Pasutri Ini Didik 100 Orang Cacat Mental dan Fisik Secara Cuma-Cuma

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

15

Bekas luka memang terlihat di tangan kirinya ketika ditemu di The School of Live jalan Cakrawala Utara 3 Semarang Utara, Jumat (9/1/2015). Ialah Fandy Kusuma, salah satu pendiri sekolah yang mengayomi ‘orang-orang terbuang’ di kota Semarang.

Berkemeja batik dengan celana panjang hitam ia kemudian duduk dan bercerita tentang awal mula dia bisa menghidupi dan mendidik seratus orang dengan cacat mental dan fisik di lintas usia. “Tangan saya ini pernah digigit hingga dagingnya keluar saat saya mencoba menenangkan salah satu siswa,” terang Fandy.

The School of Life menurut Fandy dibentuk secara tidak sengaja ketika ia bersama istri Priskilla Smith Jully merawat beberapa orang yang memiliki sakit kejiwaan. “Saya lihat orang tua yang ditinggal dipinggir jalan dengan keadaan yang kacau, pertama yang saya pikirkan saat itu saya merasa diterima dengan senang hati oleh Tuhan, kenapa tidak saya menerima orang-orang ini?” papar Fandy.

Dengan bekalnya kuliah di Udinus, saat itu ia mencoba membuat kurikulum pembelajaran untuk berbagai keterbatasan. Ia menyatakan banyak dibantu juga oleh mahasiswa Fakultas Psikologi di berbagai Universitas di Semarang untuk pembelajaran bersama.

“Kesulitannya karena kami menerima beragam orang terbuang baik cacat mental atau ketunaan seperti tuna netra, atau ketunaan ganda semisal buta dan tuli, maka kurikulum setiap anak harus dibedakan, padahal SDM kami terbatas,” jelasnya kepada Tribun Jateng.

Dari langkah itu kemudian ia sering mendapat titipan-titipan dari rekan atau keluarga yang ingin memasukan orang yang kurang beruntung. Ia menerangkan sering menemui orang tua yang menitipkan anaknya hingga anak yang menitipkan orang tuanya.

“Bahkan ada yang setelah dititipkan tidak lagi ditengok, hingga akhirnya wafat karena usia, keluarga juga tidak ingin mengurus, tapi kami kebumikan dengan wajar,” ungkapnya.

Kini ia memiliki 100 lebih siswa dengan rentang usia dari 2 tahun hingga 80 tahun. Setiap siswa dinilai per tiga bulan dengan peringkat masing masing. Jika sudah dinyatakan lulus, mereka boleh keluar dan terjun kedalam masyarakat secara normal.

“Tujuan kami hanya satu membuat orang-orang yang terbuang ini bisa kembali di manusiakan dan terjun ke masyarakat layaknya manusia utuh, banyak juga lulusan kami yang akhirnya kembali dan menjadi mentor di sini,” pungkas Fandy. (*)

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!