(021) 546343778

Bulan Muharam, Bulan Kebaikan

INSPIRASI
bulan muharam

Bulan Muharam adalah salah satu bulan istimewa dalam kalender Islam. Bulan Muharam adalah satu dari empat bulan haram dalam penanggalan Islam.

Rasulullah SAW bersabda, ”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Zulkaidah, Zulhijah dan Muharam. (Satu bulan lagi adalah) Rajab.” (HR Bukhari dan Muslim).

Makna bulan haram adalah bulan dimana diharamkan peperangan di atasnya. Kemudian, menurut Ibnul Jauziy, bulan haram adalah bulan dimana larangan melakukan perbuatan haram lebih ditekankan dibanding bulan-bulan lain. Artinya, kebaikan, amal dan perbuatan pada bulan haram juga lebih utama.

Maka tak heran jika banyak keutamaan yang diberikan Allah SWT dalam amal-amal di bulan haram. Salah satunya Muharam yang dipakai sebagai penanda awal tahun baru Islam.

Beberapa ulama juga menyebut jika bulan Muharam sering disebut sebagai syahrullah (bulannya Allah SWT). Hal ini didasarkan pada hadis Nabi Muhammad SAW, ”Puasa yang paling utama setelah (puasa) Ramadhan adalah puasa pada syahrullah (bulan Allah) yaitu Muharam. Sementara shalat yang paling utama setelah shalat wajib adalah shalat malam.” (HR Muslim)

Maka bulan Muharam adalah masa dimana kegembiraan umat Islam bertumpuk-tumpuk. Ada amalan sunnah puasa pada tanggal 9 dan 10 Muharam dengan ganjaran yang cukup besar.

Rasulullah SAW ditanya tentang puasa hari ’Asyura (tanggal 10 Muharam), maka Beliau bersabda, “Bisa menghapus (dosa-dosa kecil) satu tahun yang lewat.” (HR Muslim)

Selain itu umat Islam di berbagai belahan dunia menyambut datangnya tahun baru Hijriyah. Penanggalan yang diresmikan pada masa Khalifah Umar Bin Khattab RA ini memberikan sebuah kebanggaan pada umat. Bangga memiliki satu sistem penanggalan tersendiri sebagai penanda waktu.

Disamping itu, semangat umat untuk menebar kebaikan pada bulan Muharam sangatlah besar. Selain puasa Asyura dan perayaan tahun baru Islam, umat memiliki tradisi untuk memperbanyak sedekah dan menyantuni anak yatim.

Al-Hafizh Ibnu al-Jauzi, seorang ahli hadis Madzhab Hanbali mengatakan para ulama memiliki amalan-amalan yang dilakukan pada hari Asyura. Diantaranya bersedekah, menyantuni yatim, memberi makan berbuka kepada yang berpuasa, mengunjungi saudara seiman, menjenguk orang sakit, memuliakan orang tua, menahan amarah, memaafkan perbuatan orang zalim, menyingkirkan benda yang mengganggu di jalan hingga memperbanyak zikir.

Khusus menyantuni anak yatim, terdapat istilah bulan Muharam sebagai Lebaran Anak Yatim. Tentu, lebaran anak yatim disini hanyalah sebuah istilah semata. Sebab, hari raya yang diperingati umat Islam hanyalah dua, Idul Fitri dan Idul Adha.

Istilah ini menggema karena banyaknya santunan yang diberikan anak yatim bertepatan dengan hari Asyura. Pada hari itu umat berduyun-duyun memberikan santunan dan kebaikan kepada anak-anak yatim yang membutuhkan.

Memang terjadi khilafiyah di kalangan ulama terkait lebaran anak yatim. Kekhususan menyantuni anak yatim pada bulan Muharam didasarkan pada sebuah hadis yang berbunyi, “Barangsiapa berpuasa para hari Asyura (tanggal 10) Muharam, niscaya Allah akan memberikan seribu pahala malaikat dan pahala 10.000 pahala syuhada’. Dan barangsiapa mengusap kepala anak yatim pada hari Asyura, niscaya Allah mengangkat derajatnya pada setiap rambut yang diusapnya.”

Ulama menyebut derajat hadis tersebut dhaif. Kemudian terjadi khilafiyah terkait pengamalan hadis tersebut. Satu sisi mengatakan hadis dhaif tidak bisa dijadikan dasar amal sehingga mengkhususkan menyantuni anak yatim pada tanggal Asyura menjadi tertolak. Sementara di sisi lain berpendapat meskipun hadis dhaif, muatan hadis tersebut bisa digunakan sebagai semangat untuk beramal.

Namun, para ulama bersepakat jika menyantuni anak yatim adalah amalan yang amat besar nilainya. Baik di bulan Muharam yang istimewa maupun di bulan-bulan lain.

Keutamaan menyantuni anak yatim disebutkan dalam firman Allah SWT, “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin.” (QS al-Ma’un : 1-3)

Kemudian dikuatkan dalam sabda Nabi SAW, “Aku dan orang-orang yang mengasuh/menyantuni anak yatim di Surga seperti ini”, Kemudian beliau memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah seraya sedikit merenggangkannya. (HR Bukhari).

Subhanallah, betapa besar keutamaan menyantuni anak yatim. Bulan Muharam sebagai penanda awal 11 bulan berikutnya dalam kalender Hijriyah bisa dijadikan momentum untuk mengangkat derajat anak-anak yatim. Tentu saja harapannya, anak-anak yatim mendapat perhatian yang serupa pada bulan-bulan lain. Sehingga kebaikan yang diberikan akan terus membesar.

Untuk itu, Sahabat Yatim Indonesia menjadikan momentum Muharam ini dengan mengisi beragam kegiatan untuk anak yatim di daerah binaan. Kegiatan seperti Festival Anak Yatim menjadi salah satu cara mengingatkan bahwa menyantuni anak yatim adalah amalan yang amat besar nilainya.

Tags Berita: # #