber mata pencaharian sebagian besar penduduk Desa Tuwuna dan sekitarnya. Di tempat ini mereka melakukan penambangan batu secara tradisional dengan peralatan seadanya.

Terdapat belasan orang laki-laki dan perempuan yang menjadi penambang di tempat ini. Mereka mulai beraktivitas sejak pukul 07.30 – 17.00 dan hanya istirahat untuk makan siang. β€œPernah merasa malas bekerja dan berpikir saya capek, sakit, tetapi niat saya bekerja untuk adik-adik saya,” katanya dengan tegar.

Ditempat ini, Arniman Zai, bersama para lelaki menggali batu dari bukit dengan linggis yang kemudian batu-batu tersebut dikumpulkan berdasarkan ukurannya. Tak jarang, dia tak mampu mengangkat bongkahan batu besar.

β€œLebih enak menjadi diri sendiri ketimbang merepotkan orang lain, tetap menatap bagaimana bisa bertahan hidup,” ungkapnya.

Pekerjaan mengumpulkan, mengangkat dan memecahkan batu itu sebenarnya bukanlah menjadi bagian pekerjaan para perempuan. Namun demi memenuhi kebutuhan dirinya dan empat adiknya, dia terpaksa melakoninya.

Harga kerikil dan batu hasil tambang para pemecah batu di Sungai Oyo ini bervariasi, untuk sirtu atau split dijual Rp500 ribu per truk, sedangkan kerikil bervariasi antara Rp300 ribu – Rp600 ribu per truk.

Mereka juga menjual pasir seharga Rp250 ribu per truk, sedangkan untuk satu unit mobil bak terbuka berkisar antara Rp250 ribu – Rp300 ribu per unit.

Namun diakui, harga tersebut yang belum sepadan dengan kerja keras mereka, apalagi tidak setiap hari ada konsumen yang datang membeli. Menurut Arniman Zai, mereka tidak punya pilihan lain, meski risiko pekerjaan ini lumayan berbahaya. “Tangan saya sempat luka saat memecahkan batu,” katanya lirih.

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!