Tari Manjora Manari Lenso Maluku

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on linkedin
LinkedIn
Share on whatsapp
WhatsApp
Tari Manjora Manari Lenso Maluku
Tari Manjora Manari Lenso Maluku

Tari Manjora Manari Lenso Maluku Rakyat Maluku rerlahir untuk bergembira ber musik bernayanyi dan menari segala hal pantas di rayakan. Pesta pernikahan, panen cengkeh, tahun baru.dan menyambut tamu.┬áMenarilah lombo (lembut) dengan lenso┬á(saputangan putih).mudah, tak perlu┬átakut salah. Manjora (ayolah)! Tua muda,┬ápria, wanita, turun ke arena. Bahkan┬átamu, yang semula tak tahu, sekali dua┬ámengikuti, langsung bisa. “Menari lenso jadi tari pergaulan┬ámulai negeri (kampung ) hingga akhirnya Presiden Soekarno mengunjungi┬áMaluku, 1952. Beliau ikut menari bersama rakyat. Simpati pun meluap karena┬ámenari lenso sederhana, tapi mengikat┬áhingga sangat popular. Tari lenso melambangkan kedamaian. Balengang,┬ágoyang ke sana kemari seperti burung┬ámenangkap ikan di lautan dalam ombak besar. dan kecil dengan badendang┬áManise-manise, Kole-kole” tutur Mans┬áMuskita (ZS), peterjun payung wanita┬ápertama Indonesia dan ketua Lembaga Kebudayaan Maluku.

Tari Manjora Manari Lenso Maluku

Kesan pertarma itu begitu mendalam.┬áKetika pada awal 1960-an Bung Karno┬ámenasionalisasi, menyederhanakan tari┬átradisional. melepas ┬áunsur etris yang┬ádianggap menghambat proses cepat┬áapresiasi, tari lenso jadi salah satu pilihan favorit. ia bahkan menciptakan lagu khusus iringan tari lenso, Bersuka┬áRia yang dilantunkan Bing Slamet dan┬áTiti ek Puspa : ” mari kita bergembira /Suka┬ária bersama/Hilangkan sedih dan duka/┬ámari bernyanyi bersama”

Tari Manjora Manari Lenso Maluku
Tari Manjora Manari Lenso Maluku

Secara tradisi. tari lenso yang juga┬ádikenal warga minahasa di sulawesi ┬áUtara dan Tengah merupakan tari pergaulan. Semua silakan berbaur. Kadang,┬ákala menyambut tamu atau berpentas,┬ápenarinya wanita saja. “mereka mengenakan pakaian pesta, Nono Rok. Kebaya panjang putih lengan panjang bermanset (dengan kancing-kancing), cole┬á(kutang berenda), rok lipit dan kaus kaki┬áPutih.” urui Samuel wattimenan. perancang busana yang sedang mengangkat┬á tetnun maluku. Pelengkap utama, saputangan putih bersih, bertepi renda atau
neci yang sudah dikelantang (dicuci dengan sabun, dibilas, direndam campuran
sagu, dijemur, dibilas lagi, dijemur lagi) dan disetrika.

Setelah mengantar tamu, tiba saatnya menari lenso bersama, para jojaro (pemudi) itu berbaur. Bila lelah, bisa istirahat sambil menikmati minuman dan penganan ketan unti. ketan durian, klappertaart, brruder, tulband, koningskroon, cucur, wajik, ampas terigu (roti serat kasar).Biasanya pesta dan menari lenso berlangsung sirmpai pagi, sekuatnya. Kalau tak pulang pagi berarti pestanya kurang menarik.

“Waktu hujan sore-sore/kilat sambar┬ápohon kanari, /E jojaro deng mongare/mari┬ádansa deng manari /Pukul tifa toto buang/kata balimbing di kereta/nona dansa dengan tuan/jangan sindir nama betaE menari┬ásanbil goyang badanee/Menari lonmbo pegang lenso manisee/rasaramai jangan pulang duluee………..”

ayooooo berwisata ke maluku ini mengasikan….!!!!!!!!!!┬áterima kasih┬á

Related Posts

Leave a Comment

Tangan di Atas Lebih Baik daripada Tangan di Bawah

Perjalanan hidup akan lebih indah dan bermakna ketika kita mampu berbagi. Jadikan kebiasaan berbagi untuk bantu sesama. Yuk sedekah sekarang, biar berkah!