(021) 5312 6107

Cara Berbakti Kepada Orang Tua

INSPIRASI
Cara Berbakti Kepada Orang Tua
Cara Berbakti Kepada Orang Tua

pixabay.com

 Cara Berbakti Kepada Orang Tua
 
وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ لقمان [15]

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia denegan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Ku lah kembalimu, maka kuberitahukan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman: 15)

Birrul Walidaini yaitu ihsan atau berbuat baik dan bakti kepada orang tua dengan memenuhi hak-hak kedua orang tua serta menaati perintah keduanya selama tidak melanggar syariat. Lawan katanya yaitu Aqqul walidaini, yaitu durhaka kepada orang tua dengan melakukan apa yang menyakiti keduanya dengan berbuat jahat, baik melalui perkataan ataupun perbuatan serta meninggalkan kebaikan kepada keduanya. Hukum bakti kepada orang tua wajib ‘ainiy (mutlak) sedangkan durhaka kepada keduanya haram.

Bagaimana cara berbakti kepada orang tua menurut Al-Qur’an?

Tidak Berkata “ah”

Salah satu cara berbakti kepada orang tua yang masih disepelekan adalah untuk tidak berkata “ah”. Padahal perkataan “ah” termasuk suatu dosa kepada orang tua apalagi, membentak, memukul, atau hal lainnya yang lebih kejam. Selain itu juga perlu berlemah lembut kepada orang tua dan mendoakan keduanya agar dikasihi oleh Allah SWT.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِندَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُل لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا الإسراء [23]

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.”(QS. Al-Israa : 23)

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا الإسراء [24]

 

“Dan rendahkanlah dirimu terhadap merekaberdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Rabb-ku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil”.”(QS. Al-Israa : 24)

Berbuat baik kepada keduanya

Perintah berbuat baik kepada orang tua merupakan cara berbakti kepada orang tua yang paling utama dan urutannya adalah setelah perintah untuk beribadah kepada Allah tanpa mempersekutukannya. Hal ini menggambarkan pentingnya berbakti kepada orang tua. Dalam ayat lain Allah menjelaskan bahwa bersyukur kepada orang tua (dengan berbakti kepada keduanya) merupakan kesyukuran kepada Allah, karena Allah menciptakan semua manusia dari rahim orang tua.

قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ ۖ أَلَّا تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا ۖ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۖ وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُم مِّنْ إِمْلَاقٍ ۖ نَّحْنُ نَرْزُقُكُمْ وَإِيَّاهُمْ ۖ وَلَا تَقْرَبُوا الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ ۖ وَلَا تَقْتُلُوا النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُم بِهِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ الأنعام [151]

“Katakanlah: “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Rabb-mu, yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia, berbuat baiklah terhadap kedua orang ibu bapa, dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan. Kami akan memberi rezeki kepadamu dan kepada mereka; dan janganlah kamu mendekati perbuatan-perbuatan yang keji, baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi, dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar”. Demikian itu yang diperintahkan oleh Tuhanmu kepadamu supaya kamu memahami (nya).”  (QS. Al-An’am : 151)

Bersikap baik kepada orang tua

Meskipun orang tua menyuruh kepada suatu perbuatan yang menyekutukan Allah SWT, atau orang tua tersebut masih belum memeluk islam, bersikap baik kepada orang tua tetap menjadi suatu kewajiban oleh seorang anak tanpa harus mematuhi perintah mereka yang menyalahi syariat.

وَإِن جَاهَدَاكَ عَلَىٰ أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا ۖ وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا ۖ وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ۚ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ لقمان [15]

“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. Luqman : 15)

Selalu mengingat jasa-jasa orang tua

Cara berbakti kepada orang tua selanjutnya adalah dengan mengingat jasa-jasa orang tua terutama ibu. Diungkapkan dalam satu ayat Al-Qur’an, dimana seorang ibu rela berkorban dalam mengandung anaknya, kemudian menyusuinya. Semua jasa orang tua di kala anak masih kecil dan lemah perlu diingat dan dikenang untuk selamanya.

وَوَصَّيْنَا الْإِنسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ لقمان [14]

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.” (QS. Luqman : 14)

Bergaul dengan orang tua secara baik

Di dalam hadits nabi shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan bahwa memberikan kegembiraan kepada seorang mu’min termasuk shadaqah, lebih utama lagi kalau memberikan kegembiraan kepada kedua orang tua kita.

Dalam nasihat perkawinan dikatakan agar suami harus senantiasa berbuat baik kepada istri, tetapi kepada kedua orang tua harus lebih baik daripada kepada istri. Karena dia yang melahirkan, mengasuh, mendidik, dan banyak jasa lain kepada kita.

Dalam suatu riwayat dikatakan bahwa ketika seseorang meminta izin untuk berjihad (dalam hal ini fardhu kifayah kecuali waktu diserang musuk maka fardhu ‘ain) dengan meninggalkan orang tua dalam keadaan menangis, maka Rasulullah shallalahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kembali dan buatlah keduanya tertawa seperti engkau telah membuat keduanya menagis”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i]. Dalam riwayat lain dikatakan : “Berbaktilah kepada kedua orang tuamu”. [HR. Bukhari dan Muslim].

Ada riwayat lain yang cukup panjang berkaitan dengan hal tersebut diatas. Dari Jabir Ra meriwayatkan, ada laki-laki yang datang menemui Nabi SAW dan melapor, dia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku…

Pergilah kau membawa ayahmu kesini”, perintah beliau.

Bersamaan dengan itu malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata, “Ya, Muhammad, Allah ‘azza wa jalla mengucapkan salam kepadamu, dan berpesan kepadamu, kalau orang tua itu datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya

Ketika orang tua itu tiba, maka nabi pun bertanya kepadanya, “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?” Lelaki tua itu menjawab , “Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah, bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibunya), atau untuk keperluan saya sendiri?” Rasulullah bersabda lagi, “Lupakanlah itu”.

Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu!” Maka wajah keriput lelaki itu tiba-tiba menjadi cerah dan tampah bahagia, dia berkata, “Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah SWT berkenan menambah kuat keimananku dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya…

Nabi mendesak, “Katakanlah, aku ingin mendengarnya”. Orang tua itu berkata dengan sedih dan air mata yang berlinang, “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini, ‘Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah, lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita. Lalu air mataku berlinang-linang dan meluncur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti akan datang. Setelah engkau dewasa, dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran dan kekjaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan. Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan daku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu… seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan’.”

 

Selanjutnya jabir berkata, “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu seraya berkata, “Engkau dan hartamu milik ayahmu!” (HR. At-Thabarani dalam “As-Saghir” dan Al-Ausath).

Rasulullah pernah berkata kepada seseorang, “kamu dan hartamu adalah milih ayahmu.” (Asy-Syafi’i dan Abu Dawud).

Berkata dengan lemah lembut

Harus dibedakan berbicara dengan kedua orang tua dan berbicara dengan anak, teman atau dengan yang lain. Berbicara dengan perkataan yang mulia kepada kedua orang tua, tidak boleh mengucapkan “ah” apalagi mencemooh dan mencaci-maki atau melaknat keduanya karena ini merupakan dosa besar dan bentuk kedurhakaan kepada orang tua. Jika hal ini sampai terjadi, wal iya ‘udzubilah.

Kita tidak boleh berkata kasar kepada orang tua kita, meskipun keduanya berbuat jahat kepada kita. Atau ada hak kita yang ditahan oleh orang tua atau orang tua memukul kita atau keduanya belum memnuhi apa yang kita minta (misal biaya sekolah) walaupun mereka memiliki, kita tetap tidak boleh durhaka kepada keduanya.

Rendah hati kepada keduanya

Sebagai anak, kita tidak boleh sombong apabila sudah meraih sukses atau mempunyai jabatan di dunia, karena sewaktu lahir kita berada dalam keadaan hina dan membutuhkan pertolongan. Kedua orang tualah yang menolong dengan memberi makan, minum, pakaian dan semuanya.

Apabila kita diperintahkan untuk melakukan pekerjaan yang kita anggap ringan dan merendahkan kita yang mungkin tidak sesuai dengan kesuksesan atau jabatan kita dan bukan sesuatu yang haram, wajib bagi kita untuk tetap taat kepada keduanya. Lakukan dengan senang hati karena hal tersebut tidak akan menurunkan derajat kita, karena yang menyuruh ialah orang tua kita sendiri. Hal itu merupakan kesempatan bagi kita untuk berbuat baik selagi keduanya masih hidup.

Mencukupi kebutuhan orang tua

Semua harta kita sesungguhnya milik orang tua. Firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 215,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنفِقُونَ ۖ قُلْ مَا أَنفَقْتُم مِّنْ خَيْرٍ فَلِلْوَالِدَيْنِ وَالْأَقْرَبِينَ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَابْنِ السَّبِيلِ ۗ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ فَإِنَّ اللَّهَ بِهِ عَلِيمٌ البقرة [215]

“Mereka bertanya kepadamu tentang apa yang mereka nafkahkan. Jawablah: “Apa saja harta yang kamu nafkahkan hendaklah diberikan kepada ibu-bapak, kaum kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin dan orang-orang yang sedang dalam perjalanan.” Dan apa saja kebajikan yang kamu buat, maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah : 215)

Jika seseorang sudah berkecukupan dalam hal harta hendaklah ia menafkahkan yang pertama ialah kepada kedua orang tuanya. Kedua orang tua memiliki hak tersebut sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah di atas. Kemudian kaum kerabat, anak yatim dan orang-orang yang dalam perjalanan. Berbuat baik yang pertama ialah berbuat baik kepada ibu kemudian bapak dan yang lain, sebagaimana sabda Rasulullah SAW berikut.

Hendaklah kamu berbuat baik kepada ibumu, kemudian ibumu, sekali lagi ibumu, kemudian bapakmu, kemudian orang yang terdekat dan yang terdekat.” [HR. Bukhari dalam Adabul mufrad No. 3, Abu Dawud No. 5139 dan Tirmidzi 1897, Hakim 3/642 dan 4/150 dari  Mu’awiyah bin Haidah, Ahmad 5/3,5 dan berkata Tirmidzi, “Hadits Hasan”]

Sudah menjadi rahasia umum kalaumasih banyak anak laki-laki yang sudah menikah dan tidak menafkahkan hartanya lagi kepada orang tuanya karena takut kepada istrinya, padahal hal ini sangat tidak dibenarkan. Yang mengatur harta ialah suami sebagaimana disebutkan bahwa laki-laki ialah pemimpin bagi kaum wanita.

Harus dijelaskan kepada istri bahwa kewajiban yang utama bagi anak laki-laki (meskipun sudah menikah/berkeluarga) ialah berbakti kepada ibu (kedua orang tuanya) setelah Allah dan Rasul-Nya, sedangkan kewajiban yang utama bagi wanita yang telah bersuami setelah kepada Allah dan Rasul-Nya ialah kepada suaminya. Ketaatan kepada suami akan membawa ke surga. Namun demikian suami hendaknya tetap memberi kesempatan atau ijin agar istri dapat berinfaq dan berbuat baik kepada orang tuanya.

Mendoakan orang tua

Di dalam cara berbakti kepada orang tua, mendoakan orang tua tidak kalah penting. Sebagaimana dalam ayat “Rabbirhamhuma kamaa rabbayaani shagiira.” (Wahai Rabb-ku kasihanilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku di waktu kecil). Seandainya orang tua belum mengikuti dakwah yang haq dan masih beruntuk syirik serta bid’ah, kita harus tetap berlaku lemah lembut kepada kedunya. Dakwahkan kepada keduanya dengan perkataan yang lemah lembut sambil berdoa di malam hari, ketika sedang puasa, di hari jum’at dan di tempat-tempat dikabulkan doa agar ditunjuki dan dikembalikan ke jalan yang haq oleh Allah SWT.

Yap, itulah tadi beberapa Cara Berbakti Kepada Orang Tua menurut Islam. Semoga artikel ini dapat membantu kita agar dapat lebih berbakti kepada orang tua kita. Amiin…

 


error: Content is protected !!