Sekolah Darurat Sahabat Yatim untuk Anak Terdampak Banjir Aceh Tamiang
Musibah Banjir Sumatera yang melanda pada November tahun 2025, juga melanda Desa Lubuk Sidup, Aceh Tamiang, meninggalkan jejak yang tidak mudah dilupakan. Lingkungan yang masih basah, akses yang terbatas, serta aktivitas harian yang belum sepenuhnya pulih menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat, terutama anak-anak. Namun di tengah kondisi itu, semangat untuk belajar dan mendekatkan diri kepada Allah tak pernah padam. Melalui program Sekolah Darurat, Sahabat Yatim kembali menghadirkan ruang aman dan penuh makna bagi anak-anak terdampak bencana.
Kegiatan Sekolah Darurat ini dilaksanakan pada Selasa, 30 Desember 2025, dengan melibatkan 30 anak sebagai penerima manfaat. Sehabis Magrib, di bawah gerimis yang masih turun perlahan, satu per satu anak datang ke lokasi kegiatan. Dengan membawa Al-Qur’an dan Iqra’ di tangan, mereka melangkah penuh semangat—seolah tak ingin kehilangan kesempatan untuk belajar meski situasi belum sepenuhnya pulih.
Dipandu oleh tim pendamping Sahabat Yatim, yakni Ibu Ipo, Ibu Wati, dan Hafiz, kegiatan mengaji berlangsung dengan khidmat dan hangat. Anak-anak duduk rapi dengan pakaian sederhana, wajah mereka memancarkan keceriaan dan ketulusan. Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar mengalun, menjadi penyejuk di tengah suasana pascabencana yang masih menyisakan kelelahan fisik dan batin.
Gerimis yang turun justru mempererat kebersamaan. Anak-anak tetap bertahan hingga kegiatan selesai, saling menyemangati satu sama lain, dan menunjukkan fokus luar biasa dalam mengikuti pembelajaran. Tidak ada keluhan, tidak ada raut lelah—yang ada hanyalah semangat untuk terus belajar dan mengaji. Pemandangan ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan tidak pernah mampu memadamkan cahaya iman dan keinginan untuk menuntut ilmu.
Program Sekolah Darurat Sahabat Yatim tidak hanya menjadi sarana pembelajaran, tetapi juga ruang pemulihan spiritual dan emosional bagi anak-anak Aceh Tamiang. Di tengah trauma dan ketidakpastian akibat banjir, mengaji bersama menghadirkan ketenangan, rasa aman, serta harapan baru. Setiap huruf yang dibaca menjadi penguat hati, menumbuhkan keyakinan bahwa masa depan tetap bisa diraih dengan doa dan usaha.
Melalui kegiatan ini, Sahabat Yatim menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi anak-anak yatim dan dhuafa di situasi darurat. Pendidikan dan pembinaan spiritual tetap menjadi prioritas, bahkan di tengah kondisi sulit sekalipun. Sekolah Darurat hadir sebagai bukti bahwa perhatian dan kasih sayang dapat menjangkau siapa saja, kapan saja.
Semoga setiap ayat yang dilantunkan dalam kegiatan mengaji ini menjadi amal kebaikan yang mengalir, membawa keberkahan bagi anak-anak, para pendamping, dan seluruh pihak yang telah mendukung. Dari ruang sederhana di Desa Lubuksidub, cahaya harapan itu terus menyala—menguatkan langkah anak-anak Aceh Tamiang untuk bangkit, belajar, dan melangkah menuju masa depan yang lebih baik. 🤲