Panduan Sholat Idul Fitri : Bacaan, Sunnah, Hukum, dan Tata Cara

sholat idul fitri

Hari Raya yang paling ditunggu oleh umat muslim seluruh dunia setelah selama sebulan penuh berpuasa ialah Hari Raya Idul Fitri. Pada hari ini adalah momen berkumpul bersama dengan keluarga dan melakukan silaturahmi antar anggota keluarga, ataupun dengan kerabat terdekat merupakan salah satu hal dari sekian banyak hal yang biasanya dilakukan oleh umat Islam di dunia ini.

Salah satu kegiatan lain yang dilakukan di hari kemenangan ini yaitu menunaikan ibadah sholat Idul Fitri. Sholat Idul Fitri sendiri merupakan bentuk atau wujud dari kemenangan setelah menjalankan ibadah puasa selama sebulan penuh. 

Shalat Idul Fitri dikerjakan di pagi dengan cara berjamaah. Namun shalat Idul Fitri dapat dilakukan secara munfarid atau sendiri, hal ini boleh dilakukan jika menemui uzur atau halangan ketika akan melaksanakan sholat ied. Seperti kondisi saat ini, yaitu adanya penyebaran virus Covid 19 dan dilakukannya jaga jarak atau sosial distancing. hal ini untuk meminimalisir penyebaran virus Covid 19.

Sholat Idul Fitri dilakukan pada pagi hari setelah matahari terbit pada setiap tanggal 1 Syawal. Dalam mengerjakan shalat idul fitri utamanya di tanah lapang atau tempat terbuka, hal ini sesuai dengan anjuran Nabi Muhammad Saw, serta juga mengingat banyaknya jumlah jamaah yang hadir. Abu Sa’id Khudri mengatakan,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَخْرُجُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَالأَضْحَى إِلَى الْمُصَلَّى

Artinya :“ Rasulullah shallalahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar pada hari raya ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha menuju tanah lapang.”

An Nawawi berkata “ Hadits Abu Sa’id al khudri di atas adalah dalil bagi orang yang menganjurkan bahwa shalat ‘ied sebaiknya dilakukan di tanah lapang dan ini lebih afdhol (lebih utama) daripada melakukannya di masjid. Inilah yang dipraktikkan oleh kaum muslimin di berbagai negeri. Adapun penduduk Makkah, maka sejak masa silam shalat ‘ied mereka selalu dilakukan di Masjidil haram.”

Untuk mengetahui lebih jelas mengenai bacaan niat, sunnah, hukum, hingga tata cara sholat Idul Fitri, yuk simak penjelasan berikut ini:

Bacaan Sholat Idul Fitri

sholat ied

Bacaan dalam sholat Idul Fitri adalah niat. Niat hukumnya wajib, hal ini dikarenakan niat merupakan rukun sahnya sholat Idul Fitri. Niat shalat Idul Fitri bisa dihafalkan mulai dari sekarang. Adapun niat sholat Idul Fitri sebagai berikut:

أُصَلِّي سُنَّةً لعِيْدِ اْلفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ)مَأْمُوْمًاإِمَامًا(لِلهِ تَعَــــالَى

Arab latin:” Ushallii sunnatan lii’idil fitri rak’ataini (imaaman/ makmuuman) lillahi ta’aala”

Yang artinya: “aku berniat salat sunnah Idul Fitri dua rakaat (menjadi makmum/ imam) karena Allah ta’ala”.

Sunah Sholat Idul Fitri

Dalam menjalankan sholat Idul Fitri, perlu diketahui sunnah apa saja yang perlu atau dianjurkan untuk dilaksanakan, hal ini agar menambah kesempurnaan dalam menjalankan sholat. Adapun sunah-sunah yang bisa dikerjakan dalam sholat Idul Fitri diantaranya yaitu mengumandangkan takbir dengan mengeraskan suara dengan membaca tahlil dan takbir, mandi dan mengenakan pakaian terbaik, memakai wewangian, serta makan terlebih dahulu sebelum sholat id. Dalam suatu riwayat disebutkan 

كَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَخْرُجُ يَوْمَ الفِطْرِ فَيُكَبِّر حَتَّى يَأْتِيَ المُصَلَّى وَحَتَّى يَقْضِيَ الصَّلاَةَ فَإِذَا قَضَى الصَّلاَةَ ؛ قَطَعَ التَّكْبِيْر

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar hendak shalat pada hari raya ‘Idul Fitri, lantas beliau bertakbir sampai di lapangan dan sampai shalat hendak dilaksanakan. Ketika shalat hendak dilaksanakan beliau berhenti dari bertakbir” (Dikeluarkan dalam As Silsilahh Ash Shahihah no. 171. Syaikh Ali Albani meriwayatkan ini shahih) 

Anjuran makan sebelum melakukan sholat Idul Fitri sangat berbeda dengan sholat Idul Adha, dimana makan terletak setelah melakukan sholat Idul Adha. Hikmah yang dapat diambil dari makan sebelum berangkat sholat Idul Fitri yaitu agar tidak disangka bahwa hari tersebut masih hari berpuasa. Sebagaimana dari Abdullah bin Buraidah dari ayahnya ia berkat

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ 

مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullah  shallaallhu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih makan dahulu, sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari shalat ‘ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.” (H.R. Ahmad 5/352. Syu’aib Al Arnaut mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Hukum Sholat Idul Fitri

sholat idul

Seperti halnya sholat Idul Adha, hukum sholat Idul Fitri memiliki hukum Sunah muakad, hal ini menurut Mahdzab Imam Syafii. Sholat ied sendiri disyariatkan untuk pertama kalinya pada tahun 1 Hijriyah. Hal ini diriwayatkan oleh Abu Daud dari Anas R.A, yang memiliki arti : “Ya’kub bin Ibrahim bercerita kepaa kami Ia berkata Abu Usamah berkata Ubaidullah bercerita kepada kami dari Nafi’ dari Ibu Abbas RA ia berkata: “Aku pernah menyaksikan shalat Id bersama Rasulullah SA, Abu Bakar, Umar dan Utsman Radhiyallahu ‘anhu dan mereka semuanya melaksanakan sebelum khutbah”

Nabi Muhammad Saw, terus menerus mengerjakan dua shalat Id dan tidak pernah meninggalkannya satu kalipun. Dan beliau memerintahkan kepada manusia untuk keluar mengerjakannya, sampai menyuruh wanita-wanita merdeka, gadis-gadis pingitan, dan wanita yang sedang haid. Untuk wanita haid beliau menyuruhnya untuk menjauhi sholat dan hanya sebatas menyaksikan kebaikan serta dakwah kaum muslimin. Bahkan beliau menyuruh wanita yang tidak mengenakan atau memiliki hijab agar dipinjamkan oleh saudaranya. Hal ini dikutip dari hadist Ummu Athiyah yang dikeluarkan oleh Bukhari (324),(3520,(927),(980),(981), dan (1652).

Tata cara Sholat Idul Fitri

Dalam melaksanakan sholat Idul Fitri jika dilakukan secara berjamaah maka disunnahkan untuk mengeraskan bacaan sholat. Sedangkan dikerjakan secara sendiri maka cukup dibaca dengan menggunakan suara pelan. Berikut tata cara dalam melaksanakan sholat Idul Fitri yang mampu dilaksanakan di masjid, lapangan terbuka, atau dirumah secara berjamaah, diantaranya yaitu:

  1. Takbiratul ihram
  2. Membaca doa iftitah
  3. Takbir sebanyak 7 kali, dimana di setiap takbir membaca tasbih 

“Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha ilallah wallahu akbar”.

  1. Selesai takbir yang ketujuh, dilanjutkan dengan membaca surat Al Fatihah.
  2. Dilanjutkan dengan membaca surat-surat Al-Quran lainnya, namun apabila menjadi makmum maka cukup mendengarkan surat yang dibacakan oleh imam. Surat pertama dianjurkan yang dibaca yakni surat Al-A’la
  3. Rukuk dan tuma’ninah
  4. I’tidal dan tuma’ninah
  5. Takbir sebanyak 5 kali dan Kembali membaca bacaan tasbih seperti sebelumnya. 
  6. Membaca Al-Fatihah
  7. Membaca Al fatihah
  8. Membaca surat lainnya, surat kedua dianjurkan membaca Al Ghasyiyah
  9. Rukuk dengan tumakninah 
  10. I’tidak dan tuma’ninah
  11. Sujud dan tuma’ninah
  12. Duduk diantara dua sujud dan tuma’ninah
  13. Sujud kedua dan tumakninah
  14. Duduk tasyahud akhir dan tumakninah
  15. Salam 
  16. Mendengarkan khutbah apabila menjadi makmum, dan khutbah dibuka dengan membaca takbir sebanyak 9 kali.

Kata Psikolog Ketika Anak Pamer Baju Lebaran ke Teman-temannya

Cukup sering menemukan anak kecil yang pamer baju Lebaran. Satu diantaranya bisa jadi anak Anda. Meski pamer pada usia masih sangat kecil sangat wajar terjadi, ada sejumlah hal yang bisa Anda lakukan agar si kecil tidak mendapat kesan negatif dari perilakunya tersebut.

Hal pertama yang harus dilakukan adalah dengan memberikan nasihat pada anak untuk tidak pamer dan bersikap sombong. Ajarkan dia bahwa perilaku sombong adalah perbuatan yang kurang terpuji. Ada baiknya untuk selalu mengingatkan anak ketika mulai pamer pakaian barunya.

Namun, untuk memberinya pengertian jangan lewat perkataan saja. Justru anak akan lebih cepat meniru apa yang dilakukan orang tuanya. “Jika orangtua bersikap sederhana santun dan tidak sombong, anak pun akan meniru perilaku tersebut,” ujar psikolog anak, Irma Agustiana SPsi, MPsi., pada kesempatan wawancara via email.

Beberapa waktu lalu, psikolog anak dan keluarga dari Tiga Generasi, Anna Surti Ariani MPsi., menuturkan bahwa anak usia sekolah dasar senang memuji dirinya sendiri. Artinya mereka sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia baik. “Jadi tahap perkembangan moral anak memang nggak langsung mereka bisa jadi dewasa gitu,” terangnya.

Wanita yang akrab disapa Nina ini mengatakan, pada anak usia sekolah dasar, mereka melakukan sesuatu karena itu membuat senang orang tuanya. Atau, ia melakukan sesuatu karena itu bisa membuat teman-temannya mau bermain dengannya.

Tapi, jika orang tua khawatir itu akan membuat anaknya dicap sombong, Nina menyarankan orang tua mengajarkan anak untuk mengatakan jika dirinya baik ketika berada di rumah atau sedang bersama orangtuanya saja. Dengan begitu, ada pembatasan di mana dan kepada siapa saja anak bisa mengatakan kebaikannya.

Sumber: Detik.com