Sahabat Yatim Bahagiakan Ibu Dhuafa Penyintas Kanker di Yogyakarta dan Gunungkidul

Donasi Kesehatan

Kanker bukan hanya tentang rasa sakit fisik, tetapi juga perjuangan batin, ketakutan, dan keterbatasan yang harus dijalani setiap hari. Bagi ibu-ibu dhuafa penyintas kanker, perjuangan itu terasa berlipat ganda. Di tengah tubuh yang lemah dan biaya pengobatan yang terus berjalan, mereka tetap berusaha bertahan demi keluarga dan harapan untuk sembuh.

Melihat kondisi tersebut, Sahabat Yatim mengimplementasikan Program Bahagiakan Ibu Dhuafa Penyintas Kanker sebagai wujud kepedulian dan ikhtiar untuk menguatkan langkah para ibu pejuang ini. Program ini direalisasikan pada Jumat–Sabtu, 2–3 Januari 2025, dengan menyasar langsung rumah tinggal para penerima manfaat di wilayah Kecamatan Mlati, Umbulharjo, Wonosari (Kabupaten Sleman, Kota Yogyakarta, dan Gunungkidul).

Melalui pendampingan Staf PNP Cabang Yogyakarta, Sahabat Yatim menyalurkan bantuan uang tunai kepada tiga ibu dhuafa penyintas kanker. Bantuan ini diperuntukkan untuk menunjang kebutuhan pengobatan, kontrol rutin ke rumah sakit, serta kebutuhan mendesak lainnya. Rata-rata penerima manfaat masih harus menjalani kontrol medis hingga dua kali dalam sebulan, sebuah rutinitas yang tidak hanya menguras tenaga, tetapi juga biaya.

Salah satu penerima manfaat adalah Ibu Astuti, penyintas kanker payudara. Saat tim Sahabat Yatim berkunjung, Ibu Astuti baru saja kembali dari rumah sakit. Dengan mata berkaca-kaca, ia menceritakan duka mendalam yang masih ia rasakan. Suaminya meninggal dunia pada Desember 2025 lalu akibat kanker paru-paru, meninggalkan dirinya dan seorang putri kecil yang masih duduk di kelas II SD. Kini, Ibu Astuti harus menjalani peran sebagai ibu sekaligus ayah, sembari terus berjuang melawan penyakit yang masih mengintainya.

Penerima manfaat lainnya adalah Ibu Sumarsih Mawi, penyintas kanker serviks dengan metastasis tulang (OA). Kondisi kesehatannya yang terus menurun membuat tindakan operasi tulang sempat tertunda. Namun pada Januari ini, operasi harus kembali dijalani karena kanker telah memasuki stadium 4. Bahkan untuk berjalan saja, Ibu Sumarsih mengalami kesulitan. Setiap langkah terasa berat, namun semangatnya untuk sembuh tidak pernah padam.

Bantuan yang diberikan Sahabat Yatim menjadi secercah harapan di tengah keterbatasan. Lebih dari sekadar bantuan materi, kehadiran tim Sahabat Yatim juga menjadi penguat secara moral dan emosional. Para ibu penerima manfaat terlihat bahagia dan terharu karena merasa tidak sendiri dalam menjalani ujian hidup ini.

Ke depan, Sahabat Yatim berencana untuk menyambung silaturahmi dan memantau kondisi terbaru para penerima manfaat, serta memberikan dukungan lanjutan jika memungkinkan, guna mengoptimalkan ikhtiar pengobatan yang sedang dijalani. Besar harapan kami agar program ini dapat terus berlanjut, karena masih banyak ibu dhuafa penyintas kanker yang membutuhkan dukungan material, spiritual, dan moral.

Melalui program ini, Sahabat Yatim percaya bahwa sekecil apa pun bantuan yang diberikan, dapat menjadi penguat langkah dan penumbuh harapan bagi mereka yang sedang berjuang melawan kanker. Karena setiap ibu berhak untuk terus berjuang, didampingi, dan dikuatkan