Silaturahmi diganti traveling? Benarkah ini trend muslim modern di hari raya?

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Liburan-Panjang

Tiket untuk mudik Lebaran kini harus dipesan sejak berbulan-bulan sebelumnya. Harga selangit ditambah makin banyaknya orang yang memilih mudik naik pesawat atau kereta menjadi alasan mengapa booking harus jauh sebelum bulan puasa.

Tak hanya tiket untuk mudik, libur saat Lebaran juga dianggap sebagian orang sebagai waktu yang pas untuk berlibur bersama keluarga, atau teman-teman dekat.

Tujuan-tujuan wisata di berbagai daerah di lndonesia dan luar negeri akan dipadati pengunjung. Terutama bagi para kaum urban yang sehari-hari dihadapkan pada ritme pekerjaan dan gaya hidup yang serba cepat dan dinamis, liburan menjadi oase penawar dahaga yang tak boleh dilewatkan.

Sedemikian ‘dahaga’, hingga hari libur saat ldul Fitri pun menjadi momen yang sangat ditunggu untuk melepas penat. Hari Kemenangan yang selayaknya dirayakan bersama keluarga besar, justru bergeser menjadi momen hari ‘kebebasan’.

Mengapa sebagian umat lslam begitu ‘berani’ menggunakan momen suci untuk kepentingan’duniawi’? Seberapa berkurangnya nilai spiritual ldul Fitri di mata mereka?

Bepergian Saat Lebaran

Lalu mengapa ada sebagian orang memilih Lebaran untuk liburan? Momen berkumpul bersama keluarga besar dirasa cukup sehari saja. Dan di hari kedua, langsung berangkat ke\ bandara menuju tempat liburan.

Yang penting sudah berkumpul dengan keluarga (di hari pertama), begitu kira-kira alasan mereka yang berlibur di hari kedua atau ketiga lebaran. Kalaupun belum bertemu, masih bisa di lain waktu. Walhasil, kita akan menyaksikan berita televlsi tentang padatnya kota-kota favorit oleh para pelancong.

Bagi keluarga besar yang memilih melancong bersama, bisa jadi itu merupakan agenda lebaran yang telah disepakati bersama. Kebersamaan di dalamnya tetap terbangun. Dan suasana ldul Fitri yang identik dengan hari keluarga tetap terjaga.

Tetapi bagi mereka yang memilih’kabur’ dari gegapgempita kumpul keluarga dan mengasingkan diri ke daerah yang jauh dari sanak keluarga, ini tentu yang perlu dipertanyakan. Apakah karena sulit mendapat cuti selain di hari Lebaran menjadi alasan utama berlibur di Hari Raya?Atau apakah kita merasa’asing’ di iengah keluarga, atau memiliki masalah dengan keluarga hingga memilih berlibur di Hari Raya?

Memang tidak ada batasan benar atau salah, maupun hitam atau putih dalam hal ini. lni semua kembali pada nurani. Mungkin tidak ada yang menyuarakan nada keberatan terhadap keputusan kita untuk berlibur saat Lebaran. Namun tentu, di lubuk hati keluarga, mereka berharap bisa memeluk dan menghabiskan momen indah bersama kita. Kalaupun ada permasalahan, ldul Fitri adalah saat yang tepat untuk saling memaafkan dan mencari solusi terbaik. Dan kita, masih punya 11 bulan tersisa untuk berlibur di salah satu pantai Bali atau selfie di depan patung Merlion

Ovi Shofianur ( Muslimah Magazine)

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!