(021) 5312 6107

MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE

JELAJAH
MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE
MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE

MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE

MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE Dari keapikan atmosfer jalan-jalan kecil, saya berkunjung ke beberapa rumah penduduk. Salah satunya milik Rudi pesik, pemerhati budaya yang tinggal di Jakarta. Bangunan miliknya berada di clirster Seko Tumenggungan Rumah ini memiliki bangun arsitektur omah kalang salah satu tipe rumah Kotagede selain rumah tradisional,tutur Laretna T. Adishakti, peneliti dan staf pengajar Pusat Pelestarian pusaka Arsitektur. Jurusan Arsitektur dan perencanaan Fakultas Teknik Universitas Gajah Mada, serta pekerja pusaka Badan pelestarian Pusaka Indonesia dan Jogjakarta Heritage Society (paguyuban pusaka Jogjakarta), yang menemani acara jalan kaki saya pagi itu. Pada zaman dulu, tipe rumah ini dimiliki sekelompok orang yang banyak bermukim di Tegalgendu dan sekiterrnya. Istilah Aalong digunakan untuk menyebut seseorang yang berada dalam kasta rendah pada saat itu., dapat juga berarti ‘pagar’, karena pada masa itu kaum kalang hidup terisolir atau dipagari dan ditempatkan di sebelah barat Sungai Gajah Wong. pada pemerintahan Sultan Agung. orang-orang kalang memiliki peran khusus sebagai pemintal tali, pembuat pelana kuda, pertukangan (undagi) kayu, maupun pelaksana acara grebeg kerajaan. Akhirnya, banyak orang kalang yang beralih profesi menjadi pedagang dan pengusaha. Kondisi ini pada akhirnya berdampak omah kalang tampil bagus dan mewah, dengan berbagai ukiran khas kerajaan di dalamnya.

MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE

MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT

Bentuk arsirektur frsik omah kalang berupa perpaduan Jawa dan Eropa (Indisch), dan di beberapa bangunan muncul juga unsur Arab dan Cina. Bagian dalam bangunan tersimpan beberapa kerajinan peninggalan, seperti kereta kencana yang merupalan alat transportasi jaman dulu, serta patung dan ukir ukiran kayu dengan bentuk beragam namun secara umum berupa gambaran manusia dengan segala aktivitasnya.

Beberapa parung penggambaran manusia setengah binatang pun terlihat di lokasi ini. Menuju ruang tengah kediaman Rudi Pesik, tampak patung manusia berkepala gajah dengan posisi berdiri. Belalainya menghadap ke kiri, seperti sedang menghisap sesuatu dalam mangkuk  “berbentuk batok kelapa dibelah. yang berada di tangan kiri. Konon patung ini merupakan dewa ilmu pengetahuan. Simbol-simbol satwa memang terlihat sangat erat dengan kehidupan keraton jawa.

Selepas dari omah kalang, saya berjalan beberapa ratus meter dan menjumpai bangunan-bangunan tradisional Jawa. “Rumah tradisional Jawa dapat  dibedakan dari atapnya: joglo, limasan, kampung, dan panggang pe,” Kepala Rukun  Tetangga setempat menjelaskan.
Jogio adalah tipe atap yang paling rumit. sedang panga pe adalah tipe . paling sederhana. Kepemilikannya didasarkan pada status sosial pemilik rumah Bangsawan atau orang kaya mengunakan atap joglo atau limasan pada pandapa  dan dalem, sedangkan bangunan ganhok atau godri menggunakan atap limasan atau kampung. Atap pangang pe pada umumnya tidak digunakan sebagai rumahh tinggal, tapi lebih sering digunakan  untuk gardu dan pasar. MENINJAU RUMAH PUSAKA RAKYAT KOTA GEDE

Kunikan sekaligus kekhasan dari tiap-tiap rumah tradisional Jawa lainnya  adalah arah bangunan, termasuk di kotagede, yang selalu menghadap utara atau selatan. Hal ini terkait dengan kepercayaan masyarakat setempat. Meski seiring dengan munculnya jalan-jalan besar banyak bangunan yang kini menghadap  jalan, namun tata letak dalam bangunan tetap dipertahankan. Dengan bentuk denah yang selalu bujur sangkar atau persegi panjang, bagian bangunan. meliputi rumah induk dan rumah tambahan. Rumah induk terdiri dari pendapa dalem, senthong, dan pringgitan, dan rumah tambahan terdiri dari gandhok gadri pekiwan atau powon.

Kekhasan lain yang saya temui pada rumah tradsional Jawa adalah penggunaan material kayu sebagai bahan utama baik sebagai komponen struktur bagunan maupun elemen-elemen arsitektur. Jenis kayu yang banyak digunakan  adalah kayu jati (Tectona grandis).
namun, karena mahalnya kayu jenis ini ada jenis kayu lain yang bisa digunakan seperti kayu nangka (Artocarpus heteropllus), kayu glugu (Cocos nuirfera), serta kayu tahun seperti kayu jogar (Cossia siamea), kayu sengon (Albizzia sp), dan kayu meranti (Shorea leprosula).
Keseharian saya menyusuri ruas-ruas jalanan Kotagede begitu menyenangkan. mencermati dalam suasana bebas hiruk pikuk, hingga bisa lebih cermat menagkap detail bangunan yang direvitalisasi pasca gempa. Sama halnya ketika  saya melangkahkan kaki pada sore hari dan meiihat para lelaki memancing ikan . bersanding dengan peralatan berat Kotagede terus berbenah diri demi kelestarian jejak budaya dan arsitektural kebanggaan mereka.

 


error: Content is protected !!