Baca Sekarang! Kisah Inspiratif tentang Lingkungan Hidup

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Mencintai lingkungan hidup merupakan salah satu sifat dasar yang harus dimiliki oleh setiap manusia mengingat kita hidup di bumi yang akan dihuni oleh generasi berikutnya. 

Semakin menurunnya kualitas lingkungan juga akan mempengaruhi kualitas kehidupan makhluk hidup. Tidak saja pada manusia, binatang dan tumbuhan juga kan merasakan dampak tersebut.

Melestarikan lingkungan tidak hanya dapat dilakukan oleh orang-orang dewasa saja, tetapi juga oleh anak-anak. Kisah inspiratif tentang anak-anak pecinta lingkungan telah banyak disebarkan guna memberikan inspirasi kepada setiap orang untuk sadar akan lingkungan yang ditinggalinya. 

Anda dapat menyimak beberapa kisah inspiratif seputar anak-anak pecinta lingkungan berikut ini.

Kisah Inspiratif Anak Pecinta Lingkungan

Sejak kecil, anak-anak Indonesia telah berbaur dengan lingkungan yang tercemar. Hal yang paling mudah ditemukan yaitu pencemaran udara oleh kendaraan bermotor. 

Fenomena ini tidak hanya terjadi di kota besar saja, tetapi juga hingga di pedesaan. Selain itu, sampah plastik yang sering beterbangan di jalan atau lingkungan rumah juga merupakan gangguan lingkungan yang dialami mereka sejak kecil.

  1. Melati Wijsen dan Isabel Wijsen

Melati Wijsen dan Isabel Wijsen merupakan kakak beradik saudara kandung yang tinggal di Bali. Sejak dini, mereka telah menempuh pendidikan di Green School Bali, di mana salah satu mata pelajaran yang mereka dapatkan adalah tentang inspirasi pemimpin dunia. 

Melalui hal tersebutlah, kedua anak keturunan Belanda yang saat itu masih berumur 12 dan 10 tahun ini mulai memikirkan masalah yang perlu diselesaikan di Bali. Hingga tercetuslah fenomena sampah plastik yang banyak mengotori berbagai tempat di Bali. 

Akhirnya, Melati dan Isabel Wijsen membentuk gerakan yang menolak penggunaan plastik sekali pakai untuk mengurai masalah yang sedang mereka hadapi. Setelah selama 6 tahun mengampanyekan misi mereka, akhirnya kerja keras tersebut disambut baik oleh Gubernur Bali dengan melarang pemakaian plastik sekali pakai.

Dengan umur yang masih belia dan tingkat pendidikan yang masih di sekolah dasar, mereka telah mampu memberikan perubahan yang signifikan terkait penggunaan plastik yang mencemari tempat tinggalnya. 

Kisah kedua kakak beradik ini dapat menjadi cerita motivasi untuk anak SD dan menunjukkan pada mereka bahwa melakukan perubahan tidak harus menunggu menjadi dewasa atau berpendidikan tinggi.

  1. Rafa Jafar

Sebagai murid SMP yang masih berusia 12 tahun, Rafa Jafar atau RJ, sapaan akrabnya, telah menjadi inspirasi banyak orang. Bahkan, pada tahun 2016, dia ditunjuk sebagai duta cilik pada Konferensi Perubahan Iklim PBB yang berlangsung di Maroko. 

Hal itu bukan tanpa alasan. Rafa telah memiliki kesadaran akan banyaknya sampah elektronik atau yang disebut dengan e-waste yang amat mengancam lingkungan. 

Telepon genggam yang telah rusak, televisi, komputer, bahkan barang elektronik yang besar seperti kulkas, saat mengalami kerusakan dan tidak dapat diservis lagi, sudah pasti berakhir di tempat sampah. 

Volumenya yang besar ini tentu akan memakan banyak tempat sehingga dapat mempersempit lahan dan mengganggu lingkungan. Berbekal fenomena inilah, RJ tergerak untuk mengedukasi tentang bahaya e-waste.

  1. Bocah Pengumpul Sampah

Teks cerita inspiratif ini datang dari dua anak yang berasal dari luar negeri, tepatnya Roma. Banyaknya sampah yang berserakan di daerahnya membuat keduanya tergerak untuk melakukan gerakan bersih-bersih lingkungan dengan mengumpulkan sampah yang berserakan.

Aksi ini membuat kedua bocah ini sempat tersohor di negaranya. Hal ini karena dampak yang diberikan oleh keduanya amat positif dan membuat banyak orang menyadari akan pentingnya kebersihan lingkungan tempat mereka tinggal. 

Kisah mereka bisa menjadi cerpen tentang kebersihan lingkungan yang dapat diceritakan kepada anak-anak lain sebagai inspirasi agar mereka memiliki kesadaran yang sama.

Selain dari para anak pecinta lingkungan, cerita lingkungan lainnya berasal dari seorang bapak yang resah dengan banyaknya produksi sampah setiap hari. Beliau adalah Satrijo Wiweko yang berasal dari Mojokerto. 

Kecintaannya pada lingkungan mendorongnya untuk membangun sebuah sekolah alam yang diperuntukkan bagi anak-anak usia dini. Di tempat ini, anak-anak dapat membayar sekolah dengan menggunakan sampah.

Hal yang terpenting dari sekolah ini adalah mengajarkan pentingnya pengelolaan sampah kepada anak-anak sejak dini. Tujuannya adalah agar mereka mampu memilah sampah plastik, basah, kering dan lainnya. 

Tidak hanya itu, dengan adanya sekolah tersebut, rasa mencintai serta menghargai lingkungan dan alam dapat dipupuk sejak dini. Harapannya, mereka akan lebih peduli terhadap pelestarian alam.

Kisah-kisah inspiratif pecinta lingkungan di atas bukanlah dongeng pengantar tidur. Namun, merupakan bukti bahwa masih ada orang yang peduli dengan kemunduran lingkungan yang sedang berlangsung dan perlu segera dilakukan penyelamatan. 

Untuk dapat membantu, Anda tidak perlu menjadi pahlawan yang dikenal banyak orang jika tidak mampu. Cukup memulainya dari sendiri. Mulailah untuk mengurangi penggunaan plastik yang sekali pakai. 

Sebisa mungkin, ketika Anda hendak membeli minuman kekinian, bawalah botol atau gelas sendiri untuk mengurangi sampah gelas plastik yang kian hari kian menggunung. Cara ini secara teratur akan mampu mengurangi sampah-sampah plastik yang sulit terurai.

5 Contoh Sikap Cinta terhadap Lingkungan

Sikap cinta terhadap kelestarian lingkungan dapat dipupuk sedari dini dan dimulai dari keluarga sehingga anak-anak dapat menjadi terbiasa dan cinta lingkungan menjadi karakter mereka. 

Cara yang paling mudah adalah dengan membiasakan anak-anak untuk merawat lingkungan sekitar mereka, misalnya dengan menyiram bunga di halaman rumah. Selain itu, berikut beberapa contoh sikap cinta terhadap lingkungan yang dapat Anda terapkan agar dicontoh oleh anak-anak.

  1. Membuang Sampah

Kebiasaan membuang sampah pada tempatnya adalah karakter dasar yang harus dimiliki oleh anak-anak sehingga mereka akan terbiasa melakukannya. Menempatkan sampah pada tempat yang tepat seperti ini membantu lingkungan menjadi tetap bersih. 

Lingkungan yang bersih juga berpengaruh pada kualitas kesehatan Anda karena dapat terhindar dari kuman penyakit dan nyamuk penyebab demam berdarah.

Selain itu, sampah yang berserakan juga dapat berkontribusi atas banjir yang sering terjadi. Alasannya, saat hujan tiba, sampah-sampah yang berserakan ini akan terikut air dan semakin lama dapat menyumbat aliran air yang pada akhirnya dapat menyebabkan banjir. 

Tidak hanya itu, membuang sampah sembarangan, apalagi di sungai, akan membuat membuat peluang banjir semakin tinggi.

  1. Memilah Sampah Sesuai Jenisnya

Sampah pada dasarnya banyak jenisnya. Ada yang mudah diuraikan, ada pula yang sulit dan membutuhkan waktu hingga bertahun-tahun untuk terurai di alam. Selain itu, ada juga sampah organik dan anorganik. Jadi, ketika membuangnya, sebaiknya Anda memilihnya terlebih dahulu untuk membantu mempermudah daur ulang.

  1. Menanam Pohon

Menanam pohon ataupun tumbuhan lain juga merupakan salah satu contoh sikap cinta terhadap lingkungan. Saat ini, banyak sekolah yang memulai menghijaukan tempat pendidikan mereka. 

Tidak hanya itu, penggunaan plastik pun mulai dikurangi sehingga semua pembungkus makanan beralih ke daun yang mudah didaur ulang. 

  1. Mengurangi Penggunaan Sampah Plastik

Sampah plastik membutuhkan waktu yang lama untuk dapat di daur ulang, bahkan ratusan tahun. Contoh sifat cinta terhadap lingkungan adalah dengan memulai mengurangi penggunaan plastik sekali pakai. 

Dengan cara ini, bumi akan terselamatkan dengan pencemaran plastik yang mulai sulit dikendalikan. Tidak hanya tanah saja yang tercemar, juga laut tempat hidup berbagai biota.

  1. Menghemat Pemakaian Air

Tidak semua tempat dianugerahi dengan jumlah air yang melimpah. Untuk itu, jika Anda berada di daerah dengan air yang melimpah sudah seharusnya menggunakannya dengan bijak. Berhematlah dalam  penggunaan air untuk keberlanjutan demi generasi penerus.

Selain dengan pendidikan di rumah, cinta lingkungan juga bisa ditanamkan melalui program Green School atau sekolah Adiwiyata. Gerakan ini juga dikampanyekan dengan membuat cerpen tentang lingkungan sekolah Adiwiyata. Melalui cerpen, diharapkan pesan cinta lingkungan bisa lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!