Sahabat Yatim

Bertemu Rockstar di Temple Bar

Bertemu Rockstar di Temple Bar

Bertemu Rockstar di Temple Bar

Bertemu Rockstar di Temple Bar Jangan lupa berfoto di depan Clarence Hotel. ya. Jangan kalah sama yoda saran Adib, reman baik saya, sehari menjelang keberangkatan ke Dublin, Irlandia. Saya tersenyum geli melihat imaji pada selembar kertas yang disodorkan Adib, yang diperolehnya dari internet: sesosok hijau-mini, karakter dalam film Star Wars, dengan tatap mata sayu berpose di depan hotel milik Dubliners-sebutan untuk warga Dublin- Bono dan The Edge, personel grup band rock U2. “Baiklah” saya menerima sarannya. Senyum geli saya pun berubah menjadi gelak tawa, tak tahan melihat pose Yoda yang wagu.
Dublin, menjelang musim panas, tetap diliputi hawa dingin sekitar 10 derajat Celcius. Meski demikian, tak menyurutkan semangat saya untuk menjelajahi Ibukota Irlandia ini bersama lima kolega: Dita, Edna, Indra, Nova, dan Triono. Utamanya, menlusuri Temple Bar, cagar budaya kebanggaan Dubliners di jantung kota pemuja shamrock leaves (serupa daun semanggi) ini, serta mengikuti saran Adib untuk berfoto di depan Clarence Hotel, seperti Yoda. Temple Bar dapat ditempuh dengan alat transportasi umum, antara lain bus semua bus dalam kota Dublin, melewati rute Temple Bar. Saya sendiri, serta lima kolega, lebih memilih berjalan kaki dari tempat menginap di Mercer Hotel, di Lower Mercer Street, Dublin 2. Tak kurang dari sepuluh menit, sampailah kami di Temple Bar.

Bertemu Rockstar di Temple Bar

Sepanjang siang hingga malam, kawasan yang berbatasan dengan River Liffey di utara, Dame Street di selatan, Fishamble Street di barat dan Westmoreland Street di timur, ini terus bersolek dalam atmosfer bohemian yang atraktif. Pertokoan, butik, restoran, kafe pub, pasar terbuka, hingga wahana seni, musik, film, desain, dan fotografi, semua menyatu di Temple Bar.

Jalanan berbatu atau cobble street yang kami lalui, tak pernah sepi dari lalu lalang orang-orang yang siap berpesta, menikmati hiburan dan makanan, atau sekedar melepas dahaga menenggak minuman khas bir Guinness dan Irish Coffee yang mashyur. Bahkan di salah satu sudut, kami melihat segerombolan perempuan berdandan ala bidadari, lengkap dengan hiasan yang melingkar di atas kepala dan sayap!

Bertemu Rockstar di Temple Bar

Nama kawasan bekas koloni Viking ini konon diambil dari salah seorang  warganya, Sir William Temple, berdarah Anglo-Irish, yang membangun kediaman pada tahun 1673. Namun sumber lain menyatakan, Temple Bar di Dublin adalah imitasi Temple Bar di London, Inggris. Entah mana yang benar, yang jelas, kawasan ini mendadak ramai dijejali seniman sejak terbetik kabar perusahaan transportasi Irlandia CIE siap membeli kawasan Temple Bar dan berencana membangun terminal bus. Tapi rencana tersebut gagal, dan Temple Bar kemudian dikembangkan oleh Temple Bar Properties hingga menjelma menjadi pusat atraksi yang memberi warna baru bagi Dublin. Segala sudutnya yang ber-ambience unik dapat dicapai dengan berjalan kaki.

BISNIS & BUDAYA
Sesampainya di Essex Street East melalui Parliarnent St., kami berjalan melintasi Christ Church Cathedral (1) yang megah, tak jauh dari menara Dublin Castle (2). Bangunan kUno ini bertetangga dengan pasar terbuka Food Market di Meeting House Square yang menjajakan cokelat, roti, buah dan saYuran organik, hingga sushi! Banyak institusi kebudayaan Irlandia di sini, dari musik, film fotografi, hingga bursa efek dan bank. Salah satu yang terkenal, National Photographic Archives (3), perpustakaan nasional yang menyimpan sekitar 3000.000 foto detail pembangunan Irlandia sejak akhir abad18. Sayang kami tidak sempat mampir ke perpustakaan nasional yang memiliki dokumentasi Perang Sipil, tahun 1916. Perut yang lapar memaksa kami mampir di sebuah kedai mungil.

RESTO & PUB
Usai bersantap siang, kami menyusuri deretan resto dan pub yang menawarkan sajian tradisional khas Irish dan pertunjukan musik. antara lain Temple Bar pub (4) dengan dinding berwarna merahnya yang legendaris, lalu Oliver John Gogarty (5) di sudut Fleet St dan Anglesea St, serta Hard Rock Caf6 (6) di mana terdapat koleksi para pesohor kacamata Bono, kaos Elvis, sepatu Paul McCartney The Beatles, jaket Madonna, dan lain-lain. Tak terasa, waktu telah beranjak petang. Langit yang masih terlihat terang membuat kami tak sadar, malam siap menjelang. Kami putuskan untuk mampir di Gallagher’s Boxty House Restaurant (7), mencicipi masakan tradisional Irlandia, terutama steak dan sajian penutup Baileys Cheesecake, yang membuat saya terkesan. “Ternyata tidak salah, “seru Indra, “makanan di sini.memang seperti yang dipromosikan di inflight magazine.

Enak!” Yang dimaksud Indra adalah CARA, inflisht magazine dari Aer Lingus, yang menerbangkan kami dari London ke Dublin.

AKOMODASI
Usai santap malam, kami kembali melipir kawasal Temple Bar, hingga tanpa sadar, telah melintas di depan Octagon Bar (8), tempat nongkrong favorit Bono dan The Edge. Ternyata bar tutup, lalu kami melipir ke kanan mengitari blok yang ternyata mengarahkan kami pada Clarence Hotel (9). Ouw ternyata hotel yang menempati bangunan kuno buatan abad 1852 ini letaknya saling berpunggungan dengan Octagon Bar. Bono dan The Edge membeli dan merenovasi bangunan ini, pada tahun
1992, dan menjadikannya hotel butik premier yang simpel sekaligus elegan, yang menyatu dengan Octagon Bar. Tak diduga, tiba-tiba melintas sosok yang familiar, The Edge! Sang rockstar tampak sederhana dalam balutan kaos putih, jaket, celana jeans, dan topi. Kami sempat bercakap, walau sebentar. Dengan santun, The Edge mohon Pamit, dan berlalu dengan Mercy hitam. Segera saya kabarkan via sms pada Adib di Jakarta, pertemuan saya dengan idolanya, yang agaknya membuat ia menyesal telah memberikan saran brilian-berfoto ala Yoda di depan Clarence Hotel!

terima kasih semoga bermanfaat mungkin saja berminat untuk mengunjungi tempat ini “Bertemu Rockstar di Temple Bar“…!!!!!!

 

Exit mobile version