Sahabat Yatim

Perjuangan guru SD memberi makan anak jalanan di Kenya

kenya

Air limbah membanjiri gang. Sisi kanan dan kiri lorong sempit itu disesaki gedung-gedung yang sudah tua. Bau urin memenuhi udara.

Sembari kita berjalan sore hari itu, saya mulai melihat bayangan orang-orang di pinggir jalanan tersebut. “Odijo, odijo,” seru mereka.

Odijo artinya guru dalam bahasa pergaulan di Kenya. Nama itu mereka sematkan pada Clifford Oluoch, seorang guru sekolah dasar di Nairobi yang menghabiskan setiap sore hingga malam selama tiga bulan belakangan untuk memberi makan anak-anak jalanan.

“Saya sedang berjalan pulang suatu malam dan melihat anak-anak jalanan menawar harga sebuah bonggol jagung. Saya menawarkan untuk membelikan mereka masing-masing satu jagung, dan lebih banyak lagi anak-anak muncul. Pada akhirnya, saya membeli jagung untuk 25 orang,” katanya.

“Mereka bertanya apakah saya akan kembali lagi besok dan melakukan hal yang sama dan saya bilang, ‘Ya’. Saya memenuhi janji saya itu.”

Data akurat mengenai jumlah anak-anak tunawisma di Kenya sulit didapat.

Namun sebuah laporan Unicef dari tahun 2012 memperkirakan sebanyak 250.000 sampai 300.000 anak-anak menjadi tunawisma di Kenya. Sebagian besar dari mereka berada di kota-kota besar.

Kemudian, menurut lembaga amal asal Nairobi, Kenya Children of Hope, 63% anak-anak jalanan di sana telah hidup di jalanan selama lima tahun.

Image caption Clifford Oluoch, seorang guru sekolah dasar di Nairobi yang menghabiskan setiap sore hingga malam selama tiga bulan belakangan untuk memberi makan anak-anak jalanan.

Hirup lem

Di tengah kota, bau menyengat kotoran manusia yang meruap dekat tempat kita berdiri, bercampur dengan bau pekat lem. Bahan perekat itu populer di antara kalangan anak-anak tunawisma sebagai ‘narkoba’.

Banyak dari mereka membawa botol plastik kecil berisi lem. Sesekali mereka menghirupnya. Baunya tajam dan kuat. Saya menanyakan seorang bocah lelaki kenapa dia menggunakannya.

“Ini membuat saya merasa lebih hangat sehingga lebih mudah tidur di luar sini,” katanya sebelum mengendus botol plastiknya itu tiga kali.

Namanya bocah itu, Thomas. Umurnya 14 tahun dan dia sudah tinggal di jalanan selama empat tahun.

Thomas mengatakan dia telah melihat banyak orang yang membantu namun dia merasa “Odijo” itu berbeda.

Beberapa anak-anak di sana datang dari keluarga berantakan, beberapa lainnya minggat meninggalkan orang tua yang merupakan pecandu alkohol. Namun hidup di jalan tidak begitu mudah.

“Hidup di sini susah. Banyak terjadi hal-hal buruk, lelaki yang lebih muda dihajar yang lebih tua dan kami harus berkelahi untuk makanan,” kata seorang anak lelaki yang duduk dekat saya. Dia juga sedang mengendus lem dan matanya merah.

Namun mereka tertib dan menyambut saya sebagai tamu Odijo.

Mereka mengatakan dia seperti “nabi” atau penyelamat.

Image caption Roti yang dibagi-bagikan Olouch kadang merupakan makanan satu-satunya yang disantap anak-anak jalanan di Nairobi.

Siapkan makanan

Sebelumnya berangkat mengunjungi anak-anak jalanan, Oluoch, istrinya, Benedette, dan putri mereka yang berusia 13 tahun telah mengoleskan mentega ke 30 roti. Mereka menghabiskan biaya sekitar 2.000 shilling Kenya atau setara dengan Rp291.000 per hari untuk memberi makan anak-anak tunawisma tersebut.

Selama berbulan-bulan ia telah membagi gajinya antara kebutuhan rumah tangga dan membeli makanan untuk 60 anak-anak jalanan. Kini, Olouch mengaku mulai merasa terjepit.

Untungnya kabar mengenai perbuatan Oluoch perlahan-lahan mulai menyebar di antara tetangganya. Mulai bulan ini ia mendapat sumbangan roti.

Dia mengatakan dapat menggunakan uang jatah makanan untuk keperluan lain, seperti mengangkut orang ke rumah sakit atau membantu beberapa wanita tunawisma mendirikan kios-kios buah.

Namun tetap saja, proyek sebesar itu sulit dipertahankan dengan gaji seoang guru. Apalagi waktu yang dia habiskan jauh dari rumah setiap hari.

Jadi mengapa dia lakukan hal itu?

“Saya dan istri saya sangat percaya dalam membantu orang,” katanya.

Istri Oluoch menimpali. “Kami tahu rasanya tumbuh besar tanpa memiliki apa-apa. Kami tahu susahnya hidup tanpa memiliki siapa-siapa. Bila hal ini bisa membuat perubahan positif, maka itu akan sepadan,” kata Benedette.

Image caption Dengan gaji seorang guru sekolah dasar, Olouch menghabiskan biaya sekitar 2.000 shilling Kenya atau setara dengan Rp291.000 per hari untuk memberi makan anak-anak tunawisma tersebut.

 

Konseling

Sekarang hari sudah gelap. Oluoch membagi-bagikan bungkusan makanan dengan cepat. Dia harus ke lokasi berikutnya mengingat sejumlah menunggu santapan pertama dan satu-satunya mereka untuk hari itu.

Makanan yang dipersiapkan keluarganya dalam satu jam lenyap dalam waktu 10 menit.

Kadang-kadang, jamuan di jalanan itu diikuti sesi konseling.

“Banyak anak-anak ini telah dikecewakan berkali-kali dan itu membuat beberapa sulit untuk diajak bicara. Saya belajar mereka hanya butuh cinta – mereka ingin diperhatikan dan dipedulikan oleh seseorang,” kata Oluoch.

Anak-anak ini sangat percaya padanya. Oluoch mengatakan pada saya mereka membuatnya merasa seperti manusia super, seperti dia bisa menyelesaikan semua masalah mereka. Namun dia tentu saja tahu dia tidak bisa.

Dia memiliki rencana besar untuk membantu mereka keluar dari jalanan – tetapi tanpa ada orang lain untuk membantu, angan-angan itu masih jauh.

Kami naik mobil sebentar. Sekelompok ibu-ibu duduk berkerumun di bawah lampu jalan dekat pusat perbelanjaan di daerah Westlands.

Tempat itu sangat sibuk dengan bermacam-macam restoran cepat saji. Baunya seperti bawang putih dan kari hangat.

Sembari Oluoch berjalan ke arah mereka, segerombolan anak-anak kecil berusia tidak lebih dari tiga tahun berlari ke arahnya, menarik-narik kantong plastik yang dibawanya. Kegilaan makan akan dimulai lagi.

“Ini bukan tempat yang baik untuk anak-anak. Saya berharap membawa mereka keluar dari sini selagi bisa,” katanya.

Salah satu perempuan di sana mengatakan pada saya dia telah hidup di jalanan selama tujuh tahun dan tidak memiliki keterampilan apapun.

Putranya, Wesley yang berumur satu tahun, sedang pilek jadi kita berjalan ke apotik, tempat Oluoch membelikannya obat-obatan.

Perbedaan antara si wanita dan bayinya dengan pakaian kumal dan pelayan apotik dengan jas putihnya sangat mencolok.

”Mereka tahu saya tidak memberikannya uang. Saya tidak mendukung orang lain memberikan uang juga tapi bila saya dapat membantu membelikan barang-barang seperti obat, saya akan melakukannya,” jelas Oluoch sambil kita berjalan keluar.

Image caption Terkadang uang yang dimiliki Olouch dibelanjakan untuk membelikan obat bagi anak tunawisma.

Gaya hidup

Semakin lama Oluoch menghabiskan waktu bersama anak-anak jalanan, semakin dia paham bahwa hidup di jalanan membuat orang ketagihan.

Sebagian anak bahkan tidak bisa atau tidak mau meninggalkan kehidupan itu. Hanya gaya hidup itu yang mereka ketahui. Bahkan ada yang menjual pakaian yang diberikan untuk membeli narkoba atau alkohol.

Tetapi beberapa – meskipun hanya sedikit – masih memimpikan kehidupan yang berbeda.

“Saya meninggalkan sekolah setelah ayah saya meninggal dan ibu saya tidak mampu menyekolahi saya, jadi saya pikir lebih mudah untuk keluar saja dan mengurus diri sendiri,” kata Neville yang berusia 13 tahun.

Dia menambahkan ingin menjadi reporter.

“Saya ingin kembali ke sekolah satu hari. Saya berharap Odijo dapat membantu dengan itu. Saya tidak mau tinggal di sini selamanya.”

Mendengar itu mengisi Clifford dengan harapan dan dorongan untuk terus maju.

“Bila saya dapat menyelamatkan hanya satu orang, satu anak saja, akan cukup bagi saya,” katanya.

Jadi dia terus datang kembali, malam demi malam membawa tidak lebih dari roti diolesi mentega dan hati yang penuh cinta – dan anak-anak jalanan sangat berterima kasih.

 

Exit mobile version