(021) 546343778

Hamas Syahid dan Taqy Malik, Bersyiar Lewat Seni dan Alquran

INSPIRASI
hamas

Apa yang diinginkan anak-anak muda yang terjun di dunia entertaintment terutama film? Jawabannya mungkin tak beranjak dari popularitas, materi, menyalurkan bakat dan menjadi idola.

Namun bagi anak muda kelahiran, Bengkulu 11 Maret 1992 ini, bermain film memiliki makna yang jauh lebih dari itu. “Paling utama main di film ini karena syiar Islam. Dan juga film ini bagus banget dan akan menjadi trendsetter untuk film-film Indonesia nantinya,” ujar artis muda bernama Hamas Syahid Izzudin ini saat diwawancara Tabloid Bintang.

Tak banyak artis film pendatang baru yang tegas ingin syiar dakwah Islam lewat film. Hamas adalah satu dari yang sedikit itu. Langkah Hamas menembus industri film tak mudah. Pemeran Mas Gagah dalam film ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ ini harus melalui casting yang berbeda dari casting film pada umumnya.

Sebabnya, sang produser sekaligus penulis buku ‘Ketika Mas Gagah Pergi’ Helvy Tiana Rosa ingin pemeran Mas Gagah memiliki citra dan kehidupan yang mirip dengan sang tokoh. Muda, aktivis dan religius. Helvy menyebut setelah melakukan casting terhadap 2.000 orang sejak tahun 2003 hingga 2015, akhirnya pilihannya jatuh kepada Hamas.

“Hamas Syahid Izzuddin mengikuti casting terakhir kami via Youtube dan bersaing dengan 300 orang untuk mendapatkan peran ini. Ia kami pilih bukan berdasarkan rekomendasi siapapun melainkan murni hasil casting tersebut, dan KMGP adalah film pertama dimana ia berkesempatan menjadi pemeran utama, bukan pemeran pendukung,” terang Helvy dalam blog pribadinya.

Hamas sendiri menceritakan masa-masa proses syuting film Ketika Mas Gagah Pergi dan Duka Sedalam Cinta. Ia juga menyampaikan salah satu adegan yang menurutnya sangat menantang, yaitu saat jatuh dari tebing dan tenggelam di laut. Pemuda penghafal Alquran itu harus menahan napas selama 15 detik dan memakai banyak pemberat.

Selain banyak keseruan tersebut, hal lain yang disyukuri Hamas adalah dukungan dari banyak penggemar. Meski senang, ia tetap menjaga jarak dan mengajak penggemar lebih mengenal idola sejati yaitu Nabi Muhammad.

Hamas pun mengajak para penggemar menyaksikan tayangan berkualitas seperti Duka Sedalam Cinta. “Semua ada di film ini, cerita tentang persahabatan, keluarga, cinta, dan mengajarkan nilai-nilai kebaikan. Insya Allah setelah menonton ada sesuatu yang bisa didapat,” ucapnya.

Hamas berharap film-film yang ia bintangi bisa menjadi inpirasi bagi semua penontonnya. Sosok Hamas di luar pekerjaannya sebagai aktor pendatang baru sendiri sudah menginspirasi.

Wajahnya yang tampan semakin terasa teduh kala ia membaca Alquran. Ya, Hamas amat merdu kala membaca Alquran. Bukan hanya itu, Hamas juga seorang penghafal Alquran. Lahir dari keluarga agamis, sosok Hamas tumbuh dan besar dengan pengetahuan agama yang mumpuni.

Maka tak heran, selain bermain sebagai bintang film, Hamas kerap mengisi berbagai acara keagamaan untuk memberikan motivasi kepada anak-anak muda. Hingga kini, Hamas tercatat sudah membintangi beberapa judul film. Selain ‘Ketika Mas Gagah Pergi’, ia juga membintangi sekuelnya ‘Duka Sedalam Cinta’. Selain itu ia juga berperan dalam film ‘Tausiyah Cinta’ sebagai Azka dan terakhir bermain di film ‘Duka Sedalam Cinta’.

Kerja kerasnya di bidang film juga membuahkan hasil. Ia masuk nominasi sebagai Best Islamic Actor dalam gelaran Putar Film Islam tahun 2016. Semoga ke depan lahir Hamas-Hamas baru yang mewarnai industri film Indonesia agar terus menginspirasi nilai-nilai kebaikan di usia muda.

Selain Hamas, pemuda penghafal Alquran, Taqy Malik juga menggemparkan dunia maya. Selain karena menikah muda, ia dikenal sejak menjadi hafidz Alquran di usia muda. Alumni pesantren didikan Ustaz Yusuf Mansur ini menjadi hafiz Alquran selama empat tahun, dimulai dari usia 13 tahun sampai 17 tahun.

Pria yang bernama asli Ahmad Taqiyuddin Malik ini mengaku tertarik dengan seni membaca Alquran sejak kelas empat SD. Setelah lulus SD, Taqy memilih masuk ke pesantren, disitulah dia suka mencari dan mendengarkan kaset murotal dan memperdalam seni membaca Alquran. Taqy juga mampu menirukan suara dan lagam dari syeikh-syeikh hafidz Alquran dari berbagai belahan dunia. Ia kini sedang menyelesaikan studinya di Mesir, Kairo.

sumber: Tabloid Bintang, Republika, dream.co.id