Kisah Rasul, Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir sampai Wafat

Kisah Rasul, Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir sampai Wafat

Kisah Rasul, Kisah Nabi Muhammad SAW dari Lahir sampai Wafat

Kelahiran Nabi Muhammad SAW

Rasulullah SAW lahir pada Tahun Gajah yaitu tahun dimana pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah Habasyah yang tengah ingin merobohkan Ka’bah. Dengan kebesaran-Nya, Allah SWT menghentikan pasukan tersebut dengan mengirimkan burung-burung ababil untuk menjatuhkan batu-batu yang membawa wabah penyakit. Kejadian ini terdapat di Al-Quran, Surat Al Fil yang berarti pasukan gajah.

Di tahun inilah, Nabi Muhammad SAW lahir di Makkah dan dibesarkan sebagai anak yatim karena Abdullah, ayah Nabi Muhammad, wafat sebelum Rasulullah SAW lahir. Beberapa tahun setelah menghabiskan waktu dengan ibunya, Aminah, Nabi Muhammad SAW kemudian dibesarkan oleh kakeknya yaitu Abdul Muthalib.

Sayangnya, umur kakeknya pun juga hanya sebentar. Setelah dua tahun dibesarkan oleh kakeknya, Abdul Mutholib meninggal pada umur Rasul yang kedelapan dan Nabi diasuh oleh pamannya Abu Thalib. Abu Thalib dikenal dengan orang yang dermawan walaupun hidupnya fakir atau tidak mencukupi kebutuhan sehari-harinya. Hanya dengan keadaan tersebut, Nabi Muhammad SAW dapat berkembang dan tumbuh dengan pamannya.

Nabi Muhammad SAW Mendapatkan Wahyu Pertama

Sebelum menjadi seorang Rasul, Nabi Muhammad telah mendapatkan beberapa karunia istimewa dari Allah seperti wajahnya yang bersih dan bersinar yang mengalahkan sinar bulan, tumbuh suburnya daerah tempat Halimah (ibu yang menyusui Nabi) padahal tadinya gersang dan kering, dan lain sebagainya. Itulah tanda-tanda kebesaran Allah yang menandakan akan datangnya nabi yang terakhir yang memiliki kedudukan yang tertinggi nantinya.

Pada saat Rasul ingin mendapatkan wahyu pertamanya, Rasul mendapatkan sebuah mimpi Malaikat Jibril menghampirinya. Rasul pun menyendiri di Gua Hira tepatnya di sebelah atas Jabal Nur. Disitulah Rasul diperlihatkan bahwa mimpinya adalah benar.

Malaikat Jibril pun datang kepada Rasul dan turunlah wahyu yang pertama yang ia bawakan dari Allah SWT,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ◌ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ◌ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ◌ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ◌

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq, 1-4)

Walaupun Nabi merasa ketakutan, disitulah kisal rasul dimulai. Disitulah tempat datangnya Nabi yang terakhir yang akan membawa kedamaian untuk seluruh umat.

Berdakwah secara Rahasia

Setelah mendapatkan wahyu yang pertama, Nabi kemudian melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi. Adapun orang-orang yang menjadi pengikut pertamanya adalah Khadijah, Abu Bakar Al-Shiddiq dan Zaid bin Haritsah, Ummu Aiman, Ali bin Abu Thalib, dan Bilal bin Rabah.

Allah Memerintahkan Dakwah secara Terang-terangan

Setelah beberapa tahun melakukan dakwah secara diam-diam, turunlah perintah Allah SWT dalam surat al-hijr ayat 94 dan memerintahkan Nabi untuk berdakwah secara terang-terangan.

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَأَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِينَ

Artinya: “Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik.”

Perintah Berzakat di Zaman Rasulullah

Pada zaman Rasulullah SAW di tahun pertama di Madinah itu, Nabi dan para sahabatnya beserta segenap kaum muhajirin (orang-orang Islam Quraisy yang hijrah dari Mekah ke Madinah) masih dihadapkan kepada bagaimana menjalankan usaha penghidupan di tempat baru tersebut.  Hal ini dikarenakan, selain memang tidak semua di antara mereka orang yang berkecukupan, kecuali Usman bin Affan, semua harta benda dan kekayaan yang mereka miliki juga ditinggal di Mekah.

Saat kondisi kaum Muslimin sudah mulai sejahtera, tepatnya pada tahun kedua Hijriyah, barulah kewajiban zakat diberlakukan. Nabi Muhammad SAW langsung mengutus Mu’adz bin Jabal menjadi Qadli di Yaman. Rasul pun memberikan nasihat kepadanya supaya menyampaikan kepada ahli kitab beberapa hal, termasuk menyampaikan kewajiban zakat dengan ucapan,

“Sampaikan bahwa Allah telah mewajibkan zakat kepada harta benda mereka, yang dipungut dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka,” sebagai kepala negara saat itu, ucapan Rasul langsung ditaati oleh seluruh umat muslim tanpa ada perlawanan.

Harta benda yang dizakati di zaman Rasulullah SAW yakni, binatang ternak seperti kambing, sapi, unta, kemudian barang berharga seperti emas dan perak, selanjutnya tumbuh-tumbuhan seperti syair (jelai), gandum, anggur kering (kismis), serta kurma. Namun kemudian, berkembang jenisnya sejalan dengan sifat perkembangan pada harta atau sifat penerimaan untuk diperkembangkan pada harta itu sendiri, yang dinamakan “illat”. Berdasarkan “Illat” itulah ditetapkan hukum zakat.

Prinsip zakat yang diajarkan Rasulullah SAW adalah mengajarkan berbagi dan kepedulian, oleh sebab itu zakat harus mampu menumbuhkan rasa empati serta saling mendukung terhadap sesama muslim. Dengan kata lain, zakat harus mampu mengubah kehidupan masyarakat, khususnya umat muslim.

Peristiwa Isra Mi’raj

Pada tahun kesebelas era Nabi Muhammad SAW terjadi peristiwa yang menyedihkan. Tahun ini sering disebut dengan tahun kesedihan karena pamannya Abu Thalib dan istrinya Khadijah wafat pada tahun tersebut.

Setelah peristiwa tersebut, Allah kemudian mengutus Malaikat Jibril untuk mendampingi Rasul dalam melakukan perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang disebut dengan Isra yang dimana setelah itu Rasulullah melakukan perjalanan kembali dari Masjidil Aqsa ke langit ke tujuh yang disebut sebagai Mi’raj. Disitulah, Rasulullah mendapatkan perintah salah 5 waktu yang wajib seluruh umat Islam.

Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Pada saat sahabat Abu Bakar sedang tidak di Madinah, terjadi sebuah peristiwa yang sangat menyedihkan dimana Nabi Muhammad SAW wafat. Pada saat Abu Bakar diberitahu, beliau segera datang ke rumah Aisyah. Beliau mengucapkan pidato, “Ketahulah, barangsiapa yang menyembah Muhammad, maka sesungguhnya Muhammad kin telah mati, dan barangsiapa menyembag Allah, maka sesungguhnya Allah tetap senantiapa hidup tidak aka perna mati.”

Kemudian beliau membacakan firman Allah SWT,

إِنَّكَ مَيِّتٌ وَإِنَّهُمْ مَيِّتُونَ

Artinya: “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula).(QS. Az-Zumar: 30)

Itulah ringkasan kisah rasul yang seharusnya kita ketahui, terutama kita sebagai umat muslim. Semoga dengan mengetahui Rasulullah SAW ini kita dapat belajar lagi dan menjadikannya sebagai pedoman hidup kita.

Keutamaan Umar bin al-Khattab

Setelah membahas tentang keutamaan Abu Bakar ash-Shiddiq, kiranya perlu juga kita membahas tentang kemuliaan Umar bin Khattab. Ia adalah seorang khalifah yang sangat terkenal, perjalanan hidupnya adalah teladan yang diikuti, dan kepemimpinannya adalah sesuatu yang diimpikan. Banyak orang saat ini memimpikan, kiranya Umar hidup di zaman ini dan memimpin umat yang tengah kehilangan jati diri.

Ada beberapa gelintir orang yang tidak menyukai khalifah yang mulia ini, mereka mengatakan al-Faruq telah mencuri haknya Ali. Menurut mereka, Ali bin Abi Thalib lebih layak dan lebih pantas dibanding Umar untuk menjadi khalifah pengganti Nabi. Berangkat dari klaim tersebut, mulailah mereka melucuti kemuliaan dan keutamaan Umar. Mereka buat berita-berita palsu demi rusaknya citra amirul mukminin Umar bin Khattab. Mereka puja orang yang memusuhinya dan pembunuhnya pun digelari pahlawan bangsa.

Berikut ini kami cuplikkan kabar-kabar ilahi yang bercerita tentang keutamaan, kemuliaan, dan kedudukan Umar bin Khattab, karena seperti itulah ia layak untuk diceritakan.

Nasab dan Ciri Fisiknya

Ia adalah Umar bin al-Khattab bin Nufail bin Adi bin Abdul Uzza bin Riyah bin Abdullah bin Qurth bin Razah bin Adi bin Ka’ab bin Luai, Abu Hafsh al-Adawi. Ia dijuluki al-Faruq.

Ibunya bernama Hantamah binti Hisyam bin al-Mughirah. Ibunya adalah saudari tua dari Abu Jahal bin Hisyam.

Ia adalah seseorang yang berperawakan tinggi, kepala bagian depannya plontos, selalu bekerja dengan kedua tangannya, matanya hitam, dan kulitnya kuning. Ada pula yang mengatakan kulitnya putih hingga kemerah-merahan. Giginya putih bersih dan mengkilat. Selalu mewarnai janggutnya dan merapikan rambutnya dengan inai (daun pacar) (Thabaqat Ibnu Saad, 3: 324).

Amirul mukminin Umar bin Khattab adalah seorang yang sangat rendah hati dan sederhana, namun ketegasannya dalam permasalahan agama adalah ciri khas yang kental melekat padanya. Ia suka menambal bajunya dengan kulit, dan terkadang membawa ember di pundaknya, akan tetapi sama sekali tak menghilangkan ketinggian wibawanya. Kendaraannya adalah keledai tak berpelana, hingga membuat heran pastur Jerusalem saat berjumpa dengannya. Umar jarang tertawa dan bercanda, di cincinnya terdapat tulisan “Cukuplah kematian menjadi peringatan bagimu hai Umar.”

Keistimewaan dan Keutamaannya

– Umar adalah Penduduk Surga Yang Berjalan di Muka Bumi

Diriwayatkan dari Said bin al-Musayyib bahwa Abu Hurairah berkata, ketika kami berada di sisi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda,

“Sewaktu tidur aku bermimpi seolah-olah aku sedang berada di surga. Kemudian aku melihat seorang wanita sedang berwudhu di sebuah istana (surga), maka aku pun bertanya, ‘Milik siapakah istana ini?’ Wanita-wanita yang ada di sana menjawab, ‘Milik Umar.’ Lalu aku teringat dengan kecemburuan Umar, aku pun menjauh (tidak memasuki) istana itu.” Umar radhiallahu ‘anhu menangis dan berkata, “Mana mungkin aku akan cemburu kepadamu wahai Rasulullah.”

Subhanallah! Kala Umar masih hidup di dunia bersama Rasulullah dan para sahabatnya, namun istana untuknya telah disiapkan di tanah surga.

– Mulianya Islam dengan Perantara Umar

Dalam sebuah hadisnya Rasulullah pernah mengabarkan betapa luasnya pengaruh Islam di masa Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu. Beliau bersabda,

“Aku bermimpi sedang mengulurkan timba ke dalam sebuah sumur yang ditarik dengan penggerek. Datanglah Abu Bakar mengambil air dari sumur tersebut satu atau dua timba dan dia terlihat begitu lemah menarik timba tersebut, -semoga Allah Ta’alamengampuninya-. Setelah itu datanglah Umar bin al-Khattab mengambil air sebanyak-banyaknya. Aku tidak pernah melihat seorang pemimpin abqari (pemimpin yang begitu kuat) yang begitu gesit, sehingga setiap orang bisa minum sepuasnya dan juga memberikan minuman tersebut untuk onta-onta mereka.”

Abdullah bin Mas’ud mengatakan, “Kami menjadi kuat setelah Umar memeluk Islam.”

– Kesaksian Ali bin Abi Thalib Tentang Umar bin al-Khattab

Diriwayatkan dari Ibnu Mulaikah, dia pernah mendengar Abdullah bin Abbas berkata, “Umar radhiallahu ‘anhu ditidurkan di atas kasurnya (menjelang wafatnya), dan orang-orang yang berkumpul di sekitarnya mendoakan sebelum dipindahkan –ketika itu aku hadir di tengah orang-orang tersebut-. Aku terkejut tatkala seseorang memegang kedua pundakku dan ternyata ia adalah Ali bin Abi Thalib. Kemudian Ali berkata (memuji dan mendoakan Umar seperti orang-orang lainnya), “Engkau tidak pernah meninggalkan seseorang yang dapat menyamai dirimu dan apa yang telah engkau lakukan. Aku berharap bisa menjadi sepertimu tatkala menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala. Demi Allah, aku sangat yakin bahwa Allah akan mengumpulkanmu bersama dua orang sahabatmu (Rasulullah dan Abu Bakar).

Aku sering mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Aku berangkat bersama Abu Bakar dan Umar, aku masuk bersama Abu Bakar dan Umar, dan aku keluar bersama Abu Bakar dan Umar.”

– Umar adalah Seorang yang Mendapat Ilham

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian terdapat sejumlah manusia yang mendapat ilham. Apabila salah seorang umatku mendapakannya, maka Umarlah orangnya.”

Zakaria bin Abi Zaidah menambahkan dari Sa’ad dari Abi Salamah dari Abu Hurairah, dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil ada yang diberikan ilham walaupun mereka bukan nabi. Jika salah seorang dari umatku mendapatkannya, maka Umarlah orangnya.”

– Wibawa Umar

Dari Aisyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya setan lari ketakutan jika bertemu Umar.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Umatku yang paling penyayang adalah Abu Bakar dan yang paling tegas dalam menegakkan agama Allah adalah Umar.” (HR. Tirmidzi dalam al-Manaqib, hadits no. 3791)

Demikianlah di antara keutamaan Umar bin al-Khattab yang secara langsung diucapkan dan dilegitimasi oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah meridhai Umar bin al-Khattab.

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Tahun baru Hijriyah tahun ini bisa disebut istimewa karena angkanya, yaitu 1440. Tahun baru Hijriyah akan jatuh pada hari Selasa Wage, 11 September 2018. Perhitungannya: ijtimak atau konjungsi Matahari dan Bulan terjadi pada Senin (10/9) pukul 01:44:16 dini hari.

Diperkirakan tinggi hilal (bulan muda) pada saat Matahari terbenam Senin itu sudah mencapai 8 derajat, 7 menit, 52 detik. Artinya, usia bulan telah mencapai 16 jam, 15 menit, 44 detik.

Karena ketinggian hilal mencapai 8 derajat lebih maka dipastikan keesokan harinya, atau Selasa 11 September, menjadi bulan baru Hijriyah. Kebetulan bulan baru itu adalah Muharram sehingga masuk tahun baru Hijriyah.

Penetapan bulan Hijriyah mengikuti perjalanan bulan atau Qamariyah yang kadang bisa berjalan 30 hari dan 29 hari.

Assyahru hakadza wa hakadza,” sabda Rasulullah sambil memeragakan jarinya. Artinya, bulan Hijriyah itu bisa 29 hari atau 30 hari, tergantung perjalanan Bulan. Pada kasus Muharram tahun ini ini, bulan Zulhijjah berlangsung 29 hari.

Perbedaan kalender Masehi dan Hijri bisa mencapai 11 hari lebih. Jumlah hari Hijriyah adalah 354 hari lebih sedangkan tahun Masehi 365 hari. Jika kalender Matahari dimulai tengah malam, pukul 00.00, sementara kalender Hijri dimulai sejak waktu ghurub (terbenam Matahari atau maghrib). Maka ketika terbenam Matahari berarti masuk tanggal baru.

Penetapan tahun Hijriyah dilakukan Khalifah Umar bin Khattab tahun 17 Hijriyah atau tahun 639. Ketika itu Abu Musa Al-Asy’ari menerima surat dari Khalifah Umar yang tertera bulan Syakban.

Tapi, Syakban kapan? Syakban tahun ini atau tahun sebelumnya. Maka, kemudian ia mengusulkan kepada Khalifah Umar untuk menetapkan tahun kalender Islam.

Khalifah Umar kemudian mengumpulkan sejumlah sahabat besar antara lain Sayidina Utsman dan Sayidina Ali. Maka muncul masukan antara lain dihitung sejak kelahiran nabi, atau sejak wahyu turun, wafat Rasulullah dan hijrah Rasulullah.

Akhirnya ditetapkan hijrah Rasulullah sebagai lambang tegaknya syariat Islam. Hal itu terjadi pada 16 Rabiul Awal tahun 16 Hijriyah, setelah 30 bulan pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Tahun baru pertama Islam terjadi pada 1 Muharram 17 Hijriyah.

Peristiwa hijrah Rasulullah

Dalam catatan sejarawan Ibnu Ishaq yang dikutip Syaikh Mubarakfuri dalam Arrahiq Al-Mahtum, Rasulullah bersama Abu Bakar melakukan Hijrah pada Kamis malam (malam Jumat) tanggal 27 Safar tahun 14 Kenabian (Bi’tsah).

Dari Mekkah langsung bersembunyi di Goa Tsaur menghindari kejaran kaum Quraish. Selama tiga hari dalam gua hingga hari Senin, 1 Rabiul Awal atau 16 September 622, baru melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Tiba di kota Quba (pinggiran Madinah) disambut ribuan warga pada 8 Rabiul Awal tahun 14 Kenabian atau 23 September 622. Rasulullah mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Quba.

Masjid ini memiliki kelebihan. Dalam hadis disebutkan, barangsiapa salat dua rakaat di masjid ini pahalanya sama dengan umrah. Rasululah memiliki jadwal waktu khusus di Quba.

Memasuki kota Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan tangal 23 atau 24 September 622. Jika dihitung berdasarkan waktu kerasulan adalah tahun ke 14.

Tahun baru Hijriyah yang jatuh pada bulan September tahun ini mengingatkan kembali peristiwa hijrah Rasululah yang juga bertepatan dengan bulan September tahun 622 atau 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriyah.

Selama ini banyak orang salah mengira bahwa hijrah Rasulullah terjadi pada bulan Muharram. Padahal, hijrah Rasululah memiliki waktu sendiri yaitu Rabiul Awal, sementara bulan Muharram adalah nama bulan pertama tahun Hijriyah.

Bulan Hijriah dimulai bulan Muharram. Orang Jawa menyebutnya dengan Sura karena dalam bulan ini ada hari Asyura atau 10 Muharram. Kemudian Safar (Sapar), Rabiul Awal (Mulud dalam istilah Jawa karena bersamaan dengan kelahiran atau mulud Nabi Muhamad), Rabiul Akhir (bakda Mulud), Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban (Ruwah), dan Ramadhan (Poso).

Adalah Sultan Agung yang menetapkan bulan Hijrah sebagai bulan Jawa. Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (1593-1645) adalah sultan ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara.

Ia pula yang memasukkan unsur pasaran hari (Legi, Kliwon, Wage, Pon dan Pahing) dalam kalendernya. Tahun baru Jawa (Caka) memasuki tahun 1952.

Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad

Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berpartisipasi di medan jihad

ANAS bin Malik RA masuk Islam saat usiannya belum genap 10 tahun. Dia terus bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wassallam dan mengabdi kepada beliau menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala. Saat itu usia Anas bin Malik RA 21 tahun.

Bernama lengkap Abu Hamzah atau Abu Tsumamah Anas bin Malik bin Nadlar Al-Khazraji Al-Anshari, berasal dari Bani Najjar. Ibunya ialah Ummu Salma Sahlah binti Malik bin Khalid, istri Malik bin Nadlar. Malik pergi ke Negeri Syam dan meninggal dunia disana. Setelah itu Ummu Salama dipinang oleh Abu Thalhah Zaid bin Sahal. Dia mau menikah dengan Abu Thalhah dengan syarat  ia mau masuk Islam.

Ummu Salma menjadikan keislaman Abu Thalhah sebagai mas kawinnya. Pernikahan itu terjadi antara Bai’at Aqabah pertama dan kedua. Dan Abu Thalhah turut serta dalam Bai’at Aqabah kedua.

Saudara kandungnya, Al-Bara’ bin Malik adalah salah satu pahlawan Islam yang gagah berani dan gugur dalam Perang Tustur. Anas bin Malik RA lahir pada tahun ke-3 kenabian atau 10 tahun sebelum hijrah. Dia masuk Islam melalui ibunya menjelang Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam hijrah ke Madinah. Jadi, Anas bin Malik RA termasuk Sahabat Nabi yang sangat belia. Kemudian Anas bin Malik RA dikaruniai anak-anak dan keturunan yang banyak. Hal itu dia peroleh berkat do’a Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam untuknya.

“Yaa Allah, berikanlah dia harta dan anak yang banyak dan berikanlah keberkahan kepadanya.”  Maka Anas bin Malik RA pun dikaruniai harta yang banyak dan melimpah.

Dia juga dikaruniai anak-anak dan cucu-cucu yang banyak. Jumlahnya hampir 100 orang. Anak-anaknya anatara lain bernama Abu Bakar, Ubaidillah, Nadlar dan Musa.

Sahabat Terakhir Rasulullah Muhammad

Berguru kepada rasulullah

Setelah masuk Islam Anas bin Malik RA terus menantikan hijrah Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ke Madinah. Maka tatkala beliau tiba di Madinah kedua orang tuanya langsung membawa Anas bin Malik ke hadapan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar diterima sebagai pelayan beliau. Ternyata gayung tersabut.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam menerima kehadiran Anas bin Malik RA sebagai pelayannya. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengasuh Anas bin Malik RA secara langsung dan memperlakukannya dengan baik. Beliau bahkan sering memanggilnya:  “Nak !” sebagaimana diriwayatkan oleh At- Tirmidzi dari Anas bin Malik RA bahwasannya Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah bersabda kepadannya: “Nak! Kalau kamu biasa memasuki waktu pagi dan sore dengan hati yang bersih dari rasa curang kepada seseorang, lakukanlah.” Kemudian beliau bersabda “Nak! Itu adalah bagian dari Sunnahku. Barangsiapa yang menghidupkan Sunnahku berarti dia mencintaiku. Dan barangsiapa yang mencintaiku dia pasti akan bersamaku di Surga.”

Dan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam memperlakukan Anas bin Malik RA dengan perlakuan yang sangat lembut. Bahkan Anas bin Malik RA pernah mengatakan: “Aku melayani Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam selama 10 tahun. Demi Allah , beliau sama sekali tidak pernah mengatakan: ‘Ah! Kepadaku. Beliau juga tidak pernah bertanya kepadaku: “Mengapa kamu berbuat begitu? Atau mengapa kamu berbuat begitu? ”

Anas bin Malik RA mendpatkan anugerah yang sangat besar dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Yaitu bahwa beliau berjanji akan memberikan syafa’at kepadannya. Anas bin Malik Shalallahu ‘Alaihi Wassallam mengatakan: “Aku pernah meminta kepada Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam agar beliau berkenan memberiku syafa’at pada Hari Kiamat kelak. Lalu beliau bersabda: “Ya aku akan melakukannya”. Kemudian aku bertanya: ‘Ya Rasulullah, di mana aku harus mencarimu? Beliau menjawab: ‘Pertama-tama carilah aku di atas shirath(jembatan )’. ‘Jikalau aku tidak menemukanmu di atas shirath?’. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di mizan (timbangan amal)’. Jikalau aku tidak menemukanmu  di mizan? Tanyaku lagi. Beliau menjawab: ‘Carilah aku di haudl (telaga). Karena aku tidak luput dari tiga tempat itu.”

Baca: Kunci Sukses dan Bahagia Para Sahabat Nabi

Meriwayatkan  hadits

Kedekatan  Anas bin Malik RA dengan Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam semenjak beliau hijrah ke Madinah sampai menghadap ke hadirat Allah Subhanahu Wata’ala memberinya kesempatan yang luas untuk meriwayatkan hadits sebanyak-banyaknya dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Jumlah Hadits yang diriwayatkan oleh para perawi dari Anas bin Malik RA mencapai 2286 buah Hadits. Dan tidak ada sahabat lain yang jumlah periwayatkan Haditsnya melebihi Anas bin Malik RA selain Abu Hurairah RA dan Abdullah bin Umar RA.

Anas bin Malik RA menjaga amanah ini dengan baik dan menyampaikannya seperti apa yang didengarnya. Dan sepeninggal Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, Anas bin Malik RA pun menjadi guru besar bagi imam-imam besar, seperti Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, Said bin Jubair, Qatadah, Az-Zuhri dan Umar bin Abdul Aziz. Namun apa yang diriwayatkan oleh para perawi itu tidak semuanya di dengar langsung oleh Anas bin Malik RA dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam.

Dengan kata lain sebagian besar berasal dari mulut Nabi SAW ke telinga Anas bin Malik RA , dan sisanya dia dengar dari Abu Bakar , Umar bin Khattab, Ubadah bin Shamit, Muadz bin Jabal, Abdullah bin Mas’ud atau Abu Hurairah RA yang mendengar langsung dari Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Al-Hakim menceritakan bahwa Anas bin Malik RA pernah menyampaikan Hadits dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Kemudian ada yang bertanya: “Engkau mendengarnya (langsung) dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam? ” Anas bin Malik RA menjawab : Demi Allah , tidak semua hadits yang kami sampaikan kepada kalian itu kami dengar langsung dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam satu sama lain, dan kami tidak saling curiga-mencurigai. Kendati jumlah hadits yang dihafalnya tidaklah sedikit, dia sangat berhati-hati dan tidak boros dalam menyampaikan riwayat untuk menghindari kesalahan. Dengan kata lain dia tidak menceritakan sesuatu yang dia yakini kebenarannya dan hafalannya. Anas bin Malik RA pernah berkata: “ Sekiranya aku pernah kudengar dari Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Akan tetapi beliau pernah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaklah ia menempati tempat duduknya di Neraka”.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam pernah melarang para sahabat mencatat Hadits beliau agar tidak tercampur dengan Al-Qur’an . Tetapi setelah penulisan Al-Qur’an sempurna dan wahyu telah berhenti sepeninggal Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, maka tidak ada lagi alas an untuk melarang penulisan Hadits. Dan Anas bin Malik RA adalah salah satu orang yang mencatat hadits Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam. Dia pernah berkata : “Ikatlah ilmu dengan tulisan ”.

Baca: Sahabat Nabi 

Sekelumit kisah Anas

Keistimewaan terpenting yang dimiliki oleh sahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam ini ialah ketekunannya dalam menyampaikan hadits-hadits Nabi kepada umat. Itulah kesibukan utamanya sampai akhir hayatnya. Abu Bakar RA pernah menugaskan Anas bin Malik memungut Zakat di Bahrain atas usulan Umar bin Khathab . Karena Umar bin Khathab RA pernah berkata: “Kirimilah dia (Anas bin Malik) karena dia benar-benar pandai menulis.” Dan tatkala Abu Musa Al-Asy’ari menjabat sebagai Gubernur Bashrah, Anas bin Malik dijadikan sebagai orang dekatnya. Abu Musa bahkan menyuruh Anas bin Malik untuk mewakilinya menghadap kepada Umar bin Khathab RA . Dan dia juga menugaskan Anas bin Malik RA memimpin kawasan Persia. Kemudian tatkala Abdullah bin Zubair dibai’at menjadi Khalifah, Anas bin Malik RA ditunjuknya menjadi Gubernur Bashrah selama beberapa waktu.

Kesibukan Anas bin Malik dalam menekuni Hadits Nabi tidak menjadi penghalang baginya untuk berpantisipasi di medan jihad. Anas bin Malik terlibat dalam Perang Badar dan Perang Uhud.

Ketika itu Anas bin Malik bertugas melayani keperluan Nabi Shalallau ‘Alaihi Wassallam . Anas bin Malik terlibat dalam Perang Khandaq sebagai seorang pejuang yang mampu mematahkan leher orang-orang musyrik dan menjatuhkan mereka.

Setelah Nabi wafat Anas bin Malik ikut serta dalam perang dalam perang melawan orang-orang murtad dan mendapatkan kemenangan yang gemilang . Anas bin Malik juga terjun ke medan Perang Qadisiyah . Kebetulan Anas bin Malik mahir mahir memanah. Setelah Perang Tustur yang berakhir dengan kemenangan gemilang . Abu Musa Al-Asy’ari, panglima perang tersebut menugaskan Anas bin Malik membawa para tawanan dan rampasan perang kepada Amirul Mukminin, Umar bin Khathab.

Anas bin Malik datang kepada Umar bin Khathab dengan membawa pimpinan Tustur, Hurmuzan.

Di masa akhir hidupnya,  Anas bin Malik  tinggal di salah satu sudut kota Bashsrah hingga usianya lebih dari 100 tahun. Di sana Anas bin Malik jatuh sakit dan terus berkata kepada orang-orang yang ada disekitarnya: “Tuntunlah aku membaca Laa ilaha illallah.” Anas bin Malik tidak berhenti membaca kalimat tauhid itu sampai menghembuskan nafas terakhirnya. Peristiwa itu terjadi pada tahun 93 Hijriyah. Ada yang menyatakan bahwa Anas bin Malik adalah Sahabat Nabi yang paling akhir meninggal dunia. Namun ada pendapat lain yang menyatakan bahwa setelah Anas bin Malik masih ada satu orang sahabat Nabi yang hidup, yaitu Abu Thufail Amir bin Watsilah Al-Laitasi yang wafat pada tahun 100 Hijriyah.*

Utsman bin Affan, Sahabat Nabi yang Disegani Malaikat

Utsman bin Affan, Sahabat Nabi yang Disegani Malaikat

Utsman bin Affan radhiallahu anhu (RA) adalah sahabat Nabi yang menjadi Khalifah ketiga setelah Abu Bakar dan Umar Bin Khattab RA. Pada masa Islam beliau dijuluki Abu ‘Abdillah. Beliau juga digelari ‘Dzun Nuraini’ (pemilik dua cahaya) karena menikah dengan dua puteri Rasulullah SAW yaitu Ruqayah dan Ummu Kaltsum. 

Kemuliaan lain yang dimiliki Utsman bin Affan adalah kedermawanannya dalam bersedekah. Utsman juga merupakan sosok sahabat yang pertama merangkum mushaf-mushaf yang tersebar menjadi sebuah kitab yang sekarang kita baca yaitu Alquran. 

Dalam satu hadis riwayat Imam Muslim dikisahkan, dari ‘Aisyah RA, beliau berkata, pada suatu hari Rasulullah SAW sedang duduk dimana paha beliau terbuka, maka Abu Bakar meminta izin kepada beliau untuk menutupinya dan beliau mengizinkannya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). Kemudian Umar bin Khattab minta izin untuk menutupinya dan beliau mengizinkannnya, lalu paha beliau tetap dalam keadaan semula (terbuka). 

Ketika Utsman meminta izin kepada beliau, maka beliau melepaskan pakaiannya (untuk menutupi paha terbuka). Ketika mereka telah pergi, maka Aisyah bertanya, ”Wahai Rasulullah, Abu Bakar dan Umar telah meminta izin kepadamu untuk menutupinya dan engkau mengizinkan keduanya. Tetapi engkau tetap berada dalam keadaan semula (membiarkan pahamu terbuka). Sedangkan ketika Utsman meminta izin kepadamu, maka engkau melepaskan pakainanmu (dipakai untuk menutupinya). 

Maka Rasulullah SAW menjawab, ”Wahai Aisyah, bagaimana aku tidak merasa malu dari seseorang yang Malaikat saja merasa malu kepadanya”.Ibnu ‘Asakir menjelaskan dalam kitab “Fadhail ash Shahabah”, bahwa Ali bin Abi Thalib pernah ditanya tentang Utsman, maka beliau menjawab, ”Utsman itu seorang yang memiliki kedudukan terhormat yang dipanggil dengan Dzun Nuraini, dimana Rasulullah menikahkannya dengan kedua putrinya.”

Selain itu, diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hanbal bahwa ketika Al-Hasan ditanya tentang orang yang beristirahat pada waktu tengah hari di masjid? maka ia menjawab, ”Aku melihat Utsman bin Affan beristirahat di masjid, padahal beliau sebagai Khalifah, dan ketika ia berdiri nampak sekali bekas kerikil pada bagian rusuknya, sehingga kami berkata, Ini amirul mukminin, Ini amirul mukminin,”

Ibnu Abi Hatim telah meriwayatkan dari Abdullah bin Umar, seraya ia berkata dengan firman Allah”. “Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung ataukah orang yang beribadah di waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran.” (QS.Az-Zumar:9). Yang dimaksud itu adalah Utsman bin Affan.

Utsman bin Affan wafat pada tahun 35 Hijriyah pada pertengahan tasyriq tanggal 12 Dzulhijjah, dalam usia 80 tahun lebih. Khalifah Utsman bin Affan dibunuh oleh kaum pemberontak (Khawarij) di dalam rumahnya. Ketika Utsman terbunuh, isteri beliau berkata, ”Mereka telah tega membunuhnya, padahal mereka telah menghidupkan seluruh malam dengan Alquran”.Utsman bin Affan termasuk di antara sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga lewat lisan Nabi. Meskipun telah wafat, kedermawanannya selalu dikenang oleh umat Islam. Mulai dari membeli sumur Yahudi, menyumbang 300 ekor unta pada perang Tabuk dan masih banyak lainnya. Utsman dikenal sebagai sahabat Nabi yang banyak menginfakkan hartanya di jalan Allah.

Dirikanlah Sholatmu!

Dirikanlah Sholatmu!

Dirikanlah Sholatmu!

Sholat, sebuah amalan wajib yang mesti dilakukan oleh seorang muslim. Setidaknya, sehari lima waktu. Mungkin, tak lama kita meluangkan waktu untuk rukuk dan sujud merendahkan diri di hadapan Pencipta kita. Sebagaimana telah kita semua ketahui, tujuan penciptaan jin dan manusia adalah hanya untuk beribadah kepada-Nya. Nah, salah satu ibadah yang harus selalu kita kerjakan adalah sholat lima waktu ini.

Allah mewajibkan sholat dalam banyak ayat-Nya. Salah satunya adalah firman Allah Ta’ala, “Tegakkanlah sholat, sesungguhnya sholat adalah kewajiban yang ditentukan waktunya bagi orang yang beriman.” (Surat An Nisa’, ayat 103)

Dan dalam firman-Nya yang lain, “Jagalah sholat-sholat kalian, dan sholat wushtho ….” (Surat Al Baqarah: 238)

Tak hanya itu, selain Allah perintahkan sholat dalam kitab-Nya, Rasulullah SAW juga menjelaskan tentang sholat dalam banyak haditsnya. Beliau bersabda, “Islam dibangun atas lima perkara; Kesaksian bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, serta Muhammad adalah utusannya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, haji ke baitullah, dan puasa Ramadhan.” (Hadits Riwayat Bukhari)

Itulah lima rukun islam yang sedari kecil sudah diajarkan oleh orang tua muslim kepada anak-anaknya. Agar ketika besar tertanam dalam jiwa anak-anaknya bahwa lima hal itu adalah sesuatu yang penting bagai mereka, dan juga mereka akan mengerjakannya dengan sepenuh hati.

Apakah keutamaan yang akan kita dapatkan ketika mengerjakan sholat?

Selain menjalankan perintah Allah yang memang sudah menjadi kewajiban, ternyata sholat juga menyimpan banyak hikmah. Di antaranya, sholat itu bisa membersihkan jiwa dan mensucikannya. Selain itu, sholat juga bisa mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Allah berfirman tentang hal ini, “Dirikanlah sholat, sesungguhnya sholat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (Surat Al Ankabut: 45)

Dalam sebuah hadits, disebutkan tentang keutamaan sholat lima waktu yang bisa mensucikan diri. Rasulullah SAW bersabda, “Tahukah kalian, seandainya ada sebuah sungai di dekat pintu salah seorang di antara kalian, lalu ia mandi dari air sungai itu setiap hari lima kali, apakah akan tersisa kotorannya walau sedikit?” Para sahabat menjawab, “Tidak akan tersisa sedikit pun kotorannya.” Beliau berkata, “Maka begitulah perumpamaan shalat lima waktu, dengannya Allah menghapuskan dosa.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 528 dan Muslim no. 667)

Bagaimanakah sholat yang bisa mensucikan diri itu?

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah menerangkan, “Shalat yang bisa membersihkan kotoran dosa adalah shalat yang sempurna. Di dalam shalat tersebut dikerjakan secara sempurna, hati hadir dalam shalat dan seseorang yang shalat benar-benar bermunajat pada Allah. Jika demikian, setelah shalat, ia dapat apa yang ingin diraih yaitu pahala yang besar dan Allah menghapuskan kesalahannya.” (Syarah Riyadhis Sholihin: 5/49).

Marilah kita memperbaiki kualitas sholat kita. Supaya benar-benar bisa membersihkan diri kita dari kotoran-kotoran dosa yang senantiasa bertambah seiring bergulirnya waktu. Marilah kita mengerjakan sholat tepat pada waktunya. Itu adalah salah satu dari amalan yang paling utama.

Rasulullah pernah ditanya, ‘Apakah amalan yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, “Sholat pada waktunya.” (Hadits Riwayat Muslim)

Keutamaan Sedekah Jariyah, Amalan dengan Pahala Tak Terputus

Keutamaan Sedekah Jariyah, Amalan dengan Pahala Tak Terputus

Apakah sedekah itu sama dengan zakat? Mungkin masih sangat banyak orang yang mengartikan bahwa sedekah itu sama dengan zakat? Padahal keduanya itu sebenarnya sangat berbeda arti dan maknanya. Tapi, kok beda? Kan sama-sama memberikan rizki kepada orang lain yang membutuhkan?

Memang benar sama-sama memberi, tapi keduanya memiliki arti dan maknanya sangat berbeda.

Sedekah sendiri mempunyai arti pemberian seorang muslim kepada orang lain secara suka rela dan iklas tanpa dibatasi oleh waktu dan jumlah tertentu.

Sedangkan zakat adalah harta tertentu yang dikeluarkan oleh seorang muslim dan diberikan kepada orang yang berhak menerima zakat. Selain itu, zakat juga telah ditentukan waktu untuk pelaksanaannya, baik zakat fitrah maupun zakat mal.

Setelah penjelasan mengenai perbedaan keduanya dari faktor waktu pelaksanaannya, kali ini kita semua akan belajar tentang keutamaan sedekah yang pahalanya tidak akan terhapus walaupun orang yang bersedekahanya telah meninggal dunia.

Sebelum kita berlanjut kepada keutamaan dari sedekah jariyah itu sendiri, kita akan bicara sedekah yang seperti apa saja yang menjadi sedekah jariyah? Berikut ada beberapa contoh sedekah jariyah yang pahalanya tidak akan terputus walaupun seseorang itu sudah berada di dalam kubur.

1. Sedekah untuk pembuatan masjid

Pahalanya tidak akan terputus selama orang-orang masih menggunakan masjid itu untuk beridah kepada Allah, maka Anda yang menyedekahkan hartanya di jalan Allah akan mendapat pahala orang yang beribadah itu.

2. Sedekah untuk operasional pondok pesantren dan yayasan yatim piatu

Sama seperti pahalanya orang yang menyedekahkan hartanya untuk pembangunan masjid, orang yang bersedekah untuk biaya hidup anak yatim pahalanya akan mengalir selama anak yatim itu beribadah kepada Allah.

3. Doa anak shalih

Doa anak yang shaleh juga akan menjadi amal yang terus mengalir sampai kapan pun selama anak shaleh itu terus mendoakan Anda, lalu bagaimana jika kita tidak mempunyai anak? Maka kita bisa mendapat keutamaaan dari doa anak yatim yang kita beri sedekah.

4. Ilmu yang bermanfaat

Sedekah itu bukan hanya berupa uang. Jika kita tidak mempunyai uang, maka dengan ilmu yang kita miliki maka kita dapat menagakarkannya kepada orang lain. Jadi apabila orang lain mengamalkan ilmu yang kita berikan dan mengajarkanya kepada orang lain maka pahalanya dari pengamalan ilmu itu sendiri akan menjadi amal yang tidak akan terputus.

Sebenarnya masih banyak sekali sedekah jariyah di dalam kehidupan ini, dan sebaik-baik sedekah adalah sesuatu yang dilakukan ketika kamu kaya dan ketika kamu miskin.

أَنْ تَصَدَّقَ وَأَنْتَ صَحِيحٌ شَحِيحٌ ، تَخْشَى الْفَقْرَ وَتَأْمُلُ الْغِنَى ، وَلاَ تُمْهِلُ حَتَّى إِذَا بَلَغَتِ الْحُلْقُومَ قُلْتَ : لِفُلاَنٍ كَذَا ، وَلِفُلاَنٍ كَذَا ، وَقَدْ كَانَ لِفُلاَنٍ

“Engkau bersedekah dalam kondisi sehat dan berat mengeluarkannya, dalam kondisi kamu khawatir miskin dan mengharap kaya. Maka janganlah kamu tunda, sehingga ruh sampai di tenggorokan, ketika itu kamu mengatakan, “Untuk fulan sekian, untuk fulan sekian, dan untuk fulan sekian.” Padahal telah menjadi milik si fulan.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu apa sajakah keutamaan dari sedekah itu? Berikut ini beberapa ketamaan dari sedekah.

1. Sedekah itu menghapus dosa

Jika hidup ini diibaratkan dengan sebuah kertas putih, maka dosa-dosa yang kita lakukan setiap hari adalah tinta hitam yang membuat kertas itu kotor dan yang dapat menghapusnya adalah shalat dan amal sedekah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

والصدقة تطفىء الخطيئة كما تطفىء الماء النار

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)

2. Sedekah memberikan keberkahan pada harta dan benda

Setiap harta benda yang kita miliki itu mempunyai hak untuk orang lain dan sedekah lah cara untuk membersihkan hak itu. Jika Anda ingin merasakan keberkahan dan kebahagiaan hidup maka berbanyaklah sedekah.

Dan tidak ada istilah orang yang bersedakah itu jatuh miskin. Karena matematika dari sedekah adalah 10-7 = 70 tau bahkan 700, 7000 dst.

Setiap harta yang kita sedekahkan sebenarnya harta itu tidak menghiang melainkan harta itu bertambah, masih belum percaya silakan saja nanti Anda buktikan.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

ما نقصت صدقة من مال وما زاد الله عبدا بعفو إلا عزا

“Harta tidak akan berkurang dengan sedekah. Dan seorang hamba yang pemaaf pasti akan Allah tambahkan kewibawaan baginya.” (HR. Muslim, no. 2588)

3. Disediakan surga untuk orang-orang yang bersedekah

Allah memberikan keutamaan yang sangat besar kepada hamba-hambanya yang rajin untuk bersedekah, baik dalam keadaan susah maupaun senang. Keutamaan itu berupa jaminan masuk surga melalui pintu yang khusus untuk orang yang giat bersedekah.

من أنفق زوجين في سبيل الله، نودي في الجنة يا عبد الله، هذا خير: فمن كان من أهل الصلاة دُعي من باب الصلاة، ومن كان من أهل الجهاد دُعي من باب الجهاد، ومن كان من أهل الصدقة دُعي من باب الصدقة

“Orang memberikan menyumbangkan dua harta di jalan Allah, maka ia akan dipanggil oleh salah satu dari pintu surga: “Wahai hamba Allah, kemarilah untuk menuju kenikmatan”. Jika ia berasal dari golongan orang-orang yang suka mendirikan salat, ia akan dipanggil dari pintu salat, yang berasal dari kalangan mujahid, maka akan dipanggil dari pintu jihad, jika ia berasal dari golongan yang gemar bersedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.” (HR. Bukhari no.3666, Muslim no. 1027)

Dan masih sangat banyak keutamaan dari sedekah, yang mana keutamaanya tidak akan pernah dapat kita hitung karena hanya Allah yang akan memberikannya langsung kepada hamba-hambanya yang rajin dalam bersedekah.

Jadi jangan pernah ragu untuk bersedakah, karena sedekah tidak akan membuat kita miskin. Anda bisa membuktikan betapa kayanya orang yang mampu bersedakah walaupun dirinya itu kekurangan.

Bagi Anda yang ingin membantu kemajuan umat dan kesejahteraan orang-orang yang membutuhkan uluran tangan kebaikan Anda semua. Kami Lazismu Piyungan bisa membantu menyalurkan sedekah Anda.

Inilah, 7 Mukjizat Sedekah yang Belum Kamu Ketahui

Inilah, 7 Mukjizat Sedekah yang Belum Kamu Ketahui
Mukjizat Sedekah Yusuf Mansur – Sedekah merupakan salah satu cara kita untuk bersyukur kepada Allah SWT. Karena apa yang kita miliki adalah pemberian-Nya. Jangan pernah kita menyombongkan diri dunia ini, sesungguhnya orang yang sombong tidak akan pernah bisa mencium baunya surga.

Perintah sedekah terdapat dalam Al-Qur’an, Allah berfirman :

“Tidak ada kebaikan pada kenbanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali dari bisikan-biskan orang yang menyuruh manusia memberi sedekah. Dan barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari keridhoan Allah, maka kami akan memberinya pahala yang besar” (Q.S An-Nissa: 114)

Kita bersedekah tidak semata-mata memberikan harta yang kita miliki kepada orang yang membutuhkan, akan tetapi sedekah sendiri memiliki manfaat yang sangat luar biasa untuk diri kita sendiri.

Berikut adalah manfaat dari bersedekah :

1. Allah SWT Akan Melipat Gandakan Harta Orang yang Besedekah

Mukjizat Bersedekah Menambah Kekayaan
Mungkin secara logika, jika kita bersedekah harta kita akan berkurang. Tapi justru sebaliknya, harta kita malah akan bertambah. Kok bisa ? Jelas bisa, karena ini adalah janjinya Allah SWT.

Allah SWT tidak akan pernah mengingkari janjinya. Jadi, apakah kamu enggan untuk bersedekah ? Berapapun harta yang kamu miliki, maka sedekahkanlah selagi bisa.

Kebanyakan orang memiliki mindset yang salah, mau bersedekah tapi tunggu kaya. Kalau Allah SWT panggil sebelum kaya gimana ?

Dalam Al-Qur’an Allah berfirman :

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan 70 tangkai, pada setiap tangkainya terdapat 100 biji. Allah melipat gandakan bagi siapa saja yang Dia kehendakinya dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.” (Q.S Al-Baqarah: 261)

2. Sedekah Dapat Menghapuskan Dosa

Mukjiazat Sedekah Menghapus Dosa
Perlu digaris bawahi, sedekah memang dapat menghapus dosa. Tapi bukan berarti boleh meninggalkan perintah Allah SWT yang lainnya. Selain itu harus disertai dengan taubat dan amalan yang baik.

“Sedekah itu dapat menghapus dosa sebagaimana air itu memadamkan api”(HR. At-Tirmidzi)

Setiap manusia pasti memiliki dosa. Oleh karena itu kita harus senantiasa memohon ampun kepada Allah SWT atas dosa yang pernah kita lakukan. Walaupun dosa kita sebanyak buih yang ada dilautan, jika kita bertaubat dengan ikhlas maka Insha Allah akan diampuni oleh Allah SWT.

3. Sedekah Merupakan Amalan Jariyah yang Tidak Akan Putus


Keutamaan dan Manfaat Sedekah

Rasulullah SAW bersabda : “Jika manusia itu mati maka terputus semua amalannya kecuali 3 perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang sholeh yang mendoakannya.” (HR. Tirmidzi)

Dari hadist tersebut dapat kita ambil hikmah, bahwa jika kita bersedekah jariyah pahala yang kita dapat tidak akan putus walaupun kita sudah meninggal. Maka dari itu perbanyaklah bersedekah sebagai investasi akhirat kita nanti.

4. Sedekah Dapat ​Membuka Pintu Rezeki

Rasulullah SAW bersabda : “Tidak ada hari yang disambut oleh para hamba melainkan disana ada dua malaikat turun, salah satunya berkata : “Ya Allah berikanlah ganti kepada orang-orang yang berinfaq. Sedangkan malaikat yang lainnya berkata : “Ya Allah berikanlah kehancuran kepada orang-orang yang menahan hartanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Setiap rezeki yang kita dapat, jangan lupa untuk disedekahkan beberapa persen. Karena itu adalah haknya orang lain. Jika kita tidak memberikan hak itu, maka harta yang kita miliki tidak barokah.

5. Sedekah Dapat Menyembuhkan Penyakit

Salah satu keutamaan sedekah adalah dapat menyembuhkan penyakit. Karena dengan bersedekah kita dapat membersihkan hati dan pikiran. Dan secara psikologis dapat pula membantu penyembuhan penyakit kita.

Kok bisa ? Karena itu adalah rahmat dari Allah SWT. Makanya kita harus tetap bersyukur minimal mengucapkan “Alhamdulillah” setelah melakukan sesuatu.

Rasulullah SAW bersabda : “Bentengilah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan bersedekah dan siapkan doa untuk menghadapi datangnya bencana.” (HR. At-Thabrani)


6. Sedekah Dapat Memperpanjang Umur


Manfaat Bersedekah Memperpanjang Umur
Dengan sedekah hidup kita terasa tentram dan bahagia. Bahagia bisa melihat orang lain senang dengan apa yang kita berikan. Semakin dekat dengan Allah SWT dan Rasulullah SAW.

Rasulullah SAW pernah bersabda : “Sesungguhnya sedekah orang muslim dapat menambah umurnya, dapat menunda kematian yang su’ul khotimah (akhir yang jelek), Allah akan menghilangkan sifat sombong, kefakiran, dan sifat berbangga kepada diri sendiri.” (HR. At-Thabrani)

Umur tidak ada yang tau, jika kamu telah membaca keutamaan sedekah ini maka segeralah untuk bersedekah. Karena sedekah merupakan naungan kita di hari kiamat.

Rasulullah SAW bersabda : “Naungan bagi seorang muslim pada hari akhir adalah sedekahnya.” (HR. Akhmad)

7. Sedekah Dapat Menjauhkan Kita dari Api Neraka


Mukjizat Bersedekah

Allah SWT berfirman : “Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. Yaitu, orang-orang yang berinfaq, baik diwaktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang lain. Dan Allah mencintai orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali Imran : 133-134)

Jadi ayat itu sangatlah jelas, bahwa kita bersedekah tidak harus diwaktu lapang saja. Akan tetapi di waktu sempit pun kita juga harus bersedekah.Sedekah mempunya banyak manfaat, akan tetapi jarang sekali yang mau bersedekah. Apa karena takut miskin ? sedekah tidak membuat kamu miskin malah sebaliknya.

Kebahagiaan yang sesungguhnya tidak dapat diukur dengan uang. Buat apa uang banyak akan tetapi keluarga berantakan, tidak pernah mendirikan sholat, pergaulan anak kacau karena kita terlalu sibuk dengan pekerjaan, hati pun tidak tentram.

Marilah kita bersama-sama saling mengingatkan dan saling berlomba-lomba dalam hal kebaikan. Sampaikanlah walaupun cuman satu ayat.

Atau kamu bisa share artikel ini agar dapat bermanfaat untuk orang lain. Mari menebar bibit kebaikan untuk di panen diakhirat kelak.

Sejarah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Sejarah Qurban Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
Kisah atau sejarah qurban berawal dari persitiwa Nabi Ibrahim yang akan menyembelih putranya Nabi Ismail. Kemudian disyiarkan oleh Nabi terkahir Muhammad SAW yang menganjurkan umat Islam untuk menyembelih qurban di hari raya Haji atau Idul Adha. Beginilah sejarah qurban dimulai dari kisah Nabi Ibrahim sa dan nabi Ismail sa.

Telah dikisahkan bahwa Nabi Ibrahim tidak memiliki anak hingga di masa tuanya, lalu beliau berdoa kepada Allah.

Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” (QS Ash-Shafaat [37] : 100)

Kemudian Allah memberikan kepadanya kabar gembira akan lahirnya seorang anak yang sabar. Dialah Ismail, yang dilahirkan oleh Hajar. Menurut para ahli sejarah, Nabi Ismail lahir ketika Nabi Ibrahim berusia 86 tahun. Wallahu a’lam.

Nabi Ibrahim kemudian membawa Hajar dan Ismail, yang waktu masih bayi dan menyusu pada ibunya, ke Makkah. Pada saat itu di Makkah tidak ada seorang pun dan tidak ada air. Nabi Ibrahim meninggalkan mereka disana beserta geribah yang di dalamnya terdapat kurma serta bejana kulit yang berisi air.

Setelah itu Nabi Ibrahim  berangkat dan diikuti oleh Hajar seraya berkata,
“Wahai Ibrahim, kemana engkau hendak pergi, apakah engkau akan meninggalkan kami sedang di lembah ini tidak terdapat seorang manusia pun dan tidak pula makanan apapun?”

Pertanyaan itu diucapkan berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menoleh sama sekali, hingga akhirnya Hajar berkata kepadanya: “Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan ini?”

“Ya.” Jawab Nabi Ibrahim

“Kalau begitu kami tidak disia-siakan.” Dan setelah itu Hajar pun kembali.
Ibrahim pun berangkat sehingga ketika telah jauh sampai di Tsamiyah, beliau pun menghadapkan wajahnya ke Baitullah dan berdoa:

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.(QS Ibrahim [14] : 37)

Dan Hajar pun menyusui Ismail dan minum dari air yang tersedia. Sehingga ketika air yang ada dalam bejana sudah habis, maka ia dan puteranya pun merasa haus. Lalu Hajar melihat puteranya merengek-rengek. Kemudian ia pergi dan tidak tega melihat anaknya tersebut. Maka ia mendapatkan Shafa merupakan bukit yang terdekat dengannya. Lalu ia berdiri di atas bukit itu dan menghadap lembah sembari melihat-lihat adakah orang di sana, tetapi ia tidak mendapatkan seorang pun disana.

Setelah itu ia turum kembali dari Shafa dengan susah payah sehingga sampai di lembah. Lalu ia mendatangi bukit Marwah lalu berdiri disana seraya melihat-lihat adakah orang disana. Namun ia tidak mendapatkan seorang pun disana. Ia lakukan itu – berlari-lari antara bukit Shafa dan Marwah – sebanyak tujuh kali.

Setelah mendekati Marwah ia mendengar sebuah suara. Ia pun berkata, “Diam!” Maksudnya untuk dirinya sendiri. Kemudian ia berusaha mendengar lagi hingga ia pun mendengarnya.

“Engkau telah memperdengarkan. Adakah engkau dapat menolong?”

Tiba-tiba ia mendapati Malaikat di dekat sumber air Zamzam. Kemudian Malaikat itu menggali tanah dengan tumitnya sehingga muncullah air.

Selanjutnya Ibunda Ismail membendung air dengan tangannya dan menciduknya dan air bertambah deras.

Nabi Muhammad bersabda:

“Semoga Allah melimpahkan rahmat kepada Ibu Ismail, jika saja ia membiarkan Zamzam – atau Beliau berkata: ‘seandainya dia tidak menciduk airnya- niscaya Zamzam menjadi mata air yang mengalir.”

Kemudian ibunda Ismail minum dari air itu dan menyusui anaknya.

Ismail tumbuh menjadi besar dan belajar Bahasa Arab di kalangan Bani Jurhum. Hingga pada suatu hari, ayahnya, Nabi Ibrahim datang menjumpainya. Allah mengisahkannya di dalam Al-Qur’an:

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersamasama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu! (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ibrahim datang menjumpai anaknya untuk menyampaikan perintah Allah agar menyembelihnya. Bisakah kalian bayangkan teman-teman? Setelah menunggu bertahun-tahun, Nabi Ibrahim baru dikaruniai anak di usia tuanya. Lalu beliau diperintahkan untuk meninggalkan anak dan isterinya di suatu tempat asing yang jauh darinya dan tidak berpenghuni. Meskipun sangat besar kecintaan beliau kepada keluarganya, namun beliau seorang yang teguh dan taat terhadap perintah Allah. Tidak sedikitpun beliau bergeming, bahkan bersegera ketika Allah memerintahkannya.

Nabi Ismail pun menjawab:

Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (QS Ash-Shafaat [37] : 102)

Nabi Ismail meminta ayahnya untuk mengerjakan apa yang Allah perintahkan. Dan beliu berjanji kepada ayahnya akan menjadi seorang yang sabar dalam menjalani perintah itu. Sungguh mulia sifat Nabi Ismail. Allah memujinya di dalam Al-Qur’an:

Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quraan. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi.(QS Maryam [19] : 54)

Allah melanjutkan kisahnya di dalam Al-Qur’an:
Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).” (QS Ash-Shafaat [37] : 103)

Nabi Ibrahim lalu membaringkan anaknya di atas pelipisnya (pada bagian wajahnya) dan bersiap melakukan penyembelihan dan Ismail pun siap menaati perintah ayahnya.

Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS Ash-Shafaat [37] : 104:107)

Allah menguji Nabi Ibrahim dengan perintah untuk menyembelih anaknya tercinta, dan Nabi Ibrahim dan Ismail  pun menunjukkan keteguhan, ketaatan dan kesabaran mereka dalam menjalankan perintah itu. Lalu Allah menggantikan dengan sembelihan besar, yakni berupa domba jantan dari Surga, yang besar berwarna putih, bermata bagus, bertanduk serta diikat dengan rumput samurah. Wallahu a’lam.

Demikianlah sejarah Ibadah qurban dari Nabi Ibrahim dan Ismail yang kemudian menjadi ibadah sunnah yang utama bagi umat Islam di hari Raya

Baca juga: Qurban adalah Sunnah Muakkad untuk dilaksanakan

sumber: saidnazulfiqar.files.wordpress.com/2008/04/kisah-qurban-yang-menakjubkan.pdf

7 Pembuka Pintu Rejeki

7 Pembuka Pintu Rejeki
Salah satu ujian yang dirasakan berat oleh sebagian manusia adalah ujian berupa kekurangan harta. Banyak yang gagal dalam ujian ini, sehingga mereka terjerumus ke dalam kenistaan dengan melakukan hal tercela. Banyak juga yang mengelu ketika Allah membatasi rejekinya. Mereka seolah-olah lupa bahwa Allah merupakan Maha Pemberi Rejeki yang selalu melimpahkan rejeki kepada hambaNya. Seperti firman Allah dalam Qur’an Surah Hud

Allah berfirman “Dan tidaklah yang melata di muka bumi ini melainkan Allah-lah yang memberi rejekinya(Qur’an Surah Hud:6) 

Lalu apa yang harus dilakukan bila Allah menguji dengan membatasi rejeki? Berikut tujuh langkah yang harus dilakukan agar Allah kembali membukakan pintu rejeki.

1. Berusaha dan Bekerja

Sudah merupakan sunatullah sebagai seorang manusia yang ingin mendapatkan limpahan rejeki dari Allah harus berusaha dengan sebaik-baiknya. Seperti firman Allah dalam Surah Jumu’ah:

Allah telah berfirman “kalau telah ditunaikan sholat jum’at maka bertebaranlah di muka bumi dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya agar kalian bahagia(Qur’an Surah Jumu’ah:10)

2. Bertakwa

Allah sangat mencintai hambaNya yang bertakwa. Orang yang bertakwa tidak akan pernah merasa susah karena Allahlah yang menjadi pelindung dan juga penolongnya. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam Surah Ath Thalaq:

“……….Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. (Qur’an Surah Ath Thalaq: 2)

3. Tawakal

Sebagai seorang hamba tentu sifat tawakal sangat diperlukan sebagai bentuk penyerahan diri hamba kepada Allah. Imam Al Qurthubi dalam Al Jami’ Akhamul Qur’an mengatakan “barangsiapa menyerahkan urusannya kepada Allah niscaya Allah akan mencukupi apa yang dia inginkan”. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah Ath Thalaq

dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Dia akan mencukupi [keperluan] nya(Qur’an Surah Ath Thalaq:3)

4. Syukur

Rasa syukur merupakan sifat yang disukai oleh Allah. Hakikat dari syukur adalah mengakui nikmat yang diberikan Allah dan menggunakan nikmat tersebut untuk beribadah kepadaNya. Allah berfirman dalam surah Ibrahim:

Allah berfirman “kalau seandainya kalian bersyukur, sungguh Kami akan menambah untuk kalian [nikmatKu] dan jika kalian mengingkarinya, sesungguhnya adzabKu sangat keras (Qur’an Surah Ibrahim:7)

5. Sering Berinfaq

Jika seseorang ingin dilapangkan rejekinya, maka perbanyaklah berbagi seperti sedekah, infaq.

Allah yang Maha Memberi Rejeki berfirman “dan apa-apa yang kalian infaqkan dari sebagian harta kalian, maka Allah akan menggantinya(Qur’an Surah Saba:39)

6. Menyambung Tali Silahturahmi

Menyambung tali silahturahmi sangat di anjurkan oleh Nabi Muhamad Shallallahu Alaihi Wa Sallam seperti yang terdapat dalam hadisy Bukhari Muslim.

barangsiapa yang berkeinginan untuk dibentangkan rezeki baginya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah menyambung silahturahmi(Muttafaq Alaihi / Riwayat Bukhari dan Muslim)

7. Doa

Doa merupakan salah satu senjata seorang muslim untuk segala keperluan. Dengan berdoa Insya Allah seseorang akan mendapatkan apa yang diinginkan selama itu berupa hal kebaikan. Terkadang apa yang diberikan oleh Allah melebihi apa yang diminta oleh hambaNya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam menuntun kita agar berdoa ketika kita menghadapi kesulitan rejeki, “ya Allah aku meminta kepadaMu ilmu yang bermanfaat, rejeki yang baik, dan amalan yang diterima(Riwayat Ibnu Majah)