(021) 5312 6107

Pilih mana? orang tua atau suami? bagaimana menurut islam?

SYIAR

Kasus orangtua yang memaksa anaknya untuk menceraikan istrinya atau seorang istri meminta cerai pada suaminya sudah sering kali terjadi. Bikin dilema anak sudah pasti. Bagaimana menyikapinya? Apa tinjauan hukum islam dalam hal ini?

berbakti-pada-orang-tua-mediaislamnetdotcomDalam Tafsir lbnu Katsir karangan lbnu Katsir atau Imam lsmail bin ‘Umar bin Katsir al- Qurasyi ad-Dimasyqi, tersebutlah kisah mengenai keabsahan ‘orangtua yang menyuruh anaknya bercerai. Sepeninggal Sayidah Halar ra, Nabi lbrahim As meminia izin kepada Sayidah Sarah ra. Untuk berkunjung menengok Nabi lsmail As. di Mekkah.

Sesampainya di Mekkah, Nabi lbrahim As. tidak dapat menemui anaknya di rumah. Nabi lbrahim As. bertanya kepada istri Nabi lsmail As. yang tak lain adalah menantunya sendiri. Namun sayang, Nabi lbrahim As. malah mendapatkan jawaban yang isinya keluh kesah sang menantu.

Nabi lbrahim As. lalu berpesan agar anaknya mengganti ambang pintu rumahnya. Pesan tersebut dimaknai oleh Nabi lsmail As. sebagai perintah untuk menceraikan istrinya. Nabi lsmail As. pun menuruti pesan sang ayah.

Kisah kedua adalah riwayat yang dikutip oleh lmam lbnu Majah dan lmam at-Tirmidzi dengan sanad yang sahrh, juga dikutip oleh lbnu Hibban di dalam kitab shahih-nya. Dikisahkan bahwa Abi’Abdirrahman as-Sulamiy mendapat riwayat dari Abu Darda ra., bahwa seorang laki-laki mendatanginya untuk meminta nasihat dengan mengatakan: “Aku mempunyai seorang istri, dan ibuku menyuruhku untuk menceraikannya.” Maka Abu Darda ra. menjawab: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda,’Orangtua adalah gerbang surga yang amat luas. Maka siapa yang ingin, gapailah gerbang itu atau peliharalah.”‘

lnti kandungan hadis di atas menyatakan, kunci untuk meraih surga adalah dengan mendarmabaktikan diri kepada orangtua, menggauli mereka dengan baik, tidak membuat mereka kecewa, apalagi sampai membuat mereka menyumpahi dan mengutuki anaknya.

Wajibkah Menaati Semua Perintah 0rangtua?

lslam sangat menjunjung tinggi bakti anak kepada orangtuanya. Di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa bakti anak kepada orangtuanya adalah nomor dua setelah larangan menyekutukan Allah Swt. Hal ini dapat disimak di dalam Q.S. An- Nisa [4] ayat ke-36 dan Q.S. Allsra [17]: 23).

Banyak ayat dan hadis yang menjunjung tinggi posisi orangtua dari anaknya, dan kewajiban anak untuk taat kepada perintah orangtuanya. Namun, para ulama berbeda pendapat mengenai ketaatan dalam melaksanakan perintah orangtua ketika mereka meminta anaknya untuk bercerai.

Perbedaan pendapat tersebut bertolak dari beberapa skenario yang tentu saja berbeda iawabannya. Pertama, harus diketahui terlebih dahulu dari mana datangnya perintah untuk bercerai, apakah dari pihak ayah atau ibu?

Kedua, kepada siapa perintah itu ditujukan, apakah kepada suami atau istri? Ketiga, harus diketahui pula apa alasan orangtua sampai-sampai memerintahkan anaknya untuk bercerai dengan pasangannya, apakah didorong motif dunia semata atau karena motif-motif yang dibenarkan ajaran lslam?

Terkait dengan masalah pertama, sebagian besar ulama sepakat bahwa perintah untuk bercerai hanya boleh ditaati jika hal itu datang dari pihak ayah, bukan dari pihak ibu. Memang benar di dalam sebuah hadis disebutkan bahwa bakti kepada ibu harus didahulukan tiga tingkat di atas ayah. Namun, dalam kasus ini, kebijaksanaan seorang ayah harus lebih didengar ketimbang ibu. Alasannya, ayah lebih obiektif dalam mengetahui apa yang terbaik bagi anak laki-lakinya.

Jika perintah itu datang dari pihak ibu boleh jadi karena didorong oleh kecemburuan sang ibu yang merasa berjarak dengan anak laki-lakinya setelah mempunyai seorang istri. Apalagi, kecemburuan ibu kepada menantu perempuannya jamak terjadi di mana-mana.

Pendapat tersebut dipegang oleh lmam lbnu Taimiyah. Ketika ditanya mengenai ibu yang meminta anak laki-lakinya untuk menceraikan istrinya, ia menjawab bahwa tidak halal bagi seorang suami menceraikan istrinya karena perintah ibunya. la memang wajib berbakti kepada ibunya, tetapi menceraikan istri tidak termasuk bakti kepada ibu (Maj m u’ al- Fatawai 33/ 1 1 1).