(021) 546343778

Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta

LIFESTYLE
Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta

Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta

Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta Pohon-pohon besar tua dan rindang  menyapa kedatangan kami. Mugiyono,  pemandu tur istana, mendampingi kami.  Zaman dahulu, mayoritas adalah pohon  mangga dan beringin. pohon asam, ketepeng, sawo budru, matoa.

Taman ditata apik. Hamparan hijau rumput menyejukkan pandangan.  Eksterior bekas kediaman resmi Anthonie Hendriks Smissaert di awal abad ke-19 ini didominasi pilar besar gaya Eropa, terutama di serambi muka, serta pintu kayu dan kaca tinggi, lengkap dengan lubang angin berterali besi  sesuai  iklim tropis. Chandelier (ampu gantung  kristal susun) tersebar di banyak bagian gedung. Dominasi putih dinding istana bersih terawat menambah kesan agung.

“Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta”

GedungAgung menjadi sarat arti, ketikapemerintahan RI hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Pada 6 Januari 1946, Yogyakarta resmi menjadi ibukota baru RI. GedungAgung jadi Istana Kepresidenan, kediaman Presiden pertama RI Ir Soekarno dan keluarga. Pada 19 Desember 1948, Jenderal SH Spoor menyerbu Yqgyakarta hingga Sidang Dewan Menteri memutuskan pembentukan Pemerintah RI Darurat ketika Soekarno diasingkan ke brastagi bersama KII Agus Salim dan Sutan Sjahrir. Sedangkan Wapres Hatta diasingkan ke Bangka bersama Mr Moh. Roem, Mr AG Pringgodigdo, Mr Assaat, serta Marsekal Suryadarma.

Pada 6 Juli 1949, Soekarno dan tokoh lain kembali ke Yogyakarta hingga Istana Yogyakarta keqbali menjadi tempat kediaman resmi Presiden. Sejak 28 Desember 1949, Presiden kembali ke Jakarta sehari sebelum penyerahan
kedaulatan oleh Belanda. Sejak 1991, Istana Yogyakarta resmi jadi tempat memperingati Detik-Detik Proklamasi
Kemerdekaan untuk Provinsi oailEtr”Istimewa Yogyakarta.  Gedung Induk, gedung utama karesidenan sejak hampir dua abad lalu, tepat di tengahnya, ada Ruang Garuda, tempat menerima tamu Presiden. Di sinilah, Jenderal Sudirman dilantik Soekarno sebagai Panglima Besar dan Pucuk Pimpinan TNI, dan kemudian menjalankan Perang Gerilya yang membanggakan dan mengharukan itu. Di Ruang Sudirman dan Ruang Diponegoro dipajang lukisan, serta patung torso Jenderal Sudirman dan Diponegoro.

dirman dan Diponegoro. Di ruang jamuan makan berbentuk aula, Presiden dan Wakil Presiden RI biasa menikmati hidangan atau menjamu tamu negara. Ruang Kesenian, joglo yang dirombak sedemikian rupa sehingga layak sebagai tempat menjamu tamu negara dengan pementasaan aneka sendratari, musik dan busana khas Indonesia. Atap joglo masih dipertahankan kemegah4nnya, ukiran khas Yogyakarta dengan sentuhan cat warna kayrtbroken white, merch maroon, dan keemasan. “Keanggunan Sejarah Istana Yogyakarta”

Dari Gedung Induk, perjalanan kami bergeser ke balgunan tempat Museum Benda Seni yang terdiri dari dua lantai. Dipenuhi karya seni bernilai tinggi, berupa lukisan dan patung karya senirfr’ff modern Indonesia seperti Raden
Saleh, S. Soedjojono, Basuki AbdulIah, Dullah, Affandi, nariiadi, Soerono, Gambir Anom, Fajar Sidik, Bagong
Kussudiardjo, hingga Nyoman Gunarsa. Ada pula karya seniman mancanegara yang berperan penting di sejarah seni rupa Indonesia, antara lain RudolfBonnet dan Walter Spies. Arca-arca temuan lepasan zara:ran Hindu-Buddha, cenderamata dari tamu kenegaraan juga menghiasi beberapa sudut ruang museum.

Kunjungan berakhir di Ruang Serbaguna yang dahulunya Gedung Senisono. Didirikan pada Juni 1822,berawal dari tempat hiburan kalangan sipil dan militer masyarakat Belanda Di masa pascarevolusi, Gedung Senisono aktif dimanfaatkan bidang kesenian. Sempat berfungsi sebagai gedung bioskop (1952-1965), Art Gallery Senisono untuk berbagai aktivitas kesenian dari berbagai cabang dan jenis seni (sejak 196).   Juga, terdapat gedung yang khusus difungsikan sebagai penginapan bagi tamu Presiden, baik tamu asiirg maupun tamu dari jajaran pemerintahan. Yaitu, Wisma Negara, Wisma Indraphrasta, Wisma Sawojajar, Wisma Bumiretawu, dan Wisma Saptaphratala.

Tak.terasa sudah sekitar dua jam kami berkeliling kompleks istana. Pengalaman pertama ini mernbuat kami ingin kembali lagi ke sana, ‘untuk secara lebih serius menikmati koleksi benda seni Istana Yogyakarta yang tak bernilai harga dan sejarahnya. Istana Yogyakarta memang hanya sebentar saja menjalankan peran pentingnya sebagai
jantung Ibukota Republik Indonesia, namun tidak mengecilkan arti pentingnya dalam perjalanan awal negeri ini.