(021) 5312 6107

Ketika tua dan pikun dianggap merepotkan

Uncategorized

Ada beberapa fase hidup manusia. Mulai bayi, masa kanak-kanak hingga remaja. Setelah melewati umur dewasa, pada akhirnya manusia memasuki masa tua yang dianggap merepotkan. Tak jarang mereka terlantar karena keluarga enggan mengurusnya hingga akhirnya berakhir di panti jompo.

Menurut Petugas Panti Sosial Tresna Wreda (PSTW) Budi Mulia, Yanti Elizabeth, ada beberapa faktor penyebabnya. Bisa karena anak yang enggan mengurus, faktor kemiskinan, dan beberapa lagi beralasan perlu perlu bersosialisasi dengan seumuran.

Orang-orang berumur senja yang ditampung di panti jompo ini biasa disebut sebagai Warga Bina Sosial (WBS). Rata-rata, orang tua penghuni panti milik dinas sosial adalah PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) hasil razia dari jalanan. Sementara WBS yang berasal dari titipan keluarga hanya beberapa.

“Kebanyakan WBS di sini berasal dari razia dari jalan. Awalnya mereka ditaruh di PSBIBD (Panti Sosial Bangun Insan Bangun Daya), sedangkan yang diantarkan oleh keluarganya bisa dihitung dengan jari,” kata Yanti Elizabeth.

Dalam razia yang dilakukan oleh PSBIBD tidak hanya orang jompo yang terjaring. PSBI juga menjaring anak jalanan, orang dengan gangguan jiwa, gepeng dan gelandangan. Jika para lansia ditempatkan di panti jompo, maka anak jalanan ditempatkan di PSAA (Panti Sosial Asuh Anak), orang dengan gangguan jiwa di PSBL (Panti Asuhan Bina Laras) sedangkan gepeng dan gelandangan di PSBK (Panti Sosial Bina Karya).

Jika penghuninya memiliki identitas maka keluarganya diperbolehkan menjemput para PMKS tersebut. “Saat razia PSBI mengangkut lansia, anak jalanan, orang dengan gangguan jiwa, gepeng dan gelandangan.”

Di PSTW para lansia memang lebih diperhatikan kebutuhan dasarnya, daripada bersama keluarga dianggap merepotkan. Mereka mendapatkan makan tiga kali sehari dan bantuan medis. Bahkan jika diperlukan dirujuk ke rumah sakit. Ada 20 pramusosial di PSTW Margaguna juga membantu segala kebutuhan para lansia seperti keluarga sendiri bahkan yang lumpuh.

Para lansia di PSTW Margaguna yang ditempati 223 penghuni sebagian memiliki mobilitas yang baik. Walaupun begitu ada yang sudah pikun dan mengalami gangguan jiwa. Agar para lansia bisa aktif secara fisik maupun pikiran mereka keterampilan berkebun dan siraman rohani setiap hari bagi yang muslim maupun non muslim.

Bagi Yanti Elizabeth yang seorang muallaf, mengurus para lansia adalah bentuk kontribusinya di Masyarakat. Ia melanjutkan, para lansia ini pantas dihormati seperti orang tua sendiri. Walau terkadang tingkah polahnya tidak karuan, namun mereka memiliki pengalaman berharga yang bisa dijadikan pelajaran.

“Mengurus para lansia di panti ini adalah bentuk kontribusi saya di masyarakat. Mas lihat sendiri walaupun mereka bicaranya ngawur tapi mereka punya banyak pengalaman semasa hidupnya yang bisa kita jadikan pelajaran.”


error: Content is protected !!