Langkah Langkah Kemerdekaan

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp

Langkah Langkah KemerdekaanLangkah Langkah Kemerdekaan Jawabannya mudah sekali. Bandingkan┬ásaja baik-baik kedua naskah ini. Bagaimana? Ya, kalian memang pintar. Jawabannya: d. Betul semua!”┬áSaya tak dapat menahan senyum lebar memperhatikan Jaya, si pemandu,┬ácerdik menghidupkan suasana. Siapa┬ábilang kunjungan ke museum pastilah┬á“garing” (baca: membosankan)? Ini jadi┬ákeriaan kedua saya di sini. Tadi, begitu┬ámemasuki “GedungPutih” ini, saya langsung terkesiap. Siap-siap menemui kesunyian (baca: tiada.pengunjung) di Museum Perumusan Naskah Proklamasi,┬átapi yang saya temui kejutan: di sudut Ruang I, di bawah lukisan, tuan rumah┬áLaksamana Muda.iladhasi Maeda menerima lr Soekarno, Drs Moh Hatta dan┬áMr Ahmad Soebardjo yang baru kembali┬ádari ‘penculikan’ ke Rengas Dengklok,┬á16 Agustus 1945, pukul 22:OO mengutarakan rencara persiapan pernyataan┬ákemerdekaan Indonesia, bersimpulah┬átujuh bocah putra;putri, seorang wanitamuda-yang saya duga, sang guru-dan┬ápria muda yang sedang menjelaskan isi┬ámuseum dengan bersemangat lewat cara┬ábercerita tak biasa.

Hanya sekitar 1m dari mereka, tertata┬áseperangkat kursi yang diduduki paratokoh dalam lukisan itu. Saya melayang ke┬álorong waktu. Peristiwa itu, tempat ini,┬ányata, di sini. Saya ikuti Jaya mengantar┬áibu guru Sulasmi Werdiningsih dan murid-murid SD Laboratorium PGSD FIP┬áUNJ itu beranjak ke Ruang II. Di sini,┬ápatung Soekarno, Hatta, Ahmad Soebardjo dalam ukuran sebenarnya duduk┬ámengelilingi meja bundar ka1’u, merumuskan Naskah Proklamasi RI pada pukul 03:00 dini hari, 17 Agustus 1945. Soekarno menuliskan di secarik kertas, yang┬ákini diproyeksikan di dinding.┬áDi Ruang III, jelang fajar, di meja┬ápersegi panjang kayu dan kursi-tursi bersandaran tinggi seperti yang biasa┬ákita lihat di film-film ksatria, rumusan┬áitu dibahas 29 tokoh-di antaranya Ki┬áHadjar Dewantara, R Otto Iskandardinata┬á Setelah disepakati, beberapa kata┬ádan ejaan dicoret dan diganti Berbekal┬ásecarik kertas itu, Sayuti Melik mengetik┬ánaskah di mesin ketik pinjaman dari militer Jerman di ruang kecil, didampingi┬áBM Diah. Selesai, naskah ketikan dibawa┬ákembali ke Ruang III untuk disahkan,┬áditandatangani. Lalu dirundingkan, kapan dan di manakah pernyataan kemerdekaan itu akan dilakukan.Langkah Langkah Kemerdekaan

Dari ruang bawah yang nyaman-luas, lapang, antar ruang tanpa penyekat, pintu, jendela lebar berventilasi memhebaskan udara masuk keluar, sejuk tanpa AC-kami meniti tangga ke lantai 2, menengok kamar tidur dan kamar mandi yang dulu dipakai Maeda, Laksamana Jepang yang memahami betul keinginan bangsa yang pernah didudukinya 3,5 tahun itu. Dari jendetra dan balkon bangunanArt Deco seluas 1.138, 10 m2 yang  dibangun pada 1920 -an ini kami bisa melepas pandang ke halaman belakang  pohon besar. Di lahan 3.914 m2 ini, ada lubang perlindungan.

Dipandu Jaya, saya dan murid-murid┬áitu hati-hati menuruni tangga yang disenderkan di dinding dalam “sumur”┬áyang kemudian memiliki lorong tersisa 3┬ám. Konon, ddu )ubang ini tembus hingga Taman Surapati di barat laut umtuk┬ámeloloskan diri. Oh, museum ini meyimpan petualangan!.

Langkah Langkah Kemerdekaan

Di bawah beringin tua yang belitan akar gantungnya telah berpayung, sang guru dan para murid berfoto-foto di muka rumah di daerah elite Menteng yang pada 1931 tercatat dimitiki PT Asuransi Jiwasraya dan saat Proklamasi berada di Jalan Miyako Dori itu. Saya merasa telah kenal lama dengan mereka, dal tak menampik ketika mereka mengajak mengikuti petualangan dari museum ke museum dengan mikrolet sewaan. Kunjungan berikutnya: Tugu Proklamasi!

Ya. hanya tugu yang tersisa dari┬árumah kediaman Soekarno yang diputuskan jadi tempat pembacaan Naskah┬áProklamasi pada 17Agustus 1945 pukul┬á10:00 itu. Pagi ini masih beberapa menit┬áselepas pukul 11:00 tapi Matahari mulai┬ágarang. Ibu guru dan murid-murid segera┬ámengarah ke monumen patung besar┬áSoekarno-Hatta,17 pilar, dan marmer hitam Naski,h Proklamasi yang diresmikan┬á.Presiden Soeharto, pada 17 Agustus 1980┬áuntuk mengamati dan berfoto. padahal,┬átitik Bung Karno berdiri memproklamasikan Kemerdekaan RI berada di ‘Tugu┬áPetir’ ┬á17m yang dibangun 1 Januari 1961┬ádengan cangkulan pertama Bung Karno.┬áLambang petir bak perusahaan Listrik┬áNegara (PLN) ada di puncak bulatan kepala tugu yang di bagian bawah tercantum, “Di sinilah dibacakan proklamasi┬áKemerdekaan Indonesia pada Tanggal 17┬áAgustus 1945 djam 10:00 pagi oleh Bung┬áKarno dan BungHatta.” Tugu ini pernah┬ájadi lambang KTP DKI Jakarta sebelum┬áMonas dibangun.

Di lokasi ini masih ada saru obelisk┬áputih, Tugu Peringatan Satoe Tahoen┬áRepoeblik Indonesia ‘Atas Oesaha Wanita Djakarta” yang diresmikan perdana┬áMenteri (PM) Sjahrir, 17 Agustus 1946┬ádibayangi Sekutu yang ditumpangi usaha Belanda menjajah kembali.┬á Tapi mengapa rumah di Jalan pegangsaan Timur 56 itu diruntuhkan┬á1960? Konon, atas perintah bung karno┬áyang dikenal arnat menghargai sejarah┬áyang tak ingin rumah ini dikultuskan,
dan berharap semangat merdeka sajalah┬áyang terus hidup. Ada analisis, pembongkaran itu atas desakan kaum kiri pada┬áperiode ketika ingin menenggelamkan┬ákarakter (peran) Bung Karno.┬áSelepas magrib, pembongkaran rumah dimulai. Bisa disaksikan dari vila┬árumah kami.yang menghadap Rumah┬áProklamasi itu,” kenang Hendro Sumardjan (65), putra sosiolog Selo Sumardjan, yang menghabiskan masa kecilnya┬ádi .jalan Pegangsaan Timur 54, bagian┬ádari halaman Rumah Proklamasi, “Kami┬ábahkan sempat ngobrol dengan petugas┬ápembongkaran.”

Bung Karno tinggal di Rumah Proklamasi selama sekitar Juli 1942 awal┬áJanuari 1946, jelang mengungsi ke ibukota darurat RI, Yogyakarta. Selanjutnya rumah itu ditempati PM Sjahrir┬áyang ulang-alik Jakarta-Yogyakarta. Usai┬ápenyerahan kedaulatan, Presiden Soekarno langsung tirlggal di Istana Merdeka. Tapi setiap 17 Agustus, Bung Karno┬áselalu kembali ke Rumah Proklamasi untuk memimpin upacara peringatan Detik-detik Proklamasi Kemerdekaan RI.┬á “Ribuan orang selalu hadir saat upacara,” kisah Hendro Sumardjan, sambil┬ámenambahkan bahwa, “setelah Rumah┬áProklamasi dibongkar, Bung Karno tak┬ápernah lagi datang. Upacara Detik-Detik┬áProklamasi. Kemerdekaan RI dan Penaikan Bendera Pusaka pun pindah ke┬áIstana Merdeka”

Hanya saya, guru dan murid-murid SD yang berkunjung ke sana, siang itu. Berbeda sekali dari suasana sore yang pernah saya tangkap beberapa kali. Warga dewasa dan anak-anak yang tinggal di kampung sekitarnya memanfaatkannya sebagai arena rekreasi. Bermain bola. berjalan-jalan atau duduk bercengkerama di kehijauan rumput dan kerindangan pepohonan lahan 4 ha itu. Di suatu sudut, sejumlah pemulung bahkan menjadikannya sebagai rumah luas beratap langit. Ada yang menyayangkan suasana tak tertib ini. Tapi, mengingat syarat Bung Karno ketika meminta dicarikan rumah: rumah kecil saja tak mengapa, tapi halaman harus luas agar bisa menampung rakyat yang banyak. Keramaian di sore dan akhir pekan itu agaknya memenuhi keinginannya  Menampung rakyat kecil yang tak memiliki atau kehilangan lahan bermain. Mereka, yang hingga 65 tahun Indonesia Merdeka, belum sepenuhnya menikmati arti merdeka.

terima kasih semoga bermanfaat dan membuat kita mengerti arti dari Langkah Langkah Kemerdekaan itu sendiri!!!

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!