Seberapa banyak porsi makan anak usia 1-2 tahun yang benar? Ini tipsnya

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Porsi makan anak usia 1-2 tahun – Bayi yang beberapa bulan lalu sangat tergantung pada Anda, sekarang sudah dapat menikmati setiap jenis makanan yang Anda sajikan. Bukan hanya makanan bayi, tapi juga makanan yang termasuk daiam daftar menu keluarga. Sehingga, makanan yang Anda berikan bisa semakin bervariasi. Itu sebabnya, Anda sebaiknya meningkatkan kemampuan dalam menyusun maupun menyajikan menu menu spesial untuk keluarga, khususnya untuk si kecil tersayang.

Rasa ingin tahu anak kini kian besar. Hal ini bisa Anda jadikan sarana untuk memperkaya referensi rasa
indera pengecapnya. Dengan mengenalkannya pada berbagai macam makanan, di kemudian hari anak diharapkan tidak mengalami masalah sulit makan.

Porsi makan anak usia 1-2 tahun

Setelah si kecil melewati tahun pertama. umumnya ia akan memiliki wawasan yang lebih luas terhadap berbagai benda yang ada di sekitarnya, termasuk makanan. Ini semua terjadi sejalan dengan proses pertumbuhan dan perkembangan tubuhnya yang tengah berlangsung dengan pesat. Dari hari ke hari, kemampuan si kecil untuk mengunyah. menelan. dan memanfaatkan lidahnya untuk menikmati kelezatan makanan terus bertambah. Begitu juga kemampuan fisiknya. Aktivitas sehari-harinya yang makin bertambah, membuat anak membutuhkan asupan makanan yang lebih banyak porsi dan variasinya.

Memang, mungkin saja hari ini ia hanya mengkonsumsi sedikit makanan. Tapi, keesokan harinya tiba-tiba dia melahap makanan dalam porsi besar. Perubahan pola makan seperti lni, normal-normal saja Anda jangan terkejut, karena sekarang cara si kecil “memandang” makanannya pun tengah mengalami perubahan.

Dia semakin jelas menunjukkan sikap “suka” dan “tidak suka” terhadap makanan yang Anda sajikan, sehingga kesannya, kini anak menjadi “si pemilih”. Bisa jadi hari ini ia menolak makanan yang minggu lalu sempat menjadi makanan favoritnya. Semua lni sesungguhnya terjadi karena perhatian anak lebih banyak tercurah pada hal-hal baru yang mengundang rasa ingin tahunya, sehingga makanan tidak lagi menjadi obyek yang menank untuk “diteliti”.

Namun, Anda tak perlu khawatir bila anak menolak makanannva. Setelah puas melakukan “penlelajahan”, biasanya dia akan merasa lapar. Nah, pada saat itulah dia akan minta makan, dan segera melahap makanannya. Anda bisa menyiasati keadaan ini dengan menyiapkan porsi makan yang kecil saja setiap kali waktu makan tiba, namun dengan frekuensi yang lebih sering. Karena itu, Anda bisa menyiapkan makanan selingan padat gizi seperti roti isi ragut. atau skotel kentang isi wortel, buncis dan daging.

Majalah Ayahbunda

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!