New york dan busana muslim?? seperti apa ya? Yuk kita cek..

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

newyorkBaru-baru ini, tiga desainer muda lndonesia: Barli Asmara, Dian Pelangi, dan Zaskia Sungkar menampilkan karya mereka yang bertema budaya Lombok di panggung New York Fashion Week.

New York dan busana Muslim?

Secara “kasat mata”, dua hal tadi saling bertolak belakang. Namun dalam realitas Amerika Serikat pasca 9/11 justru membuat generasi muda Muslim -terutama Muslimah muda-semakin nyaman menunjukkan diri mereka lewat balutan busana tedutup.

Hijabista, perpaduan antara kata hijab/ hijabi dan fashionista, akhirnya menjadi satu idiom yang menggambarkan para Muslimah yang tetap ingin tampil sfylish, namun tidak keluar dari syariat lslam. Mereka mengartikannya dengan busana sopan yang modis. Berbeda dengan para perempuan bangsawan Arab tempo dulu yang justru banyak mengenakan adibusana karya desainer top dunia seperti Oscar de la Renta di balik kaftan dan abaya mereka.

Modesty Defined lslamic Fashion Council of America (MDIFC) berdiri pada Januari 201 3 dengan tujuan menolong para desainer busana Muslim di Amerika untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan soft skills lain agar bisa berkompetisi dalam industri fahion Amerika. MDIFC tak hanya membidik desainer busana Muslim, tapi juga desainer aksesori dan perhiasan, pelajar bidang fashion, hingga para profesional di industri fashion.

Jumlah Muslim yang kian banyak di Amerika menjadi alasan kuat di balik menggeliatnya industri busana Muslim di sana. Jumlah 8 juta Muslim diperkirakan akan terus bertambah berkali-kali lipat. USA Islamic Fashion Week kemudian menjadi satu ajang bagi para desainer asal Amerika untuk menunjukkan kreativitas mereka. Akilah Baynes, Qadira Muhammad, Noor, lvette Nouti, dan KD adalah beberapa nama yang menghadirkan koleksi mereka di atas panggung USA lslamic Fashion Week.

Situs usaislamicfashionweek.com melansir, Muslim Amerika menghabiskan uang USD 2,1 miliar untuk konsumsi fashion pada tahun 201 2. Diperkirakan, jumlahnya akan menjadi USD 321 miliar pada tahun 2018. Karena itulah, MDIFC menargetkan para desainer tidak hanya mampu menghasilkan karya sesuai passion dan visi mereka, tapi juga sukses sebagai fashion preneur.

Angka fantastis tersebut jelas menggiurkan. Terlebih, belum ada international brand yang berkibar di ranah itu. Umumnya, para desainer lokal berjaya di negara masing-masing. Di lnggris, publik mengenal busana tertutup high-end karya Barjis Chohan-anak didik Vivienne Westwood -yang membuat pemakainya tampil sophisticated. Tapi, tetap saja namanya tak bergaung di belahan dunia lain.

MusMagz-ovi Shofianur

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!