Semangat Luar Biasa Murtini, Dosen Tunanetra yang Incar Gelar Profesor

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

20141009_181943_murtini-dosen

Perempuan tua berjilbab itu dengan sangat hati-hati turun dari becak. Dipapah oleh sang pengayuh becak, ibu yang berpakaian biru tua dan jilbab putih tersebut bertanya kepada beberapa orang yang ada di depan kantor Kesatuan Kebangsaan dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Kendal.

“Ini kantor Kesbangpol Kendal?” tanya ibu yang ternyata seorang tunanetra tersebut. “Iya, Bu. Ada keperluan apa?” tanya Marki, salah satu staf pegawai Kesbangpol.

“Nama saya Murtini, saya mau bertemu dengan kepala Kesbangpol Kendal,” ujarnya. Lalu dengan diantar Marki, Murtini masuk ke kantor kepala Kesbangpol. Namun sayang, orang yang ia cari ternyata sedang menjalankan tugas di luar. Meski begitu, ia tetap dilayani oleh staf Kesbangpol.

Murtini, yang mengaku sudah meraih gelar doktor, datang ke Kendal untuk melakukan kunjungan ke beberapa kantor instansi pemerintah, yakni Kesbangpol, Satpol PP, Kantor Kecamatan, Pengadilan Negeri, Kejaksaan Negeri, dan lainnya.

“Saya dosen Universitas Riau. Tujuan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia untuk memperoleh gelar profesor dan untuk mengetahui tingkat pelayanan publik terhadap penyandang tunanetra,” kata ibu kelahiran Palembang, 19 Maret 1958, ini.

Wanita yang dalam surat perjalanannya beralamat di Kampung Pinang, Kelurahan Pinang, Tangerang Selatan, ini mengaku, perjalanan keliling Indonesia dilakukan karena ia ingin mengetahui pelayanan publik, baik di kepolisian, TNI, maupun pejabat di tingkat pemerintahan kabupaten/kota, terhadap penyandang tunanetra.

Dari hasil kunjungan ini, Murtini menyimpulkan, ada beberapa kantor yang belum memberikan pelayanan publik secara maksimal, terutama kantor-kantor di pemerintah daerah. Sementara itu, kantor Pengadilan Negeri, Kejaksaan, dan Pertanahan dinilainya sudah berjalan dengan baik.

Menurut Murtini, pelayanan publik di pemerintah daerah belum maksimal karena rendahnya sumber daya manusia (SDM). Untuk itu, pemerintah perlu memperbaiki SDM agar pelayanan publik berjalan maksimal.

Raih rekor Muri

Murtini mengatakan bahwa ia memulai perjalanan keliling Indonesia pada tahun 2007 silam. Dia memulai perjalanan dari Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam. Aksi perjalanan ini sempat meraih penghargaan Museum Rekor Indonesia-Dunia (Muri). Hingga kini, sudah ada puluhan daerah yang disinggahi.

“Dari daerah satu ke daerah lain, saya menggunakan pesawat terbang, bus, dan kadang kereta api. Tidurnya saya di hotel dan losmen,” ujarnya.

Murtini telah menyiapkan uang Rp 200 juta untuk bekal selama perjalanan itu. Uang itu disimpan di bank. Jika membutuhkannya, ia tinggal mengambil lewat ATM. Untuk mengambil uang lewat ATM, istri seorang tentara itu meminta bantuan kepada petugas bank.

“Keinginan saya melakukan perjalanan keliling Indonesia sebenarnya tidak disetujui oleh keluarga. Bahkan, keluarga sempat mengurung saya di dalam rumah agar tidak melakukan perjalanan tersebut,” ujarnya.

Ibu yang mengaku pernah dikira sebagai seorang peminta-peminta saat berada di salah satu kantor pemerintahan daerah itu mengaku memaklumi larangan keluarganya, mengingat bahwa dirinya adalah penyandang tunanetra.

“Kabupaten Kendal ini adalah daerah terakhir yang saya kunjungi. Setelah ini, saya pulang ke Tangerang,” kata Murtini, yang sudah 2 hari ini berada di Kendal dan tidur di Hotel Melati, Jalan Soekarno-Hatta, Kendal.

Penyebab Murtini buta

Dalam kesempatan itu, Murtini menceritakan bahwa kebutaan yang dia alami bukan bawaan lahir, melainkan akibat kecelakaan. Pada tahun 2004 silam, kendaraan yang ditumpanginya, bersama sejumlah dosen untuk menghadiri seminar tentang kurikulum, mengalami kecelakaan di Puncak, Jawa Barat. Kecelakaan tersebut menyebabkan 10 dari 12 penumpang mobil meninggal dunia dan 2 penumpang lain cacat seumur hidup, termasuk dirinya yang mengalami kebutaan.

“Sebelumnya, saya sempat mendapatkan perawatan medis hingga ke luar negeri. Namun, upaya medis itu tetap membuat mata saya tidak bisa digunakan untuk melihat,” katanya diringi senyum tipis.

Murtini mengajar dua kali dalam sebulan. Selama mengajar, ia membawa asisten untuk membantunya sehingga tidak kesulitan melakukan komunikasi dengan mahasiswa. “Sebulan dua kali, saya terbang dari Tangerang ke Riau,” tambahnya.

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!