Sahabat Yatim

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Sejarah singkat penanggalan Hijriyah

Tahun baru Hijriyah tahun ini bisa disebut istimewa karena angkanya, yaitu 1440. Tahun baru Hijriyah akan jatuh pada hari Selasa Wage, 11 September 2018. Perhitungannya: ijtimak atau konjungsi Matahari dan Bulan terjadi pada Senin (10/9) pukul 01:44:16 dini hari.

Diperkirakan tinggi hilal (bulan muda) pada saat Matahari terbenam Senin itu sudah mencapai 8 derajat, 7 menit, 52 detik. Artinya, usia bulan telah mencapai 16 jam, 15 menit, 44 detik.

Karena ketinggian hilal mencapai 8 derajat lebih maka dipastikan keesokan harinya, atau Selasa 11 September, menjadi bulan baru Hijriyah. Kebetulan bulan baru itu adalah Muharram sehingga masuk tahun baru Hijriyah.

Penetapan bulan Hijriyah mengikuti perjalanan bulan atau Qamariyah yang kadang bisa berjalan 30 hari dan 29 hari.

Assyahru hakadza wa hakadza,” sabda Rasulullah sambil memeragakan jarinya. Artinya, bulan Hijriyah itu bisa 29 hari atau 30 hari, tergantung perjalanan Bulan. Pada kasus Muharram tahun ini ini, bulan Zulhijjah berlangsung 29 hari.

Perbedaan kalender Masehi dan Hijri bisa mencapai 11 hari lebih. Jumlah hari Hijriyah adalah 354 hari lebih sedangkan tahun Masehi 365 hari. Jika kalender Matahari dimulai tengah malam, pukul 00.00, sementara kalender Hijri dimulai sejak waktu ghurub (terbenam Matahari atau maghrib). Maka ketika terbenam Matahari berarti masuk tanggal baru.

Penetapan tahun Hijriyah dilakukan Khalifah Umar bin Khattab tahun 17 Hijriyah atau tahun 639. Ketika itu Abu Musa Al-Asy’ari menerima surat dari Khalifah Umar yang tertera bulan Syakban.

Tapi, Syakban kapan? Syakban tahun ini atau tahun sebelumnya. Maka, kemudian ia mengusulkan kepada Khalifah Umar untuk menetapkan tahun kalender Islam.

Khalifah Umar kemudian mengumpulkan sejumlah sahabat besar antara lain Sayidina Utsman dan Sayidina Ali. Maka muncul masukan antara lain dihitung sejak kelahiran nabi, atau sejak wahyu turun, wafat Rasulullah dan hijrah Rasulullah.

Akhirnya ditetapkan hijrah Rasulullah sebagai lambang tegaknya syariat Islam. Hal itu terjadi pada 16 Rabiul Awal tahun 16 Hijriyah, setelah 30 bulan pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab. Tahun baru pertama Islam terjadi pada 1 Muharram 17 Hijriyah.

Peristiwa hijrah Rasulullah

Dalam catatan sejarawan Ibnu Ishaq yang dikutip Syaikh Mubarakfuri dalam Arrahiq Al-Mahtum, Rasulullah bersama Abu Bakar melakukan Hijrah pada Kamis malam (malam Jumat) tanggal 27 Safar tahun 14 Kenabian (Bi’tsah).

Dari Mekkah langsung bersembunyi di Goa Tsaur menghindari kejaran kaum Quraish. Selama tiga hari dalam gua hingga hari Senin, 1 Rabiul Awal atau 16 September 622, baru melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Tiba di kota Quba (pinggiran Madinah) disambut ribuan warga pada 8 Rabiul Awal tahun 14 Kenabian atau 23 September 622. Rasulullah mendirikan masjid yang kemudian dikenal dengan nama Masjid Quba.

Masjid ini memiliki kelebihan. Dalam hadis disebutkan, barangsiapa salat dua rakaat di masjid ini pahalanya sama dengan umrah. Rasululah memiliki jadwal waktu khusus di Quba.

Memasuki kota Madinah pada tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan tangal 23 atau 24 September 622. Jika dihitung berdasarkan waktu kerasulan adalah tahun ke 14.

Tahun baru Hijriyah yang jatuh pada bulan September tahun ini mengingatkan kembali peristiwa hijrah Rasululah yang juga bertepatan dengan bulan September tahun 622 atau 12 Rabiul Awal tahun 1 Hijriyah.

Selama ini banyak orang salah mengira bahwa hijrah Rasulullah terjadi pada bulan Muharram. Padahal, hijrah Rasululah memiliki waktu sendiri yaitu Rabiul Awal, sementara bulan Muharram adalah nama bulan pertama tahun Hijriyah.

Bulan Hijriah dimulai bulan Muharram. Orang Jawa menyebutnya dengan Sura karena dalam bulan ini ada hari Asyura atau 10 Muharram. Kemudian Safar (Sapar), Rabiul Awal (Mulud dalam istilah Jawa karena bersamaan dengan kelahiran atau mulud Nabi Muhamad), Rabiul Akhir (bakda Mulud), Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban (Ruwah), dan Ramadhan (Poso).

Adalah Sultan Agung yang menetapkan bulan Hijrah sebagai bulan Jawa. Sultan Agung Adi Prabu Hanyokrokusumo (1593-1645) adalah sultan ketiga Kesultanan Mataram yang memerintah pada tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Nusantara.

Ia pula yang memasukkan unsur pasaran hari (Legi, Kliwon, Wage, Pon dan Pahing) dalam kalendernya. Tahun baru Jawa (Caka) memasuki tahun 1952.

 

Exit mobile version