(021) 546343778

Masjid Pathok Nagoro Yogyakarta, Masjid Sebagai Benteng dan Batas Negara

JELAJAH
JELAJAH Masjid Pathok Nagoro dok dwipracaya.com

Masjid dalam peradaban Islam memiliki peran yang sangat sentral. Rasulullah SAW setelah hijrah ke Madinah juga memerintahkan para sahabat untuk membangun masjid sebagai pusat kegiatan.

Masjid sejatinya memiliki banyak dimensi selain sebagai tempat ibadah umat Islam. Pada era Rasulullah SAW, masjid digunakan untuk menjamu tamu-tamu penting, majelis ilmu, tempat tinggal para ahlus suffah bahkan hingga berlatih perang.

Fungsi masjid yang tak hanya sebagai tempat ibadah itu juga yang diadopsi saat Islam masuk ke Nusantara. Salah satunya saat masuk ke Bumi Jawa di era kerajaan Mataram Islam.

Bangunan masjid hampir selalu ada dan dibutuhkan. Dalam konteks Kerajaan Mataram Islam, bangunan alun-alun selalu berdampingan dengan Masjid Agung. Ciri-ciri ini masih dipertahankan oleh banyak pemerintah daerah saat ini.

Selain Masjid Agung, Kerajaan Mataram Islam yang kemudian berubah menjadi Kesultanan Yogyakarta memiliki beberapa bangunan masjid kecil yang memiliki fungsi khas. Salah satunya bernama Masjid Pathok Nagoro.

Masjid Pathok Nagoro secara harfiah berarti Masjid Batas Negara. Masjid Pathok Nagoro memang dijadikan penanda batas wilayah oleh Kesultanan Yogyakarta. Selain tempat ibadah, masjid ternyata juga bisa difungsikan sebagai benteng pertahanan sekaligus batas negara. Sebagai masjid batas wilayah, tentu Masjid Pathok Nagoro tidak hanya berdiri satu masjid saja.

Inilah yang membedakan Masjid Pathok Nagoro dengan masjid lainnya. Memiliki nama yang sama, Masjid Pathok Nagoro dapat ditemui di lima titik di wilayah Yogyakarta. Bahkan masjid-masjid Pathok Nagoro masih berdiri dan digunakan oleh umat Islam di Yogyakarta hingga kini.

Lima Masjid Pathok Nagoro yang ada di Yogyakarta adalah Masjid Pathok Nagoro Dongkelan terletak di sisi barat daya kota yakni di Kauman, Dongkelan, Tirtonirmolo, Bantul. Masjid Pathok Nagoro Babadan terletak di sisi timur kota yakni di Kauman, Babadan, Banguntapan, Bantul.

Masjid Pathok Nagoro Wonokromo terletak di sisi selatan kota yakni di Wonokromo, Plered, Bantul. Masjid Pathok Nagoro Mlangi terletak di sisi barat laut berada kota di Mlangi, Nogotirto, Gamping, Sleman. Terakhir Masjid Pathok Nagoro Ploso Kuning terletak di sisi utara kota yakni di Ploso Kuning, Ngaglik, Sleman.

Kawasan tempat masjid itu berdiri pada awalnya merupakan daerah mutihan yang bersifat perdikan (penduduk bebas dari pajak, namun harus melakukan pekerjaan tertentu). Selain itu, pengelolaan masjid juga diserahkan kepada suatu kelompok tertentu yang termasuk dalam abdi dalem pamethakan.

Masjid Pathok Nagoro ini memiliki beberapa ciri fisik sebagai penanda. Dari gaya arsitekturnya, Masjid Pathok Nagoro sangat kental dengan ciri budaya Jawa. Ini bisa dilihat dari bentuk atap masjid yang tak menggunakan kubah, melainkan berupa tajuk dengan tumpang dua.

Ciri lain masjid adalah adanya kolam keliling untuk berwudhu serta pohon sawo kecik. Pohon juga berfungsi sebagai benteng pertahanan dan spiritual.

Sebagian masjid memang sudah tidak dalam bentuk aslinya karena perubahan zaman termasuk saat era penjajahan. Namun seperti Masjid Pathok Nagoro di Ploso Kuning masih terlihat bentuk asli bangunan ini.

Beberapa komponen fisik yang masih dipertahankan adalah keberadaan kolam di depan masjid, gapura bentar dan sangkalan serta bentuk arsitektuk khas Jawa dengan pilar-pilar kayu di dalamnya.

Masjid Pathok Nagoro yang sempat mengalami kerusakan parah adalah yang berada di daerah Babadan. Bahkan pada masa pemerintahan Jepang, masjid ini rata dengan tanah dan digunakan sebagai tempat untuk pertunjukan ketoprak.

Lalu setelah kemerdekaan, di era Sri Sultan Hamengku Buwono IX, atas inisiatif salah satu tokoh agama setempat Masjid Pathok Nagoro di Babadan dibangun kembali dengan ciri arsitektur yang sesuai dengan aslinya.

Kini masyarakat masih bisa melihat dan menggunakan Masjid Pathok Nagoro sebagai tempat ibadah sekaligus warisan budaya sejarah dakwah oleh Kesultanan Yogyakarta.

sumber: Kemdikbud, Liputan6.com