sholat syuruq

Panduan Sholat Syuruq Lengkap : Niat, Tata Cara, dan Keutamaan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Isyraq atau syuruq adalah terbit atau terbuka. Jika digabungkan dengan kata shalat maka memiliki arti shalat sunnah saat matahari terbit. Oleh karena itu ada istilah sholat syuruq karena sholat sunnah syuruq adalah sholat sunnah yang dilakukan saat matahari berjarak satu tombak dari terbitnya. Hal tersebut diriwayatkan oleh An Nawawi dalam Kitab Ar Raudhoh. Menurut Imam Al-Albani. Beliau ditanya tentang berapakah jarak satu tombak. Beliau menjawab:

“Satu tombak adalah 2 meter menurut standar ukuran sekarang.” (Mausu’ah Fiqhiyah Muyassarah, 2/167).

Secara umum, jika diperkirakan dalam hitungan saat ini sekitar 15 menit setelah terbit. Pendapat lainnya menurut mazhab Syafi’i adalah 20 menit setelah terbit. Sementara pendapat mazhab Hanafi adalah 40 menit setelah terbit. Hal ini harus menjadi perhatian utama saat akan mengerjakan shalat syuruq, jangan sampai melakukan saat matahari belum meninggi karena hal itu dilarang oleh Rasulullah seperti hadist berikut:

ثلاث ساعات كان النبي صلى الله عليه وسلم ينهانا أن نصلي فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع, وحين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس, وحين تضيف للغروب حتى تغرب

“Ada tiga waktu di mana Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk melaksanakan shalat di tiga waktu tersebut atau menguburkan jenazah kami: (1) ketika matahari terbit sampai tinggi, (2) ketika seseorang berdiri di tengah bayangannya sampai matahari tergelincir dan (3) ketika matahari miring untuk tenggelam sampai benar-benar tenggelam. ” (HR. Muslim 1926)

Berdasarkan hadist tersebut waktu syuruq dan waktu dhuha dimulai pada waktu yang sama. Lalu apakah perbedaan shalat isyraq dan dhuha?. Beberapa ulama ada yang meyatakan hukum shalat isyraq  adalah sunnah mustaqillah (anjuran tersendiri) dan shalat dhuha adalah sunnah muakkadah (anjuran ditekankan). Namun, menurut sebagian besar ulama karena keduanya dapat diamalkan pada waktu yang sama yaitu setelah matahari terbit maka dapat disimpulkan, pada hakekatnya kedua shalat ini adalah sama, yaitu shalat dhuha. Hanya saja, shalat syuruq adalah shalat dhuha yang dilakukan diawal waktu. Imam ibnu Utsaimin mengatakan:

“ Shalat sunah syuruq termasuk shalat dhuha, hanya saja dikerjakan di awal waktu, ketika matahari terbit, dan sudah naik sekitar satu tombak, syarat isyraq. Namun jika dilakukan di akhir waktu atau di pertengahan waktu maka statusnya shalat dhuha.” (Liqa’at Bab al-Maftuh, 24/141)

Sehingga, orang yang melaksanakan shalat syuruq sebenarnya sedang melaksanakan shalat dhuha di awal waktu dan masih boleh melaksanakan dhuha di waktu selanjutnya baik dalam satu titik maupun pada titik waktu lainnya hingga matahari mencapai tengah (istiwa). Dan untuk jumlah rakaatnya, sebagian besar ulama tidak membatasi jumlah paling banyak dalam melakukan shalat dhuha yang dipilih oleh Madzhab Maliki, Syafi’i, dan Hambali.

Dari Umi Hani’ binti Abi Thalib, radhiallaahu ‘anha, bahwasanya Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahnya ketika fathu Mekah dan Beliau shalat delapan rakaat. (HR. Bukhari, no.1176 dan Muslim, no.719)

Sebagian lainnya membatasi hingga 12 rakaat. Pendapat ini dipilih oleh Imam Ahmad dan menurut Imam Syafii pendapat ini lemah.

“Barangsiapa yang shalat dhuha 12 rakaat, Allah buatkan baginya satu istana di surga.” Namun hadis ini termasuk hadis dhaif. Hadis ini diriwayatkan oleh Tirmidzi, Ibn Majah, dan Al-Mundziri dalam Targhib wat Tarhib. Tirmidzi mengatakan, “Hadis ini gharib (asing), tidak kami ketahui kecuali dari jalur ini.” Hadis ini didhaifkan sejumlah ahli hadis, diantaranya Al-Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani dalam At-Talkhis Al-Khabir (2: 20), dan Syaikh Al-Albani dalam Al-Misykah (1: 293)

Ada pula yang tidak membatasi jumlah rakaat dhuha. Pendapat ini dipilih oleh As-Suyuthi dalam Al-Hawi. As suyuthi berpendapat “Tidak terdapat hadis yang membatasi Shalat Dalah pendapat yang tidak memiliki sandaran sebagaimana yang diisyaratkan oleh Al-Hafidz Abul Fadl Ibn Hajar dan yang lainnya.”.

Tata Cara Sholat Syuruq

bacaan sholat syuruq

Berikut ini adalah tata cara sholat syuruq atau sholat isyraq mulai niat hingga salam. Secara umum tidak ada yang berbeda dalam melakukan shalat isyraq dengan shalat lainnya. Hanya berbeda dalam niat saja dan ada beberapa surat dalam alquran yang dianjurkan untuk dibaca dalam shalat.

1. Niat Sholat Syuruq

Shalat syuruq atau dhuha dilakukan sejumlah 2 rakaat dengan sekali salam, sama seperti shalat sunnah lainnya. Berikut niat sholat syuruq

أصلى سنة الإشراق ركعتين لله تعالى

Usholli sunatal isyraki rak’ataini lillahi ta’ala

Aku berniat shalat syuruq dua rakaat karena Allah Ta’ala

2. Takbiratul ihram

3. Baca Surat Al-Fatihah dan setelah itu

4. Membaca salah satu surat dalam alquran

5. Rukuk kemudian Itidal

6. Sujud pertama

7. Duduk di antara dua sujud (iftirasy)

8. Sujud kedua

9. Berdiri kembali

10. Melaksanakan rakaat kedua dengan membaca surat Surat Al-Fatihah

11. Membaca salah satu surat dalam alquran

12. Rukuk kemudian Itidal

13. Sujud pertama

14. Duduk di antara dua sujud

15. Sujud kedua

16. Salam

Surat-surat yang sunnah dibaca ketika melaksanakan shalat syuruq atau dhuha, setelah membaca surat al fatihah adalah sebagai berikut:

1. Surat Al-Waqiah

2. Surat Asy-Syams

3. Surat Ad-Dhuha

4. Surat Al-Kafirun

5. Surat Quraisy

6. Surat Al-Ikhlas

Sedangkan doa yang sunnah dibaca setelah Shalat syuruq atau Dhuha diajarkan oleh Sahabat Rasulullah, Umar bin Khattab yang disebutkan oleh Imam Al-Suyuthi dalam kitab Al-Jami’ush Shaghir. doa solat sunat isyraq sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ لَكَ اْلحَمْدُ، أَصْبَحْتُ عَبْدَكَ عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ، خَلَقْتَنِيْ وَلَمْ أَكُ شَيْئاً، اَسْتَغْفِرُكَ لِدِيْنِيْ، فَإِنَّهُ قَدْ اَرْهَقَتْنِيْ ذُنُوْبِيْ، وَ أَحَاطَتْ بِيْ، إِلاَّ أَنْ تَغْفِرَهَا، فَاغْفِرْهَا يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

Allohumma lakal hamdu, ashbahtu ‘abdaka ‘alaa ahdika wa wa’dika kholaqtanii wa lam aku syai-aa, astaghfiruka lidiinii fa innahuu qod arhaqotnii dzunuubii wa ahaathot bii illaa taghfirhaa faghfirhaa yaa arhamar rohimiin.

Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Aku memasuki waktu pagi sebagai hamba-Mu untuk memenuhi janji-janji-Mu. Engkau menciptakan aku sementara aku bukan apa-apa. Aku memohon ampunan kepada-Mu untuk agamaku, sesungguhnya dosa-dosaku telah membebaniku dan telah meliputiku kecuali Engkau memaafkannya, maka maafkanlah wahai Dzat paling penyayang di antara para penyayang.

Keutamaan Sholat Syuruq

niat sholat syuruq

Dua hadist berikut menjelaskan keutamaan shalat syuruq atau shalat dhuha:

Dari Abu Umamah radhiyallahu’anhu, Rasulullah Saw bersabda:

” Barangsiapa yang mengerjakan sholat subuh dengan berjamaah di masjid, lalu dia tetap berdiam di masjid sampai melaksanakan sholat sunnah dhuha (di awal waktu, syuruq), maka ia seperti mendapat pahala orang yang berhaji atau berumroh secara sempurna.” (HR. Thabrani. Syaikh Al-Albani dalam Shahih Targhib (469) mengatakan bahwa hadits ini shahih lighairihi (shahih dilihat dari jalur lainnya).

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu telah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam :

“Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk atau dia menetap (dalam riwayat lain) di mesjid untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“(HR. Tirmidzi no. 586, Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Perlu diingat, bahwa kata sempurna yang diulang hingga tiga kali dalam hadist tersebut bukan berarti kita mendapat pahala tiga kali lipatnya, tetapi itu adalah kata penegasan dari Rasulullah bahwa pahala yang didapat bernilai sangat sempurna. Dari dua hadist tersebut, dapat diketahui keutamaan shalat syuruq yang utama adalah

  1. Dengan berniat shalat syuruq berarti melaksanakan anjuran untuk shalat subuh secara berjamaah di masjid
  2. Waktu lebih bermanfaat karena digunakan untuk berdzikir setelah subuh hingga masuk waktu shalat syuruq
  3. Mendapat pahala seperti haji dan umrah secara sempurna

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!