Awal tahun 2026 menjadi momen penuh haru di pengungsian Kabupaten Aceh Tamiang. Di tengah deretan tenda yang berdiri sebagai saksi ujian panjang, Sahabat Yatim menghadirkan Program Tebar Gizi sebagai wujud nyata kepedulian untuk para penyintas, khususnya anak-anak yatim dan keluarga terdampak.
Pada 14 Februari 2026, angin sore berhembus lembut ketika sekitar 100 penerima manfaat berkumpul di halaman pengungsian. Sebuah tikar panjang digelar. Anak-anak duduk melingkar dengan wajah penuh rasa ingin tahu. Di tengah mereka, Kak Ardi hadir membawa buku cerita dan senyum hangat. Dongeng tentang seekor burung kecil yang kehilangan sarangnya karena badai menjadi penguat hati. Pesan tentang harapan, keteguhan, dan keyakinan bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan, menyentuh relung jiwa anak-anak yang sedang diuji.
Usai dongeng, momen yang ditunggu pun tiba. Relawan Sahabat Yatim membagikan kotak makanan hangat. Aroma nasi, lauk sederhana, dan sayur hangat menyatu dengan udara senja. Tangan-tangan kecil menengadah, doa-doa lirih terucap penuh syukur. Di tengah keterbatasan, kebersamaan terasa begitu berharga.
Keesokan harinya, 15 Februari 2026, Program Makan Berkah kembali disalurkan. Bantuan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi harian anak-anak, lansia, dan keluarga yang masih bertahan di pengungsian maupun rumah terdampak. Penyaluran dilakukan langsung dengan memperhatikan kondisi lapangan, memastikan bantuan tepat sasaran.
Warga menyambut kehadiran relawan dengan haru. Bukan hanya makanan yang dibawa, tetapi juga dukungan moral dan semangat untuk terus kuat menghadapi musibah.
Melalui Program Tebar Gizi di Aceh Tamiang ini, Sahabat Yatim berkomitmen menjadi jembatan kebaikan antara donatur dan masyarakat yang membutuhkan. Semoga setiap hidangan yang tersalurkan menjadi keberkahan bagi penerima dan pahala yang terus mengalir bagi para dermawan.

