You are here:

4 hukum puasa yang bisa dijadikan pegangan

Mungkin sebagian dari kita hanya mengenal beberapa macam puasa saja yang dapat dikerjakan menurut ajaran Islam. Namun ternyata ada pula jenis puasa yang diharamkan dalam Islam. Setidaknya ada 4 hukum puasa yang bisa kita jadikan sebagai pegangan dalam mengerjakan amalan puasa. Empat hukum tersebut adalah wajib, sunah, makruh, dan haram.

 

4 hukum puasa yang bisa dijadikan pegangan

Mengapa ada hukum puasa yang wajib, sunah, makruh, dan haram? Sebab hukum hukum tersebut dapat dijadikan tuntunan tindakan manusia yang sesuai.

 

1. Puasa wajib

Dalam Q.S al-Baqarah Ayat 183 mengungkapkan, “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” 

Puasa wajib adalah puasa yang wajib dilakukan, karena jika dikerjakan akan mendapatkan pahala dan jika tidak dikerjakan mendapatkan dosa.  Dalam hukumnya, yang termasuk dalam puasa wajib yaitu, puasa ramadan, puasa nazar, puasa qadha (puasa ganti), puasa kafarat (puasa denda), dan puasa orang yang sedang menunaikan haji.

 

2. Puasa sunah

Puasa sunah merupakan puasa yang jika dilakukan akan mendapatkan pahala dan jika seseorang tidak menjalankannya tidak mendapatkan dosa. Puasa Senin-Kamis yang biasa kita lakukan termasuk dalam puasa sunah. Ada pula puasa sunah lainnya, seperti puasa Asyura (10 Muharam), puasa Arafah, puasa Sya’ban, Puasa di awal Syawal, dan puasa Daud (satu hari puasa, satu hari berbuka).

 

3. Puasa makruh

Puasa ini termasuk puasa yang disengaja atau dikhususkan, maka termasuk ke dalam puasa makruh. Dari dalil yang ada, terdapat berapa puasa yang termasuk ke dalamnya. Di antaranya mengkhususkan puasa pada Jum’at atau Sabtu. Semua tidak dapat dilakukan, kecuali tujuan puasa kita adalah puasa ganti Ramadan, puasa kifarat, dan puasa nazar.

 

4. Puasa Haram

Puasa yang tidak boleh dikerjakan karena jika dikerjakan akan mendapatkan dosa dan jika tida dikerjakan akan mendapatkan pahala. Di antaranya, puasa saat Idul Fitri, karena hari tersebut adalah hari kemenangan. Puasa Idul Adha karena merupakan haru raya kedua yang dirayakan umat Islam, hari tasyrik yaitu setiap 11, 12, dan 13 Zulhijah, dan puasa setiap hari atau sepanjang tahun atau selamanya. (dari berbagai sumber)

 

Syarat Wajib Puasa Ramadan

– Muslim

Syarat pertama yang wajib untuk dipenuhi untuk menjalankan ibadah puasa adalah berstatus sebagai seorang Muslim. Lantaran puasa ini merupakan ibadah yang termasuk dalam rukun islam, dengan demikian ibadah ini wajib ditunaikan oleh seorang Muslim.

Bagi mereka yang keluar dari islam (murtad), tidak diwajibkan untuk berpuasa dan apabila dijalankan menjadi tidak sah.

 

– Balig atau Sudah Dewasa (Pubertas)

Syarat wajib yang kedua untuk menjalankan ibadah puasa adalah dengan umur di atas 15 tahun atau telah mencapai status balig atau pubertas. Status balig bagi perempuan ditandai dengan hadirnya menstruasi. Sedangkan, status balig bagi laki-laki ditandai dengan keluarnya air mani dari kemaluannya.

 

– Berakal Sehat

Syarat ketiga adalah berakal sehat, apabila seorang Muslim kehilangan akal sehatnya (gila) maka puasa tidak diwajibkan untuknya. Begitu pula dengan seorang Muslim yang kehilangan kesadarannya atau dalam keadaan mabuk.

 

– Mampu Menjalankan Ibadah Puasa

Jika seorang Muslim telah memenuhi syarat wajib puasa namun tidak bisa menjalankannya karena suatu alasan tertentu, diperbolehkan baginya untuk tidak berpuasa. Alasan-alasan tersebut, seperti dalam keadaan sakit, usia senja, dalam perjalanan, ibu hamil dan menyusui.

Namun, jika masih mampu, wajib baginya pula untuk menggantikan puasa Ramadan tersebut di hari lain. Namun, jika tidak bisa menggantikannya dengan berpuasa di hari lain, wajib baginya untuk membayar fidiah sesuai jumlah puasa Ramadan yang ditinggalkannya.

 

– Mengetahui Awal Ramadan

Syarat wajib puasa yang terakhir adalah dengan mengetahui waktu awal berpuasa hingga akhir puasa atau sebulan penuh.